Presiden Joko Widodo didampingi Muhtasyar Nahdlatul Ulama (NU) KH Maruf Amin (kiri) Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar (kedua kanan) dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (kedua kiri) berdoa bersama pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferens | ANTARA FOTO
07 Oct 2021, 03:45 WIB

PBNU Izin Gelar Muktamar ke Jokowi

KH Said Aqil mengatakan siap mencalonkan diri kembali di muktamar NU.

JAKARTA -- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj menemui Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (6/10). Kiai Said menuturkan, dalam pertemuan tersebut ia meminta dukungan Presiden untuk penyelenggaraan Muktamar NU pada 23-25 Desember 2021.

“Yang kita bicarakan pertama melaporkan hasil Munas-Konbes NU tanggal 25-26 kemarin di Hotel Sahid bahwa kita NU akan melaksanakan muktamar pada Desember 2021 tanggal 23-25,” kata Kiai Said seusai pertemuan di Kompleks Istana Presiden, Jakarta.

Menurut dia, Presiden sempat mempertanyakan penyelenggaraan muktamar di tengah pandemi Covid-19 saat ini. “Presiden pun agak tanda tanya, apakah sudah mungkin melihat situasi Covid-19 seperti ini, apalagi di Lampung," ujar dia.

Lampung, lokasi muktamar nanti, adalah daerah dengan cakupan vaksinasi paling rendah di Indonesia. Namun, Kiai Said menegaskan, penyelenggaraan muktamar ini akan dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan dan mendapatkan izin dari Satgas Covid-19 tingkat nasional ataupun daerah.

Terkait

Soal kehadiran Presiden dalam muktamar itu, Kiai Said mengaku masih belum membahasnya. “Belum dibicarakan karena ini ada kemungkinan hybrid, tidak mungkin daring 100 persen,” kata dia. 

Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2021 telah memutuskan Muktamar ke-14 NU akan digelar di Lampung pada 23-25 Desember 2021. Munas akan digelar dengan protokol kesehatan ketat setelah mendapat persetujuan Satgas Covid-19.  

photo
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (tengah). - (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Pemilihan ketua umum PBNU dalam Muktamar ke-34 NU nantinya akan dilakukan melalui pemungutan suara alias satu suara untuk setiap peserta muktamar. Kandidat ketua umum yang sudah menonjol, di antaranya pejawat KH Said Aqil Siroj dan KH Yahya Cholil Staquf. Selain itu, beredar juga nama KH Marsyudi Syuhud, A Muhaimin Iskandar, dan KH Masyhuri Malik. 

Terkait kandidat ketua umum PB NU, Kiai Said mengeklaim menerima sejumlah masukan untuk kembali mencalonkan diri. Ia juga menegaskan kesiapannya untuk kembali maju sebagai ketua PBNU. Kiai Said sudah dua kali menjabat sebagai ketua PBNU, yaitu periode 2010-2015 dan 2015 hingga saat ini. 

"Kalau banyak permintaan, ya saya siap dong, kader harus siap kalau banyak permintaan. Walaupun sampai saat ini saya belum menyampaikan secara resmi, tetapi permintaan sudah sangat banyak," ujar dia. 

Kiai Said sudah mendapat dukungan dari sejumlah pihak untuk kembali maju dalam pemilihan. "Beberapa kiai sepuh, antara lain, Kiai Tuan Guru Turmuzi di Lombok, Kiai Hasan di Cirebon, Kiai Muhtadi di Banten meminta saya agar maju lagi, para kiai sepuh dan beberapa teman,” kata dia. 

Meski begitu, ia mengeklaim tak membicarakan soal pencalonan itu dengan Presiden “Nggak nyinggung.… Saya belum bicara pencalonan, dengan Presiden hanya masalah penyelenggaraan muktamar sukses berhasil mohon dukungan. Bukan dukungan calon, dukungan muktamar agar lancar,” ujarnya. 

