Para pengunjung melihat patung yang menggambarkan kekejaman PKI yang beraksi dalam geger Madiun 1948. Monumen di Kresek ini menjadi pengingat akan peristiwa historis yang kelam itu. | DOK ANTARA Siswowidodo
03 Oct 2021, 03:44 WIB

Pemberontakan PKI 1948

Banyak ulama dan santri yang menjadi korban jiwa akibat keganasan komunis.

OLEH HASANUL RIZQA

Keheningan Madiun, Jawa Timur, terkoyak oleh suara tiga kali letusan pistol. Itulah isyarat bagi simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) setempat untuk bergerak. Pada Sabtu dini hari pukul 03.00 WIB, tanggal 18 September 1948, dimulailah pemberontakan kaum komunis tersebut.

Pemimpin mereka, Muso Manowar, memproklamasikan berdirinya “Negara Republik Soviet Indonesia". Inilah kudeta sekaligus separatisme terang-terangan pertama terhadap RI yang baru tiga tahun merdeka. Padahal, saat itu bangsa Indonesia sedang berjuang menghadapi Belanda yang ingin menjajah kembali Tanah Air.

Bagaikan kerumunan laron, ribuan orang pendukung PKI maupun Front Demokrasi Rakyat (FDR) turun ke jalan-jalan. Dari pelbagai arah, mereka datang dengan membawa senapan, kelewang, arit, pentungan, dan berbagai senjata lainnya.

Terkait

Massa ini menyerbut berbagai tempat strategis, seperti kantor pemerintah kabupaten/kecamatan/kelurahan, kantor kejaksaan, dan bahkan markas polisi, markas distrik militer, serta depo militer. Tidak hanya di Madiun, pergerakan mereka meliputi daerah-daerah lain. Di antaranya adalah, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Sukoharjo, Wonogiri, Blora, Pati, Cepu, dan Kudus.

Dalam waktu relatif singkat, laskar merah berhasil menduduki semua kabupaten/kota tersebut. Mereka lantas melakukan aksi berikutnya, yakni pembunuhan massal. Semua tokoh masyarakat yang dicap anti-komunis ditangkapinya.

Sasarannya adalah para bupati, patih, wedana, kepala kepolisian, jaksa, guru, dan pemuka organisasi masyarakat beserta bawahannya. Mereka juga menyasar kalangan kiai, ustaz, dan santri.

Lubang-lubang eksekusi disiapkan. Semua tersebar pada banyak titik, khususnya di area Madiun, Magetan, dan sekitarnya. Para korban yang telah disekap lalu digiring. Satu per satu mereka dijagal oleh anggota FDR/PKI.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Sebagian rakyat Jawa Tengah sempat melawan meskipun kekuatan FDR/PKI lebih terorganisasi. Perjuangan dilakukan pula oleh elemen umat Islam hingga titik darah penghabisan. Organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII), misalnya, membentuk Brigade PII untuk membendung kaum komunis. Pemimpin brigade ini, seorang siswa madrasah aliyah, gugur bersama dengan delapan orang rekannya.

Maksum, Agus Sunyoto, dan A Zainuddin dalam Lubang-lubang Pembantaian: Petualangan PKI di Madiun (1990) menuturkan, dalam tempo beberapa hari sejak 18 September 1948 Magetan jatuh seluruhnya ke tangan FDR/PKI. Menurut mereka, peristiwa ini memang dikenal sebagai Pemberontakan Madiun (Madiun Affair) di kemudian hari. Namun, sebenarnya masyarakat di Kabupaten Magetan-lah yang menerima dampak paling besar dari ulah kaum komunis ini.

Kengerian di Takeran

Gerak cepat para pendukung PKI/FDR melumpuhkan sistem administrasi di wilayah Takeran, Magetan, Jawa Timur. Kaum komunis tidak hanya menarget tokoh-tokoh pemerintahan setempat, tetapi juga pesantren. Salah satu lembaga yang diincarnya ialah Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) yang dipimpin seorang ulama muda, Kiai Imam Mursyid Muttaqien—usianya kala itu 28 tahun.

