ILUSTRASI Taliban kembali berkuasa di Afghanistan sesudah dua dekade terdepak oleh pendudukan Amerika. | DOK EPA STRINGER
26 Sep 2021, 03:41 WIB

Afghanistan, dari ‘Kiri’ ke Taliban

Perang Dingin mewarnai sejarah jatuh bangunnya rezim di Afghanistan.

OLEH HASANUL RIZQA

Afghanistan berdiri sebagai sebuah kerajaan modern antara tahun 1926 dan 1973. “Hanya” tiga raja yang menduduki takhta dalam sejarahnya.

Mereka adalah Amanullah Khan, Muhammad Nadir Shah, dan Zahir Shah. Semuanya berakhir tragis. Ada yang “sekadar” digulingkan dari tampuk kekuasaan. Ada pula yang dibunuh lawan politiknya.  

Zahir berkuasa relatif lebih lama. Putra Nadir Shah itu melalui pergolakan politik dunia pada kurun tahun 1940-an. Ia menjadikan Afghanistan sebagai pihak yang netral dalam Perang Dunia II. Namun, tradisi kudeta masih belum mereda.

Terkait

Pada 1973, kup terhadap Zahir terjadi saat raja Afghanistan ini masih berada di Italia. Pemimpin pemberontakan itu ialah sepupunya sendiri, Muhammad Daud Khan. Sejak saat itu, tamatlah riwayat kerajaan ini. Sebagai gantinya, Daud memproklamasikan berdirinya Republik Afghanistan.

Jenderal yang pernah menjabat perdana menteri (1953-1963) itu hanya berkuasa lima tahun. Pada 1978, kekuasaannya direbut paksa oleh Nur Muhammad Taraki dan Hafizullah Amin dengan dukungan militer. Keduanya adalah pentolan Partai Demokratik Rakyat Afghanistan (PDPA), sebuah partai politik yang berhaluan komunisme.

Transisi dari kerajaan ke republik demokratik ini dinamakan Revolusi Saur. Disebut demikian karena terjadinya bertepatan dengan bulan Saur (Sowr), yakni bulan kedua menurut penanggalan Hijriah Iran.

Sesudah Revolusi Saur, PDPA dilanda perpecahan internal. Taraki hanya sempat menghuni istana negara sekira 12 bulan. Faksi yang dipimpin perdana menterinya, Hafizullah Amin, kemudian menggulingkan kekuasaannya. Pada Oktober 1979, Amin membunuh presidennya itu. Seluruh keluarga mendiang lalu dibantai di depan umum.

 
Transisi dari kerajaan ke republik demokratik ini dinamakan Revolusi Saur. Disebut demikian karena terjadinya bertepatan dengan bulan Saur
 
 

 

Ternyata, Soviet tidak menyukai Amin. Sebab, presiden-baru Republik Demokratik Afghanistan itu dicurigai dekat dengan AS. Apalagi, yang bersangkutan diketahui pernah menempuh studi di Negeri Paman Sam.

Pada Desember 1979, Moskow mengerahkan 75 ribu pasukan ke Kabul, Afghanistan. Tujuan awalnya ialah mendepak Amin dari kursi kepresidenan. Begitulah, sesama adidaya komunis menyerang sesama kamerad.

Tiga hari kemudian, Amin beserta keluarganya ditumpas di depan istana. Soviet lalu mendudukkan seorang tokoh komunis lokal yang sudah lama menjadi agen Moskow sebagai penggantinya. Dialah Babrak Karmal.

Selama tujuh tahun berkuasa, Karmal berlaku sebagai pemimpin “boneka.” Di bawah bayang-bayang Moskow, dirinya menjalankan pemerintahan walaupun mayoritas warga tidak menyukainya. Pemberontakan pun meletus di mana-mana seantero Afghanistan. Ratusan ribu rakyat kehilangan nyawa dalam konflik yang rumit ini.

