Petani mengumpulkan jagung untuk dijemur di Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (9/8/2021). Petani setempat mengatakan harga jual jagung di tingkat petani naik dari Rp3.000 menjadi Rp5.000 per kilogram akibat minimnya hasil panen di dae | ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/rwa.
27 Sep 2021, 08:42 WIB

BPS Masih Kaji Pendataan Jagung

Kementan meyakinkan peternak bahwa stok jagung aman hingga Desember.

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan, pencatatan data komoditas jagung berbasis kerangka sampel area (KSA) masih dalam kajian dan evaluasi. BPS menargetkan data jagung berbasis KSA bisa mulai dirilis pada awal 2022.

"Semoga paling lambat awal tahun depan atau bisa lebih cepat jika semua kajian sudah firm," kata Direktur Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Badan Pusat Statistik (BPS) Kadarmanto kepada Republika, Ahad (26/9).

Kadarmanto mengatakan, BPS saat ini belum bisa menjamin validitas luas pertanaman jagung di Indonesia. Hal itu menyebabkan BPS belum berani memberikan kesimpulan terkait data komoditas jagung.

Setelah merilis data luas tanam, luas panen, dan produksi padi berbasis metode KSA pada akhir 2019 lalu, BPS menyatakan, bakal memperluas cakupan komoditas selain padi. Di antaranya, jagung, sawit, hingga gula. Khusus pada komoditas jagung, diketahui terdapat masalah penghitungan teknis yang dihadapi BPS. Teknologi citra satelit yang dimiliki mampu menangkap area pertanaman jagung. Akan tetapi, meski jagung merupakan tanaman pangan, perlu metode yang lebih rigid untuk bisa menghitung produksi karena sifat tanaman yang berbeda signifikan dengan padi.

Terkait

Pada 2021, Kementerian Pertanian menargetkan produksi jagung bisa mencapai 22,5 juta ton. Target produksi tersebut dengan asumsi luas tanam jagung mencapai 4,2 juta hektare (ha) dengan luas panen 4,1 juta ha dan rata-rata produktivitas 5,4 ton per ha.

Kebijakan satu data saat ini dinilai penting agar kebijakan yang diambil mengenai komoditas pangan dapat tepat. Hal itu pun telah tecermin dari komoditas beras yang saat ini telah memiliki satu data dari BPS sehingga lebih kondusif.

Persoalan data jagung belakangan kembali mencuat akibat tingginya harga jagung pakan yang diterima para peternak. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menilai, tingginya harga jagung tidak jauh diakibatkan oleh minimnya ketersediaan.

Sementara itu, Kementerian Pertanian mengeklaim, produksi jagung saat ini masih cukup. Berdasarkan pemantauan stok yang dilakukan Badan Ketahanan Pangan (BKP), stok jagung nasional pada pekan keempat atau per 20 September 2021 mencapai 2,75 juta ton. Total stok itu dengan sebaran 856 ribu ton atau 31 persen berada di pabrik pakan, 744 ribu ton atau 27 persen di pengepul, dan 423 ribu ton atau 15 persen di agen.

Sementara itu, sebanyak 288 ribu ton atau 11 persen ada di pengecer, 276.300 ton atau 10 persen di usaha lain, dan sisanya sebanyak enam persen berada di industri pangan, rumah tangga, dan lain-lain.

Kepala Pusat Distribusi dan Akses Pangan BKP Kementan Risfaheri mengatakan, pihaknya menerima laporan stok setiap pekan dari petugas enumerator independen yang tersebar di daerah sentra produksi. Selain itu, Kementan juga menurunkan tim untuk memantau langsung ketersediaan dan stok jagung di tingkat pengepul, agen, grosir, dan petani di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

"Kondisi pasokan stok aman dan setiap pedagang pengepul rata-rata setiap hari masuk 100-150 ton. Pengiriman jagung ke pabrik pakan dan peternak di Jawa dan Jakarta 100 ton per hari dan stok tertinggal di gudang pengepul setiap harinya tidak kurang dari 100 ton. Mulai pekan ini pembelian pengepul naik sekitar 65 persen dibandingkan kondisi pada pekan lalu," kata Risfaheri dalam pernyataan resminya, Ahad (26/9).

Kementan meyakinkan masyarakat terutama pelaku usaha ternak di seluruh Indonesia khususnya peternak unggas di Jawa bahwa stok jagung aman sampai Desember. Selain itu, pasokan jagung juga tersedia di beberapa sentra peternakan antara lain di Jawa Timur sebanyak 766 ribu ton, Jawa Tengah 412 ribu ton, dan Jawa Barat 201 ribu ton.

Pada umumnya, kata dia, peternak mandiri tidak memiliki stok jagung yang cukup karena keterbatasan modal dan fasilitas gudang. Sehingga, pada saat panen jagung berlimpah, peternak tidak dapat memanfaatkan situasi tersebut dengan membeli jagung dalam jumlah besar. Kondisi itu berbeda dengan pabrik pakan yang memiliki sarana pengeringan dan penyimpanan berkapasitas besar serta modal yang kuat.

"Kondisi inilah yang selalu dihadapi peternak mandiri. Selain itu, peternak mandiri mendapatkan jagung tidak langsung dari petani jagung, tetapi dari pengepul atau pengecer yang tentunya harganya jauh lebih tinggi dibandingkan membeli langsung dari petani jagung," ujarnya.


×