Wali Kota Serang Syafrudin (kiri) menyaksikan petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada Ustazah (pengajar di Pondok Pesantren) saat acara Percepatan Vaksinasi COVID-19 untuk Ustaz dan Santri di Mesjid Agung Atsauroh Serang, di Serang, Banten, | ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
27 Sep 2021, 03:45 WIB

IDI: Mungkin Vaksin Covid-19 Nanti Seperti Vaksin Influenza

Kemungkinan vaksin Covid-19 akan sama seperti vaksin influenza karena virus yang terus bermutasi.

JAKARTA -- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memperkirakan kemungkinan vaksin Covid-19 akan sama seperti vaksin influenza, yakni digunakan beberapa kali karena virus yang terus bermutasi. Jika mutasi virus lebih jauh dan terus berkembang, mungkin vaksin yang ada saat ini sudah tidak dikenal lagi. 

Saat ini, ia mengatakan, berbagai macam perusahaan farmasi vaksin sedang mempelajari kemungkinannya. "Mungkin, nantinya vaksin Covid-19 berkembang digunakan sama seperti vaksin influenza. Artinya setiap tahun diubah lagi vaksinnya yang disesuaikan dengan virus yang terus bermutasi," kata Ketua Tim Advokasi Vaksinasi IDI Iris Rengganis saat berbicara di diskusi virtual Pengurus Besar (PB) IDI mengenai siapa saja yang belum boleh divaksinasi, Sabtu (25/9).

Meski sudah divaksinasi, seseorang tetap memungkinkan terinfeksi virus karena setiap orang yang sudah divaksinasi punya antibodi yang berbeda-beda. Namun, dia mengatakan, jika sudah divaksinasi penyakitnya tidak terlalu berat dibandingkan yang tidak mendapatkan imunisasi. 

photo
Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) bersama Wali Kota Medan Bobby Nasution (kedua kanan) dan Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid (kiri) berbincang dengan warga saat meninjau pelaksanaan Vaksinasi Gotong Royong Covid-19 di Medan, Sumatra Utara, Sabtu (25/9/2021). - (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Setidaknya orang yang sudah diimunisasi mendapatkan perlindungan, mencegah kematian, dan dirawat di rumah sakit meski tetap bisa tertular. "Tetap pakai masker kemana pun, divaksinasi atau tidak," katanya.

Terkait

Pakar imunisasi tersebut menjelaskan, vaksin Covid-19 di Indonesia ada beberapa platform. Ada yang virusnya dimatikan, yaitu inactivated vaccine, seperti Sinovac dan Sinopharm. 

AstraZeneca menggunakan platform viral vector atau virus vektor yang berguna untuk meningkatkan kerja antibodi. Kemudian, platform messenger RNA (mRNA) yang digunakan vaksin Pfizer dan Moderna. 

Terkait merek vaksin yang lebih baik, Iris menegaskan, semua vaksin baik dan membentuk antibodi serta sudah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebab, setiap vaksin yang sudah masuk Indonesia harus melalui BPOM. 

"Tetapi kalau mau melihat vaksin yang terbaik harus melihat efektivitas vaksin seiring dengan berjalannya waktu, mungkin tahun depan baru bisa dilihat. Semua farmasi vaksin kan juga akan menyesuaikan," katanya.


×