Sejak 1979 hingga 1989, mereka terhanyut dalam situasi Perang Soviet-Afghanistan. Sebagian besar Muslimin Afghanistan membentuk milisi yang disebut Mujahidin. Kelompok ini didukung negara-negara Arab, khususnya Saudi. Kerajaan itu menganggap Soviet sebagai ancaman di Asia. Moskow dicurigainya selalu mengobarkan revolusi untuk melawan pemerintahan yang sah di berbagai negara.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Dalam konteks Perang Dingin, AS tidak menutup mata. Washington DC melalui Central Intelligence Agency (CIA) memberikan sokongan kepada Mujahidin. Tidak hanya dana, tetapi juga persenjataan yang canggih, termasuk peluru kendali (rudal) anti-pesawat tempur. Tentunya, penyaluran bantuan itu tidak secara terang-terangan, melainkan diperantarai. Pakistan kerap menjadi medium untuk itu.

Sepanjang 1980-an, Afghanistan secara tak terelakkan menjadi medan proxy-war antara adidaya berideologi kapitalis di satu sisi dan yang berideologi komunis di sisi lain. Alih-alih musnah sama sekali, Mujahidin justru bertahan di tengah bombardir Soviet. “Bos” negara-negara komunis sedunia itu menjadi amat kewalahan.

Pada 1986, Moskow menunjuk Muhammad Najibullah sebagai pemimpin “boneka” pengganti Karmal. Mantan kepala polisi rahasia itu dikenal sebagai seorang yang bengis. Di kemudian hari, namanya lebih dikenang sebagai presiden Afghanistan terakhir yang berhaluan komunis.

Hanya tiga tahun Najibullah bisa percaya diri. Menjelang 1989, militer Soviet kian terdesak dan frustrasi. Taktik gerilya yang dilancarkan Mujahidin begitu merepotkan barisan pasukan komunis ini. Terlebih lagi, para pejuang itu dibantu secara finansial dan (diam-diam) militer oleh rival Moskow sendiri.

 
Pada 15 Februari 1959, pasukan Soviet mulai meninggalkan Afghanistan. Setelah lebih dari sembilan tahun bertempur, adidaya komunis tidak kunjung bisa menghabisi Mujahidin.
 
 

 

Pada 15 Februari 1959, pasukan Soviet mulai meninggalkan Afghanistan. Setelah lebih dari sembilan tahun bertempur, adidaya komunis tidak kunjung bisa menghabisi Mujahidin. Belakangan hari, para petinggi Moskow mengakui, pihaknya kerap salah strategi dan terlalu meremehkan kekuatan lawan.

Padahal, Afghanistan sukar ditembus. Sebagai contoh, nyaris 90 persen wilayah negeri ini terdiri atas pegunungan yang tinggi dan terjal. Selain itu, marak dijumpai lembah-lembah yang curam, sungai-sungai lebar, serta dataran tinggi yang gersang. Rusia tidak begitu familiar dengan medan tersebut.

Perang ini telah menelan jiwa lebih dari 15 ribu tentara Soviet. Hengkangnya musuh dari tanah air memang disambut suka cita rakyat Afghanistan. Namun, duka tetap menggantung. Pertempuran bertahun-tahun lamanya itu menewaskan sekira tiga juta warga setempat.

Tak kurang dari lima juta orang menjadi pengungsi. Di samping itu, infrastruktur publik hancur lebur sehingga menambah kesusahan bagi negara miskin berpenduduk 24 juta orang ini.

Barulah pada 1992 atau kira-kira satu tahun sesudah Uni Soviet bubar, komunisme enyah dari Afghanistan. Tanpa sokongan Moskow, Najibullah berada di ujung tanduk. Pada Maret 1992, ia mundur dari kursi kepresidenan.

 
Barulah pada 1992 atau kira-kira satu tahun sesudah Uni Soviet bubar, komunisme enyah dari Afghanistan. 
 
