Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

02 Oct 2021, 03:45 WIB

Drakor, Rokok, dan Pandemi

Adegan yang melibatkan rokok kian mudah ditemukan di ranah hiburan drama Korea

OLEH ASMA NADIA

Ada alasan saya lebih nyaman memilih drama Korea sebagai tontonan. Ide-ide yang unik, hal-hal sederhana yang bisa ditampilkan dengan amat menyentuh, latar belakang profesi dari karakter utama yang  beragam dan tergali amat baik, juga pesan moral yang cukup kuat terlepas genre yang diusung.

Satu lagi, adegan yang menurut saya relatif jauh lebih terjaga secara nilai ketimuran dibanding tayangan barat; dama seri maupun film di televisi internet berlangganan --yang belakangan makin gencar mengampanyekan seks bebas dan LGBT. 

Agak terlambat saya baru menyadari ada detail yang sebenarnya tidak selalu perlu namun terasa mengganggu; yaitu adegan rokok yang terselip di banyak judul. Entah kebetulan atau tidak, termasuk menghiasi beberapa drama Korea terbaru. Pendeknya adegan yang melibatkan rokok kian mudah ditemukan di ranah hiburan drama Korea.

Misalkan saja di salah satu judul, tampak seorang gadis berseragam SMA yang membeli rokok lalu berusaha mencium pria dewasa. Terkait ini tidak sedikit dari pemirsa di negeri asalnya mempertanyakan mengapa cerita yang merupakan webtoon dewasa bisa lolos dijadikan versi drama lalu tayang di TV publik.

Dalam seri televisi lain yang mengupas wajib militer bagi pemuda di Korea, nyaris dalam setiap episode menampilkan adegan tantara merokok. Padahal tentara seharusnya identik dengan tubuh yang bugar dan fit.

 
Cukup miris, sebab justru di banyak film Hollywood saat ini, sudah jarang terdapat adegan  merokok seiring dengan kampanye anti rokok yang menggema kian keras di berbagai belahan dunia.
 
 

Bahkan pada drama kedokteran yang menjadi salah satu terfavorit pencinta drakor: juga menampakkan adegan terkait rokok. Tidak satu melainkan dua karakter dokter, pada satu adegan sama-sama memegang rokok.

Memang tidak diperlihatkan mereka menghirup atau mengembuskan asap rokok, tapi keduanya merupakan karakter utama yang seorang dokter. Padahal dokter identik dengan tokoh yang tidak hanya memiliki kesadaran melainkan turut mengampanyekan pola hidup sehat.

Cukup miris, sebab justru di banyak film Hollywood saat ini, sudah jarang terdapat adegan merokok seiring dengan kampanye antirokok yang menggema kian keras di berbagai belahan dunia.

Di Tanah Air, pajak atau cukai rokok telah ditingkatkan agar harganya mahal --sehingga tidak mudah terjangkau masyarakat bawah-- sekaligus ditujukan untuk menambah penghasilan negara. Walaupun kenyataannya, kenaikan harga tidak lantas membuat kalangan ekonomi lemah pencandu rokok lalu mengurangi konsumsinya.

Sebaliknya mereka justru memilih memotong anggaran lain dalam belanja rumah tangga, termasuk penyediaan buku untuk anak-anak. 

Cukai tinggi yang didapat pemerintah tidak sepenuhnya bermanfaat karena pada akhirnya habis dipakai untuk menanggung dana kesehatan masyarakat yang tinggi antara lain disebabkan perokok.  Salah satu penyakit yang banyak ditanggung BPJS bersumber pada kebiasaan merokok.

Sempat merebak di berbagai berita perihal usulan  agar perokok tidak ditanggung BPJS jika penyakitnya berhubungan dengan kebiasaan buruk yang tidak mau mereka hentikan itu,

Bentuk lain gerakan anti rokok adalah distribusi yang dipersulit dengan kewajiban minimarket untuk tidak memajang rokok secara terbuka.  Namun karena tetap  dijual bebas, para perokok tahu bahwa mereka bisa mendapatkannya dengan mudah di sana. 

