|
27 Sep 2021, 13:52 WIB

Ta'limul Muta'allim: Agar Anak Saleh & Dapat Ilmu Bermanfaat

Kitab Ta’limul Muta’allim adalah bacaan wajib murid dan orang tua agar pendidikan semakin baik.

Setiap orang tua yang waras pasti mendambakan anak yang saleh menjalankan perintah agama. Juga mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Dengan ilmu yang tertanam di hati, anak mengaktualisasikan diri membangun negeri, mencurahkan segala potensi untuk orang banyak, alias keberadaannya bermanfaat untuk orang banyak. Bagaimana caranya?

Cara untuk mencapai dua tujuan itu dijelaskan Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji (wafat pada 593 Hijriyah) dalam Kitab Ta’limul Muta’allim fi Thariqit Ta’allum (Panduan menuntut ilmu untuk pelajar). Syekh Burhanuddin disebut juga Burhanul Islam. Beliau adalah ahli fikih (al-faqih) dan cendekiawan (al-alim). Dalam pengantar Ta’limul Muta’allim dijelaskan, beliau adalah ahli fikih Madzhab Hanafi yang berdakwah di sekitar timur negeri yang berada di dekat sungai, antara pertengahan kedua abad keenam dan awal abad ketujuh hijriyah.

Meski profil Syekh Az-Zarnuji tak banyak diketahui, kitab Ta’limul Muta’allim karangannya yang sudah berusia 850 tahun ini adalah oase penyejuk di tengah kegersangan pendidikan saat ini. Saat ini kita menyaksikan murid mencaci maki, bahkan memukul guru, seperti yang terjadi di Kecamatan Pontianak Timur, Pontianak, Kalimantan Barat, pada 2018. Juga di sebuah SMA di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Maret 2020.

Kasus guru menganiaya murid juga terjadi di banyak tempat. Kasus ini menggambarkan guru tidak sepenuh hati mendidik murid yang mengorbankan waktunya untuk menuntut ilmu. Dua kasus demikian menunjukkan betapa proses pendidikan berjalan jauh dari akhlak mulia. Bahwa transfer ilmu tidak disertai dengan pembentukan kepribadian mulia sebagaimana yang diajarkan agama dan diwasiatkan leluhur kita.

Terkait

Permasalahan ini sejatinya bukan hal baru. Karena sejak 850 tahun lalu, Syekh Az Zarnuji sudah menjelaskan tentang bagaimana menjalankan proses pendidikan dan penanaman ilmu dalam kepribadian anak – anak generasi umat.

Ada 12 permbicaraan tentang proses pendidikan dan pengajaran yang disampaikan Syekh Burhanul Islam Az-Zarnuji. Pembahasan dimulai dari pemahaman apa itu hakikat dan keutamaan ilmu, niat belajar, cara memilih ilmu, guru, dan teman.

photo
Kitab Talimul Mutaallim - (Erdy Nasrul)

Berikutnya adalah tentang kewajiban menghormati ilmu dan guru. Di bagian ini Az-Zarnuji pada pengantar bab menekankan, bahwa seorang murid tak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan tidak akan bisa memanfaatkan ilmu yang didapat kalau tidak menghormati ilmu, ahlinya, guru, dan orang dekatnya.

Bagian ini banyak menekankan pentingnya seorang pelajar memuliakan guru sebaik mungkin. Hal ini dilakukan dengan bertutur kata dan berperangai baik kepada guru. Kemudian membantu guru, dan melakukan segala amal kebaikan yang membahagiakan dan memuliakan sang guru. Namun akhlak seperti ini banyak diabaikan para penuntut ilmu. Alih-alih menghormati dan memuliakan, ada saja dari mereka yang justru menghina, mencaci maki, bahkan menganiaya guru, seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya. Ini menunjukkan siswa meremehkan bahkan menzalimi ilmu, sehingga Allah tidak menyinari hatinya dengan cahaya ilmu.

Berikutnya adalah tentang kesungguhan, ketekunan, dan cita-cita. Bagian ini menjelaskan tentang belajar dilakukan dalam waktu yang lama. Tidak ada kata praktis dalam menuntut ilmu. Karena ini adalah proses yang panjang, bahkan seumur hidup (long live education).

Kemudian ada permulaan belajar, standar, dan urutannya. Kemudian tentang kepasrahan setelah belajar. Di sini pelajar diarahkan untuk bertawakkal, bersikap wara’ dan menyucikan diri dari dosa, sehingga proses belajar dan ibadah berjalan dengan baik.

