KH Sodik M Nawawi menyampaikan dakwah secara virtual di Masjid Raya Bandung, Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Senin (27/4). Dakwah Virtual tersebut merupakan salah satu program Syiar Ramadan 1441 H/2020 Masjid Raya Bandung yang bertujuan untuk mengajak mas | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
27 Sep 2021, 08:25 WIB

Saluran Dakwah Muhammadiyah Perlu Diperluas

Jangan abaikan tugas dakwah.

JAKARTA — Gerakan dakwah yang dilakukan Muhammadiyah harus mampu menjawab tantangan zaman. Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad. Menurut dia, teknologi digital seyogianya dimanfaatkan para mubaligh agar pesan-pesan moderat bisa tersebar luas di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.

Ia pun mengutip Alquran surah an-Nahl ayat 125. Dalam firman Allah Ta’ala itu, terdapat tuntunan dakwah, yakni menyeru manusia kepada jalan-Nya dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan debat yang santun.

“Ada kata-kata bil-hikmah pada ayat ini. Itu harus menjadi perhatian kita bahwa dalam berdakwah mestilah memakai media ilmu pengetahuan yang sedang berkembang. Karena itu, saluran dakwah (Muhammadiyah) saya rasa perlu diperluas,” ujar guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati itu dalam acara bertema “Muhammadiyah’s Influencer Speak Up!”, Sabtu (25/9).

Dadang juga mengingatkan sebuah petuah dari KH Ahmad Dahlan. Pendiri Persyarikatan Muhammadiyah itu pernah berpesan, umat Islam bisa menggeluti dunia ilmu-ilmu sesuai perkembangan zaman. Namun, pada akhirnya tugas berdakwah jangan diabaikan.

Terkait

“Maka teruslah kamu sekolah, menuntut ilmu pengetahuan, di mana saja. Jadilah guru, kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah,” ujar dia menirukan nasihat Kiai Dahlan.

Ia mengatakan, ada sekitar 175,4 juta orang pengguna internet di Tanah Air. Angka itu cukup signifikan di antara total 270 juta jiwa penduduk Indonesia. Dengan adanya pandemi, ketergantungan masyarakat terhadap teknologi internet pun kian tampak jelas.

"Perkembangan teknologi media ke arah lebih canggih, instan, interaktif, menyebabkan anak muda lebih banyak menyerap informasi keislaman yang dikemas menggunakan media konvergensi," kata Prof Dadang.

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah Edy Kuscahyanto mengatakan, persyarikatan ini terus berkiprah dalam ikut mencerdaskan bangsa Indonesia. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, seluruh warga Muhammadiyah seyogianya merasa terpanggil untuk lebih menggiatkan dakwah.

Sejak awal, Muhammadiyah memanfaatkan berbagai media yang ada untuk berdakwah. Sebagai contoh, majalah Suara Muhammadiyah yang terbit setidaknya sejak 1914. Begitu pula dengan Suara ‘Aisyiyah dan lain-lain yang dengan inovatif menggunakan bahasa Indonesia pada zaman pergerakan.

Kini, Edy melanjutkan, ada banyak saluran dakwah, semisal TV Muhammadiyah. "Itu menjadi tugas kita semua sebagai warga Persyarikatan (Muhammadiyah) yang dipercaya sebagai pimpinan-pimpinan daerah, khususnya di bidang majelis pustaka dan informasi," kata dia, Sabtu (25/9).

Ia mengingatkan, manusia sekarang berada dalam dunia informasi atau dunia maya yang dibanjiri oleh informasi. Kondisi ini membuat setiap orang bisa membuat informasi dengan jari tangannya. Keberlimpahan itu, Edy melanjutkan, membuat orang-orang perlu memilah antara yang sekadar informasi dan pengetahuan yang esensial, bukan semata-mata luapan emosi.

“Sekarang kita juga memasuki era post-truth atau era pascakebenaran. Cirinya adalah kebenaran itu dianggap tidak penting karena yang penting adalah orang-orang percaya,” katanya menegaskan.

Karena itu, ia memandang, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah perlu mendorong hadirnya para pemengaruh (influencer) di dunia maya. Mereka haruslah bisa mengusung wacana Islam moderat melalui media-media sosial.


×