Seperti dinukil dari Lubang-lubang Pembantaian, kekejian PKI/FDR terhadap kiai dan santri PSM dimulai satu hari usai proklamasi “Republik Soviet Indonesia". Menurut kesaksian Muhammad Kamil (62 tahun—saat buku itu disusun), Kiai Hamzah dan Kiai Nurun meminta izin kepada Kiai Mursyid Muttaqien untuk mengajar di Pesantren Burikan, salah satu cabang PSM di Desa Banjarejo, pada Jumat, 17 September 1948. Walaupun mengizinkan, keduanya diminta berhati-hati karena pengasuh PSM itu memiliki firasat buruk tentang apa yang akan menimpa mereka.

Benar saja, pada Sabtu, 18 September, Pesantren Burikan diserbu FDR/PKI. Para santri dan ulama di sana, termasuk Kiai Hamzah dan Kiai Nurun, digiring laskar merah ke Desa Batokan, sekira 500 meter dari pondok tersebut. Di sanalah, mereka dibantai. Jasad-jasadnya dimasukkan ke dalam lubang galian.

Kiai Mursyid Muttaqien pun termasuk dalam daftar incaran FDR/PKI. Sesudah shalat Jumat, kompleks PSM dikepung segerombolan orang berpakaian serba hitam dan berikat kepala merah. Semuanya menenteng senjata. Seorang perwakilan komunis meminta kiai muda itu untuk ikut dengannya. “Jika Kiai Imam Mursyid Muttaqien tidak mau menyerah … maka pesantren akan dibumihanguskan,” kenang Iskan, seorang saksi mata.

 
Jika Kiai Imam Mursyid Muttaqien tidak mau menyerah … maka pesantren akan dibumihanguskan.
 
 

 

Sesudah Kiai M Muttaqien dibawa dengan mobil, orang-orang FDR/PKI masih saja bertahan. Mereka lalu meminta sejumlah tokoh PSM lainnya untuk ikut. Tercatat, sejumlah guru agama ditawan kaum komunis. Di antaranya adalah Ustaz Ahmad Baidawi, Muhammad Maijo, Rofii Ciptomartono, Kadimin, Reksosiswoyo, Husein, Hartono, dan Hadi Addaba’.

Yang terakhir itu adalah seorang ustaz yang didatangkan PSM dari al-Azhar, Kairo, Mesir. Tidak ada satu pun dari mereka yang kembali dengan selamat. Sebagian besar ditemukan dalam keadaan mengenaskan dan tak bernyawa di sumur-sumur pembantaian FDR/PKI. Namun, jenazah Kiai M Muttaqien tak kunjung ditemukan.

PSM adalah satu dari sekian banyak target laskar-laskar merah dalam Pemberontakan PKI 1948. Korban kekejaman komunis juga terdapat di beberapa daerah, seperti Desa Soco, Cigrok, dan Gorang Gareng. Mayoritasnya adalah umat Islam.

photo
Monumen Keganasan PKI atau Monumen Kresek merupakan monumen dengan relief dan patung yang menggambarkan keganasan PKI di Madiun pada tahun 1948. - (DOK ANTARA Fikri Yusuf )

Di Soco, Kecamatan Bendo, Magetan, sedikitnya 108 jenazah ditemukan di sumur pembantaian FDR/PKI. Sebanyak 78 orang di antaranya dapat dikenali, sedangkan sisanya tidak dikenal. Bertahun-tahun kemudian, dibangunlah monumen di atas sumur tersebut untuk mengenang para korban.

Di antara nama-nama yang terpacak pada tugu itu, ialah pimpinan Pondok Pesantren ath-Thohirin Mojopurno Magetan, KH Sulaiman Zuhdi. Ada pula jaksa R Moerti, Kiai Muhammad Suhud, Kapten Sumarno dan beberapa pejabat pemerintah lainnya.