 
Mereka  yang mengatakan ini lupa bahwa jeroan tidak menyebabkan ketagihan seperti rokok.
 
 

Upaya membatasi ini termasuk dengan melarang iklan rokok menampilkan produknya. Namun dengan dukungan dana besar, perusahaan selalu menemukan jalan untuk bertahan, bahkan tetap melesat.

Situasi diperburuk dengan  tidak sedikitnya  tokoh yang masih ketagihan rokok justru mencari pembenaran atau mengampanyekan rokok agar kebiasaan buruknya diterima masyarakat. Saat banyak ulama mengharamkan rokok, sebagian malah berujar, “Kalau rokok haram karena buruk bagi kesehatan, jeroan juga haram dong, kan sama-sama buruk bagi Kesehatan!”

Mereka  yang mengatakan ini lupa bahwa jeroan tidak menyebabkan ketagihan seperti rokok.

Kembali ke pertanyaan awal, fenomena maraknya adegan merokok pada drama Korea menyisakan tanya, ada apa sebenarnya? 

Apalagi, sekalipun terdapat adegan rokok, seringkali tidak secara eksplisit  menunjukkan merek rokok. Seolah pesan yang disampaikan hanya sebatas pembiasaan mata bagi penonton untuk melihat orang dari berbagai profesi; tentara , dokter, profesional, dll yang merokok, 

Apakah pandemi telah membuat banyak usaha ambruk sehingga drakor kesulitan mencari iklan dan perusahan rokok memberi penawaran luar biasa bagus untuk ditolak?

Apakah di masa pandemi penjualan rokok kian berpeluang karena yang ketagihan tetap saja ketagihan, dan masyarakat umumnya memiliki lebih banyak waktu senggang di rumah? Apakah fenomena iklan rokok di korea merupakan bentuk kolaborasi para pengusaha rokok agar masyarakat mulai menerima kembali kebiasaan merokok?

Apalagi drama Korea sudah mendunia, sehingga jika diniatkan sebagai bentuk kampanye global , maka menjadi sangat kuat.

 
Semoga pula layar hiburan di tanah air, maupun dari berbagai negara tidak lalu  latah mengiklankan rokok.
 
 

Sampai saat ini  saya belum menemukan jawaban atas pertanyaan di atas. Sangat disayangkan, sebab banyak judul drama Korea secara sinematografi bagus sekaligus punya pesan. Keberadaan rokok di layar terasa kontradiktif -- sebab berbagai pihak selama pendemi khususnya, justru banyak menyorot upaya  memperketat peredaran rokok. 

Ketua Komite Nasional Pengendalian Tembakau, Hasbullah Thabrany misalnya,  meminta pemerintah menekan konsumsi rokok sebagai salah satu upaya penanganan covid-19. Konsumsi rokok adalah faktor utama penyakit tidak menular yang memperparah penderita Covid, seperti, hipertensi, kardiveskular, paru kronis, dan kanker. Ketua YLKI, Tulus Abadi juga mendukung seruan yang sama agar pemerintah mengendalikan peredaran rokok sebagai salah satu upaya penanganan covid-19.

Ketua perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Agus Dwi Susanto, mengungkap, tingginya jumlah perokok membuka peluang kasus covid yang tinggi. Jika para ahli telah bicara,  maka tampilnya rokok di banyak tayangan, semoga tidak menjelma kampanye global yang membuat langkah-langkah masif ke arah hidup lebih sehat khususnya menghadapi pandemi ini menjadi mundur. 

Semoga pula layar hiburan di tanah air, maupun dari berbagai negara tidak lalu  latah mengiklankan rokok melalui drama, sinetron, dan film--baik di televisi nasional maupun OTT--sebaliknya justru lebih termotivasi untuk menampilkan lebih banyak kebaikan. ';

×