 
Ilmu yang dituntut para santri di pesantren adalah ilmu bermanfaat yang membuat seseorang itu bisa bertambah takwa kepada Allah SWT.
KH AFIFUDDIN MUHAJIR, Wakil Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo
 

Penerbit Turos Pustaka menerjemahkan kitab klasik ini ke bahasa Indonesia dalam beberapa keunggulan. Pertama adalah terbitan Turos terdiri dari terjemahan pada bagian depan dan naskah asli berbahasa Arab pada bagian belakang. Dengan memiliki buku tersebut, maka pembaca dapat mengecek terjemahan sekaligus naskah asli dalam satu buku. Praktis.

Seperti terbitan Turos lainnya, Ta'limul Muta'allim juga dilengkapi dengan peta buku pada halaman awal. Dengan melihat peta buku, seseorang akan mengetahui kemana isi buku mengarah atau bagian apa saja yang dibahas dalam buku. 

Kualitas terjemahan Turos tidak diragukan, karena penerbit ini sudah biasa menghasilkan karya terjemahan. Selain Ta'limul Muta'allim, Turos juga menerjemahkan dan menerbitkan Al-Hikam Ibnu Athaillah As-Sakandari, Risalatul Amin Abu Hasan Ali As-Syadzili, dan puluhan kitab turos lainnya.  

Kitab pegangan ribuan pesantren

Ta’lim Muta’allim adalah kitab yang dipelajari di banyak pesantren. Bahkan kebanyakan pesantren berafiliasi ke Nahdlatul Ulama (NU) dipastikan mempelajari kitab tersebut. Biasanya santri marhalah atau tingkatan awal akan terlebih dahulu mengaji Ta’limul Muta’allim. Yang mengajarkan kitab ini adalah ustaz senior yang memiliki banyak pengalaman.

Kitab Ta’lim menjadi pengantar para santri baru, sehingga mereka memahami dan mendapatkan ‘pegangan’ harus berbuat apa agar mencapai ilmu yang bermanfaat. Ta’limul Muta’allim menjadi acuan sekaligus bimbingan bagi penuntut ilmu agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Selesai mengaji Ta’lim, barulah anak akan diarahkan untuk memasuki berbagai khazanah keilmuan Islam, seperti fikih: syariat shalat, zakat, sedekah, puasa, haji, umrah, nikah, dan lainnya.

Dalam buku Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat, Martin van Bruinessen menjelaskan, kitab kuning sebagai kitab klasik berbahasa Arab telah dikenal dan dipelajari pada abad ke-16.

Argumen yang dijadikan dasar adalah dibawanya sejumlah naskah Indonesia yang berbahasa Arab, Melayu dan Jawa ke Eropa sekitar 1600 Masehi. Di Indonesia sendiri, Ta’lim al-Muta’allim merupakan salah satu kitab kuning yang diajarkan di banyak pesantren di Indonesia, termasuk di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, KH Afifuddin Muhajir, mengatakan kitab Ta’lim  banyak diajarkan di pesantren lantaran bisa menjadi pegangan utama santri. "Ta’lim al-Muta’allim itu maknanya mengajari santri cara belajar. Jadi, Ta’lim al-Muta’allim itu lebih pada kitab pegangan santri, bukan kitab pegangan guru," ujar Kiai Afif

Selain menjadi pegangan santri, menurut Kiai Afif, ajaran dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim  juga sangat penting untuk menjadi pegangan para siswa-siswa madrasah atau sekolah . Apalagi, generasi millenial saat ini memiliki tantangan yang sangat berat kedepannya.

"Di kitab Ta’lim al-Muta’allim menawarkan dua hal sebagai syarat agar santri sukses dalam belajar, pertama adalah cita-cita yang tinggi dan kedua adalah kerajinan atau kesungguhan," ucapnya.

Dengan kesungguhan belajar yang tinggi tersebut generasi millenial tentunya akan mampu menghadapi segala tantangan yang akan dihadapinya. Namun, saat ini tidak sedikit juga para pelajar yang lancang terhadap gurunya, sehingga dalam perspektif Ta'lim al-Muta'allim ilmunya tidak akan bermanfaat.

Karena itu, menurut Kiai Afif, kitab Ta'lim al-Muta'allim juga mengajarkan santri atau siswa untuk menghormati ilmu dan gurunya. "Kitab ini juga mengajarkan bagaimana menghormati ilmu. Jadi, tekanannya adalah takzim kepada ilmu dan sebagai konsekuensi takzim kepada ilmu adalah takzim kepada orang yang punya ilmu," katanya.   

Ilmu sejatinya tidak hanya untuk dipamerkan atau didiskusikan, tapi untuk diamalkan. Karena itu, ilmu yang dituntut para santri di pesantren adalah ilmu bermanfaat yang membuat seseorang itu bisa bertambah takwa kepada Allah SWT. 

“Seseorang yang melaporkan gurunya kepada kepolisian misalnya itu kan tidak takzim kepada ilmu yang diajarkan gurunya. Artinya sangat diragukan, bahkan hampir mustahil ilmu murid tersebut bisa bermanfaat,” ujarnya. 


×