Selain Monumen Soca, terdapat tugu serupa di Rejosari, Kawedanan, Magetan. Terpatri di sana, sebanyak 26 nama korban keganasan FDR/PKI. Satu nama ulama yang ada pada monumen itu ialah KH Imam Shofwan, pengasuh Pesantren Thoriqussu'ada Rejosari, Madiun.

 
Ketika dimasukkan ke dalam sumur, Kiai Shofwan masih sempat mengumandangkan azan.
 
 

 

Kiai Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali. Ketika dimasukkan ke dalam sumur, Kiai Shofwan masih sempat mengumandangkan azan. Dua putranya, yakni Kiai Zubeir dan Kiai Bawani, juga menjadi korban. Keduanya dikubur hidup-hidup secara bersama-sama.

Desa Kresek, Wungu, Madiun, juga menjadi saksi kebengisan para pemberontak. Berdasarkan data yang didapat, ada 17 orang yang jasadnya ditemukan dalam sumur desa tersebut. Sumur inilah yang menjadi lokasi bagi para simpatisan FDR/PKI untuk membantai korban-korbannya.

Buku Lubang-lubang Pembantaian mengutip kesaksian seorang korban yang selamat dari pembantaian, Rono Kromo (89 tahun, saat buku itu disusun). Rono ikut membantu mengangkat jenazah para korban di loji pabrik gula, Rejosari, Gorang Gareng—10 km arah timur Magetan.

“Waktu saya masuk ruangan (loji), kaki saya terasa …nyess… ketika menginjak darah di lantai,” katanya. Menurutnya, cairan darah di sana mencapai setinggi mata kaki.

Buku yang sama juga merangkum kesaksian dari KH Sulaiman Zuhdi, ulama Pesantren Mojopurno, Magetan. Ia mengaku sempat menyusupkan seorang koleganya untuk mengikuti rapat FDR/PKI di Madiun sepekan sebelum pecah Pemberontakan 1948.

Dari mata-matanya itu, diketahui bahwa orang-orang komunis memang merencanakan penyerbuan besar-besaran di Madiun dan sekitarnya. Seorang simpatisan FDR/PKI akan diganjar hadiah Rp 1.000 tiap berhasil membunuh seorang anggota Masyumi.

 
Seorang simpatisan FDR/PKI akan diganjar hadiah Rp 1.000 tiap berhasil membunuh seorang anggota Masyumi.
 
 

“Kalau yang dibunuhnya seorang kiai, maka bayarannya Rp 20 ribu,” katanya menirukan keterangan kawannya itu. Tentu saja, nilai rupiah dahulu dan kini—tahun 2021—tidak bisa disamakan.

Penulis tidak menemukan data pasti tentang jumlah korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa Pemberontakan PKI 1948. Barangkali, totalnya mencapai seratusan atau ratusan orang. Yang jelas, masyarakat Madiun dan sekitarnya saat itu sangat menderita.

Tidak sekadar menyiksa dan membunuh, FDR/PKI pun menyebarkan ketakutan. Di kawasan Pati saat itu, misalnya, para simpatisan komunis ini menancapkan tiga mayat warga desa setempat di tengah sawah. Pasak bambu tembus dari (maaf) lubang dubur, perut, hingga mulut mereka. Di desa dekat Wirosari, puluhan mayat diperlakukan demikian.

Taktik bumi-hangus juga dilancarkan para pemberontak. Sebagai contoh, kejadian yang menimpa masyarakat Kampung Kauman, Madiun. Pada 20 September 1948, segerombolan PKI/FDR dengan menggunakan truk mendatangi permukiman itu. Mereka menuduh salah seorang penduduk setempat telah membunuh satu anggota PKI.

Merasa tak pernah membunuh seorang pun, warga Kauman tetap bergeming. Tidak ada yang mengakui atau membenarkan tuduhan kaum komunis itu. Orang-orang FDR/PKI ini lantas mengancam akan membumihanguskan desa tersebut. Kira-kira tiga hari kemudian, para perusuh ini datang lagi dengan jumlah yang lebih banyak.

