Petani memanen jagung di persawahan Desa Donorojo, Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (26/9/2021). Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan memperkirakan kebutuhan jagung untuk pakan pada tahun 2021 mencapai 10,76 juta ton yang te | ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Ekonomi

01 Oct 2021, 08:36 WIB

Perluas Area Tanam Jagung

Produksi jagung mulai melimpah seiring masuknya musim panen raya.

JAKARTA --  Wilayah Kabupaten Tapin bakal terus dikembangkan menjadi sentra jagung hibrida di Kalimantan Selatan. Daerah itu memiliki potensi lahan yang luas dan sistem pertaniah yang memadai.

Bupati Tapin HM Arifin Arpan di Rantau Kamis mengatakan, sampai September 2021 Tapin memiliki luas tanam jagung 1.320 hektare dengan produksi mencapai 2.829 ton. Potensi tersebut cukup besar dibandingkan beberapa daerah lain di Kalimantan Selatan.

"Tapin ini memiliki alam pertanian potensial dengan luas, 61 ribu hektare. Jumlah tersebut akan bertambah, saat saluran irigasi dari Bendungan Pitap telah selesai, diperkirakan luas lahan akan bertambah hingga 6 ribu hektare," katanya.

Tingginya potensi pertanian tersebeut, khususnya sektor tanaman jagung, tambah bupati, diharapkan di daerah ini akan didirikan industri pakan ternak. "Meningkatkan pendapatan petani dan sebagai upaya mengembangkan sektor pertanian, kami sangat berharap ada industri pakan ternak di daerah ini," katanya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Selatan Syamsir Rahman mengatakan, pihaknya komitmen untuk membantu petani Tapin, mengembangkan usaha tani jagung hibrida. "Di Tapin ini akan kami upayakan ada pabrik mini, kita akan buat proposal bersama Pemkab dan langsung diajukan ke Kementerian Pertanian, semoga disetujui," katanya.

Menurut Syamsir, Tapin menjadi prioritas pengembangan jagung hibrida, menyusul wilayah Kabupaten Tanah Laut yang juga sebagai penghasil jagung cukup besar di wilayah ini. "Tapin akan kita fasilitasi ke depannya, Tanah Laut sudah lewat, gantian Tapin lagi yang dikembangkan," ujarnya.

Selama ini setelah panen para petani di Tapin menjual langsung hasil panen ke PT Comfeed di Tanah Laut, baik secara langsung ataupun melalui pengepul, dengan harga berkisar Rp 4 ribu per kilogram. Sampai September 2021 panen jagung tercatat seluas 558 hektar, produktivitas rata rata 5,7 per hektare.

Rencana tanam jagung hibrida selanjutnya di Tapin, diperkirakan Oktober-Desember 2021 seluas 244 hektar dan Januari-Maret 2022 seluas 750 hektare. Lokasi pengembangan jagung hibrida di Tapin terbagi di beberapa wilayah kecamatan dengan total 1.490 hektare, diantaranya Tapin Selatan 500 hektare, Piani 100 hektare, Bungur 175 hektare, Binuang 180 hektare, Hatungun 400 hektare dan Salam Babaris 135 hektare.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Syahrul Yasin Limpo (syasinlimpo)

Mulai melimpah

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memastikan produksi jagung mulai melimpah seiring masuknya musim panen raya. Pihaknya memastikan kebutuhan jagung nasional mampu dipenuhi dari produksi lokal para petani.

Syahrul mengungkapkan, khusus periode September-Desember 2021, produksi jagung masih terus berlangsung di sejumlah daerah. Pada September ini, diperkirakan luas panen mencapai 299.059 hektare (ha), kemudian Oktober 230.157 ha, November 207.264 ha dan Desember 197.265 ha.

Sementara itu, berdasarkan data proyeksi Kementan dan Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen jagung nasional Januari-Desember 2021 mencapai 4,15 juta ha. Dari luasan tersebut, produksi jagung diperkirakan sebesar 15,79 juta ton dengan kadar air 14 persen.

Kebutuhan jagung dalam satu tahun untuk pakan ternak, konsumsi, dan industri pangan totalnya mencapai 14,37 juta ton. "Jika proyeksi pasokan tersebut ditambah dengan stok sisa akhir 2020 sebesar 1,43 juta ton, maka diperoleh surplus jagung tahun ini sebanyak 2,85 juta ton," kata Syahrul dalam pernyataan resminya, Rabu (29/9).

Syahrul mengatakan, jika mengacu pada data yang tersedia saat ini, seharusnya persediaan jagung dalam negeri dipastikan aman. Apalagi, jagung merupakan komoditas yang mudah ditanam di seluruh daerah di Indonesia.

Terkait polemik data jagung yang selama ini terjadi, Syahrul menjamin validitas data yang keluarkan pemerintah atau digunakan Kementan. Menurutnya, data tersebut dihasilkan mulai dari proses standing crop, pemantauan melalui Agriculture War Room (AWR) dan satelit, serta laporan pemerintah daerah. Data itu, kata dia, juga sudah disinkronisasi bersama BPS.

"Karena itu, saya perintahkan para jajaran untuk terus lakukan validasi terbukti hasilnya jagung kita ada," katanya.

Terkait adanya lonjakan harga jagung, menurut Syahrul hal itu menjadi bagian dari dinamika yang menguntungkan petani. Kendati demikian, Syahrul mengaku siap menangani fluktuasi harga tersebut secara bersama-sama.

Syahrul juga menekankan pentingnya penanganan pascapanen agar jagung produksi petani dapat terserap dengan harga yang optimal. Hal itu juga penting agar petani dapat cepat melakukan penanaman kembali. “Lahan tidak boleh kita biarkan menganggur justru lahan jagung harus semakin bertambah dan produktivitasnya pun juga semakin meningkat,” ujarnya.

Mentan juga mendorong petani dapat menggunakan dana kredit usaha rakyat (KUR) agar usaha pertanian terus berjalan dan juga semakin maju. Dia menyebut, KUR sektor pertanian tersedia mencapai Rp 55 triliun. Performa KUR bagi sektor pertanian juga terpantau berkualitas dengan kredit bermasalah atau NPF hanya 0,003 persen. “Maka, saya mengajak semua pemerintah daerah untuk menggunakan KUR guna mendorong peningkatan produksi pertanian di daerahnya,” kata Syahrul.

Salah satu daerah yang sedang mengalami panen jagung adalah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Bupati Grobogan Sri Sumarni pun berharap pemerintah dapat melindungi petani dengan tidak membuka keran impor.

“Biarkan petani menikmati hasil panen mereka jangan ada impor,” kata Sri.

Grobogan merupakan salah satu lumbung pangan di Jawa Tengah. Daerah tersebut tidak hanya menghasilkan padi namun juga menjadi salah satu sentra produksi jagung. Untuk komoditas jagung, perkiraan luas panen di daerahnya pada tahun ini mencapai 121.200 hektare dengan total produksi mencapai 783.700 ton. Produksi dan ketersediaan jagung di Grobogan siap untuk memasok kebutuhan pakan ternak.

Sumber : Antara


×