Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

29 Sep 2021, 09:48 WIB

Bangun Kesadaran Kolektif

Langkah pertama Rasulullah begitu hijrah ke Madinah ialah membina kesadaran kolektif.

 

 

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Dalam surah al-Fatihah ayat enam, terdapat doa yang berbunyi, “Ihdinaa ash-shiraath al-mustaqiim,” (Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus). Kata //na//, yang berarti ‘kami’, dalam ihdinaa merupakan pernyataan yang menunjukkan makna kolektif. 

Menurut Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah, terdapat pesan dalam ayat tersebut, yakni setiap orang beriman memiliki kesadaran bersama. Ketika membaca ayat itu, seorang mukmin menyadari bahwa dirinya sedang bersama barisan panjang orang-orang beriman, yakni para nabi, wali Allah, serta hamba-hamba-Nya yang saleh di sepanjang sejarah.

Kesadaran kolektif itu akan memunculkan rasa percaya diri bahwa Anda sebagai mukmin bukan tanpa siapa-siapa. Dalam berdakwah, misalnya, janganlah Anda merasa sendirian. Sebab, Anda bukan yang pertama memulainya, tetapi sedang meneruskan perjuangan dakwah yang dirintis sejak Nabi Adam AS, sang manusia pertama.

Dengan perspektif demikian, Anda insya Allah akan terus bersemangat dalam menebarkan syiar Islam. Seperti inilah dahulu para sahabat Rasulullah sAW menjalankan perjuangan di jalan Allah Ta’ala.

Dalam Alquran, kesadaran kolektif itu dikenal dengan sebutan ukhuwah atau ‘persaudaraan.’ Allah SWT mengidentikkan iman dengan persaudaraan. Dia berfirman dalam surah al-Hujurat ayat 10, “Innamaa al-mu`minuuna ikhwatun,” (Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara). Perhatikan, kata innamaa digunakan untuk makna identifikasi lilhashri.

Maksudnya, seseorang yang mengaku beriman wajib baginya untuk bersaudara. Jika tidak begitu, imannya patut dipertanyakan. Paling minimal, ciri-ciri pokok persaudaraan adalah “salamatu ash-shadr,” (kebersihan hati dari hasad dan dengki). Adapun ciri yang paling maksimal ialah “al-iitsar” (mengutamakan saudaranya atas dirinya sendiri).

Nabi Muhammad SAW mengumpamakan orang-orang yang beriman sebagai satu tubuh, “Kal jasadil wahid.” Apabila satu organ sakit, semua anggota tubuh pun ikut merasakan sakit. “Izasytakaa minhu udhwun, tadaa’aa lahu saairul jasadi wal hummaa.” (HR Muslim).

Ini merupakan sebuah perumpamaan yang sangat indah. Maknanya, mukminin satu sama lain harus saling menanggung penderitaan, bukan malah saling menjatuhkan. Apalagi, na’udzubillah, saling membunuh.

Tampak dari hadis di atas, Rasulullah SAW sejak awal telah menanamkan kesadaran kolektif dalam diri umatnya. Dengan demikian, mereka tidak akan muda dipecah belah atau diadu domba. Beliau menginginkan kaum Muslimin seluruhnya bersatu. Sebab, hanya dalam persatuan terdapat wibawa dan kekuatan.

Sejarah mencatat, langkah pertama Nabi Muhammad SAW begitu hijrah dari Makkah dan sampai di Madinah ialah membina kesadaran kolektif. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Yang pertama itu ialah para sahabat yang turut berhijrah. Adapun yang kedua merupakan penduduk Muslimin Madinah. Disebut demikian karena mereka menolong (nashr) Muhajirin.

Ikatan persaudaraan itu terasa amat kuat. Mereka bersaudara bukan hanya pada tataran salamatu ash-shadr, tetapi juga hingga level al-iitsar. Salah seorang Anshar, Saad bin Rabiah, dipersaudarakan dengan Abdur Rahman bin Auf. Seketika, Saad menawarkan separuh rumahnya untuk saudara seimannya itu, tanpa sedikit pun merasa keberatan.

Tawaran itu ditolak dengan lembut oleh Abdur Rahman. “Semoga Allah memberkahimu atas keluarga dan hartamu,” katanya. ';

×