Seperti kerumunan laron, mereka menyerbut Kauman. Rumah-rumah dibakar sehingga seluruh penghuni keluar. Sebanyak 149 orang laki-laki warga setempat ditangkap, lalu digiring ke Maospati. Para tawanan ini hendak dibawa ke loji pabrik gula, kawasan Glodok. Beruntung, sebelum sempat dibantai, rombongan FDR/PKI yang menawan mereka diadang TNI Divisi Siliwangi.

photo
Monumen yang menunjukkan sebagian dari puluhan korban keganasan PKI di Madiun dan sekitarnya tahun 1948. - (DOK WIKIPEDIA)

Kegagalan dan Penumpasan

Dalam tempo kurang dari tiga bulan, Pemberontakan PKI 1948 di Madiun dan sekitarnya dapat dipadamkan sama sekali. TNI mengerahkan pasukan dengan efektif sehingga dapat menguasai keadaan. Bahkan, pengaruh PKI maupun Front Demokrasi Rakyat (FDR) di daerah-daerah itu bisa dikatakan sudah melemah sejak hari kedua kudeta.

Pada 19 September 1948, Presiden Sukarno berpidato dan disiarkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta. Rakyat yang mendengarnya sangat terkejut.

Sebab, PKI nyata-nyata telah menusuk RI dari belakang. Ketika seluruh bangsa Indonesia sedang berjuang melawan Belanda, kaum komunis justru membuat kekacauan. Muso dan kawan-kawan berupaya merebut kekuasaan dari pemerintah yang sah.

photo
Muso Manowar (kiri) dan Amir Sjarifuddin (kanan). Keduanya merupakan tokoh-tokoh kunci dalam Geger PKI 1948. - (DOK WIKIPEDIA)

“Saudara-saudara,” seru Bung Karno dalam pidatonya, “camkan benar-benar apa artinya itu: Negara Republik Indonesia yang kita cintai hendak direbut oleh PKI Muso. Rakyatku yang tercinta, atas nama perjuangan untuk Indonesia Merdeka, aku berseru padamu pada saat yang begini genting … ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia Merdeka, (atau) ikut Sukarno-Hatta yang, insya Allah dengan bantuan Tuhan, akan memimpin Negara Republik Indonesia kita ke Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negeri apa pun juga!”

Beberapa hari kemudian, batalion Divisi Siliwangi bergerak dari Yogyakarta ke Madiun untuk memulihkan keamanan. Panglima Besar Jenderal Sudirman juga memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk menjalankan operasi penumpasan PKI. Dalam hal ini, tentara dibantu para santri.

 
Persembunyian Muso bisa terdeteksi. Gembong komunis yang menghendaki Indonesia tunduk di bawah Uni Soviet ini tewas tertembak di dekat sebuah toilet umum, kawasan Madiun.
 
 

Dalam hitungan pekan, kekuatan PKI berhasil dilumpuhkan. Bahkan, persembunyian Muso bisa terdeteksi. Gembong komunis yang menghendaki Indonesia tunduk di bawah Uni Soviet ini tewas tertembak di dekat sebuah toilet umum, kawasan Madiun. Nasib serupa dialami Amir Sjarifuddin. Adapun beberapa tokoh PKI, termasuk DN Aidit dan Lukman, dapat kabur ke Cina dan Vietnam.

Pemerintah, militer, dan rakyat mesti berjuang selama masa revolusi. Hingga pada Desember 1949, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan RI. Uniknya, PKI kemudian kembali lagi ke blantika perpolitikan nasional. Pada 1955, Indonesia mengadakan pemilihan umum (pemilu) pertamanya. Dan, PKI menjadi salah satu peserta pesta demokrasi ini. Bahkan, partai komunis ini termasuk jajaran empat besar pemenang pemilu sehingga berhak atas kursi di parlemen.


×