Dalam kunjungan kemarin, Kiai Said juga melontarkan sejumlah pujian untuk Presiden Jokowi. "Saya katakan, Bapak ini Presiden infrastruktur. Pak Jokowi ini Bapak Infrastruktur, yang kita semua nikmati keberhasilan pembangunan infrastruktur, bukan hanya di Jawa atau Indonesia barat, tapi juga Indonesia tengah dan timur," ujar Kiai Said. 

Ia menyampaikan apresiasi PBNU atas sejumlah kesuksesan pemerintahan Joko Widodo. Di antaranya kesuksesan program vaksinasi, termasuk komitmen pemerintah melaksanakan vaksinasi di kalangan pesantren dan para kiai. 

Indonesia saat ini termasuk negara di dunia yang sukses dalam vaksinasi dan mampu mengendalikan penularan Covid-19. Dia mengapresiasi keberhasilan pemerintah menanggulangi radikalisme dan terorisme, seperti pembubaran organisasi HTI dan FPI. KH Said juga mengapresiasi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua yang sejauh ini berlangsung aman dan damai. 

Mendunia

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, KH Syamsul Maarif, berharap ketua umum PBNU yang terpilih lewat muktamar nanti memiliki visi mendunia. Dengan begitu, ketua umum terpilih nanti bisa membawa NU ke level internasional.

Kiai Syamsul mengatakan, dalam agenda muktamar yang biasa disorot adalah pemilihan jajaran syuriyah dan tanfidziyah. Syuriyah dalam hal ini rais aam, dan tanfidziyah adalah ketua umum PBNU. "Saya berharap ketua umum (PBNU) ke depan punya visi yang mendunia, membawa NU ke level internasional," kata Kiai Syamsul kepada Republika, Rabu (6/10).

Ia juga berharap ketua umum PBNU yang terpilih bisa menata organisasi sampai ke bawah. Artinya, konsolidasi ke bawah diurus secara baik. Hal ini supaya bisa menggerakkan kepengurusan organisasi di level provinsi sampai ke cabang.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by NAHDLATUL ULAMA CHANNEL-PBNU (nu.channels)

Dengan konsolidasi ke bawah bisa diurus secara baik, menurut dia, NU bisa betul-betul bisa berkhidmat secara maksimal. Terutama di wilayah yang anggota NU-nya masih kurang, misalnya di luar Pulau Jawa. "Peran NU di luar Jawa itu perlu mendapat perhatian," ujarnya.

Kiai Syamsul juga berharap muktamar yang akan datang menjadi berkualitas dan bermartabat. Artinya, muktamar tidak semata-mata memilih ketua umum atau rais aam, tetapi muktamar yang akan datang itu bisa mengantarkan pesan-pesan NU agar lebih berperan di level nasional, bahkan Internasional.

"Itu harapan kami sehingga peran-peran NU di masyarakat itu kelihatan dalam program, dalam rekomendasi, putusan-putusan di muktamar ke depan," ujarnya menjelaskan.

Kiai Syamsul mengatakan, peran-peran NU di level internasional memang sudah ada, hanya saja perlu ditingkatkan lagi. Kalau bisa, NU menjembatani negara-negara Arab yang sedang berkonflik. Di situ, NU bisa mengambil peran penting sebagai ormas keagamaan terbesar di dunia. "Saya berharap komunikasi PBNU ke depan untuk perdamaian dunia, misalnya lewat Kementerian Luar Negeri, harus ditingkatkan," kata Kiai Syamsul.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (PWNU NTB), Prof TGH Masnun Tahir, berharap Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 23-25 Desember 2021 berjalan lancar dan kondusif. 

Muktamar diharapkan mengedepankan regulasi dan aturan-aturan organisasi. "Muktamar diharapkan tetap berjalan sesuai dengan hasil munas dan konbes kemarin. Semoga berjalan sesuai dengan harapan jamaah nahdliyin dan berjalan lancar," kata Prof TGH Masnun kepada Republika, Selasa (5/10).

photo
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo (tengah) menerima plakat dari Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas (kiri) disaksikan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (kanan) saat acara dialog dengan GP Ansor di Jakarta, (29/10). Dialog tersebut membahas tentang memelihara peradaban aspirasi islam sebagai rahmatan lil alamin antara Indonesia dan Amerika Serikat - (Republika/Thoudy Badai)

Sosok Visioner

Pengamat politik senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro menilai, ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) membutuhkan sosok ketua umum (ketum) yang visioner dalam merespons perubahan zaman. Ini dia sampaikan mengingat Desember mendatang akan digelar Muktamar NU yang diikuti pemilihan ketua umum baru.

Siti menjelaskan, dunia dihadapkan pada satu perubahan yang luar biasa dan tentu akan berpengaruh pada NU. Karena sebagai ormas Islam yang besar, NU harus melakukan suatu perubahan untuk merespons peralihan zaman. 

Misalnya tentang era disrupsi, era new normal, industri 4.0, dan masyarakat 5.0. "Supaya tidak tertinggal dan NU tetap bisa menjadi wadah besar bagi warga NU, yang nantinya bisa mengikuti ritme perubahan secara signifikan dan fundamental karena saat ini eranya digital," tuturnya kepada Republika, Rabu (6/10).

Menurut Siti, sosok tersebut, selain harus memenuhi aspek filosofis di internal NU, juga disesuaikan dengan konteks sekarang ini. "Istilahnya sekarang ini membangun SDM unggul. NU membangun massa yang berkualitas. Maka sosok yang dibutuhkan harus visioner dalam melakukan kerja-kerja mengimplementasikan visi dan misinya demi kemaslahatan umat, termasuk meningkatkan kualitas SDM NU," ujarnya.

Untuk itu, Siti mengatakan, perlu dilakukan peningkatan pada pendidikan dan karakter dengan cara yang sebetulnya harus kekinian. Sehingga diperlukan landasan budaya digital yang kuat dan rasional. "Jadi tidak bisa dengan cara-cara jadul supaya tidak menjadi masyarakat yang tradisional banget. Sedangkan konteks menyaratkan adanya perubahan," ucapnya.

photo
Pengurus Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama Jakarta Selatan menyiapkan makanan untuk diberikan kepada warga di Posko Peduli Isoman Covid-19, Cipedak, Jakarta, Jumat (30/7). PC Fatayat NU Jakarta Selatan menyediakan 100 makanan siap saji setiap harinya untuk membantu warga yang sedang menjalani isolasi mandiri. - (Republika/Putra M. Akbar)

Dia mengatakan, tentu akan baik sekali jika ormas besar sekelas NU bisa menghadirkan pemimpin-pemimpin muda yang berusia awal kepala empat atau kepala tiga akhir. "Jadi menghadirkan kebaruan supaya mindset-nya tidak analog dan dibawa ke digital culture untuk bagaimana memajukan wadah NU itu," kata dia.

Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Masdar Hilmy mengatakan, tantangan Indonesia dan NU ke depan semakin berat di tengah merebaknya berbagai ideologi radikal yang secara masif masuk ke generasi pemuda Islam, baik di tingkat nasional maupun dunia.

“Sudah saatnya NU melakukan eksportasi model keberagamaan wasathiyah ke belahan dunia Muslim lainnya untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin,” kata Masdar, Rabu (6/10).

Masdar berpendapat, NU adalah tulang punggung negara. Peran besar itu harus tetap dijaga dengan cara mengelola sumber daya yang ada dengan baik dan melakukan proses regenerasi berkualitas secara berkesinambungan. Doktor lulusan the University of Melbourne Australia itu mengingatkan, kader NU bukan hanya yang  mampu menguasai tradisi pesantren yang sangat terjaga sanad keilmuannya.

Banyak juga kader yang merupakan lulusan berbagai perguruan tinggi bergengsi di dalam ataupun luar negeri. SDM yang melimpah tersebut, menurut Masdar, harus bisa dimanfaatkan NU untuk menjadi kekuatan besar.

Sumber : Antara


×