 

 

Mengikuti saran PBB, ia mendukung pemerintahan sementara Afghanistan yang melibatkan semua pihak. Di seluruh negeri, pendukungnya langsung menyerahkan diri ke Mujahidin atau malah berbalik mendukung kubu gerilyawan Muslim ini.

Pada April 1992, Kesepakatan Peshawar ditandatangani sejumlah faksi Mujahidin. Sejak saat itu, lahirlah Negara Islam Afghanistan. Namun, dokumen tersebut tidak bisa meluruhkan ego masing-masing faksi. Maka terjadilah perebutan kekuasaan di antara sesama Mujahidin.

Ada tiga faksi utama. Masing-masing dengan ideologi dan identitas etnis yang berlainan. Pertama, Hezb-e Islami yang cenderung menghendaki perubahan radikal, sesuai anjuran Said Qutb dari Mesir.

Kedua, Jamiat-e Islami, yang condong pada pemikiran Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin dari Mesir. Dibandingkan yang pertama, kelompok ini lebih moderat. Terakhir, Hezb-e Wahdat yang berwatak revolusioner serta mengusung ideologi Syiah sehingga dekat dengan Iran.

Barulah pada 1996, di tengah kekacauan itu datanglah kelompok baru. Terbentuk pada 1994, mayoritasnya terdiri atas para (mantan) pelajar. Sebelum tinggal di kamp-kamp pengungsian di Pakistan, mereka pernah menuntut ilmu di madrasah-madrasah tradisional, area Pashtun, Afghanistan timur dan selatan. Karena itulah, kelompok ini bernama Taliban—kata thalib  berarti ‘pelajar'.

Pada 27 September 1996, Taliban berhasil menduduki Kabul. Dari sana, mereka kemudian menguasai sekitar 90 persen wilayah Afghanistan. Kedatangan kelompok itu ke Ibu Kota mengubah keadaan Najibullah.

Gagal kabur ke bandara, ia terus bertahan di kamp PBB kota setempat. Sampai akhirnya, para gerilyawan Taliban datang menyerbu. Pemimpin komunis terakhir di Afghanistan ini kemudian dibunuh.

 
Burhanuddin Rabbani menyebut bahwa Taliban dibentuk, dilatih, dan dipersenjatai AS di Pakistan.
 
 

 

Taliban naik menjadi penguasa. Kelompok yang pada mulanya terbentuk untuk mengawal distribusi barang dari Pakistan ke negara-negara Asia Tengah itu menarik perhatian internasional. Beberapa sumber, semisal mantan kepala pemerintahan Afghanistan (1992-1996) Burhanuddin Rabbani, menyebut bahwa Taliban dibentuk, dilatih, dan dipersenjatai AS di Pakistan.

Adapun pendapat lain yang lebih “umum” ialah bahwa kelompok ini dibentuk pada 1994 dan mendapatkan dukungan dari Washington serta Pakistan. Sesudah berhasil menggulingkan Najibullah, pemerintahan Taliban berdiri. Pengakuan diplomatik untuknya hanya datang dari empat negara, yakni Uni Emirat Arab, Pakistan, Arab Saudi, serta Republik Ceko.

Stabilitas sosial dan politik masih jauh panggang dari api. Afghanistan tetap saja bergolak. Perpolitikan nasional setempat memang sangat dinamis. Dengan tegaknya rezim Taliban, maka kekuasaan bisa dikatakan kembali ke kelompok etnis mayoritas, yakni Pashtun. Mereka mencakup kira-kira 47 persen total penduduk Afghanistan saat itu.

Padahal, ketika masih di bawah ketiak Moscow, orang-orang Pashtun cenderung terpinggirkan. Yang naik saat itu ialah golongan minoritas Tajik, Uzbek, dan Hazara. Mereka mengalami mobilitas sosial saat negeri itu berhaluan “kiri” atau selama Perang Soviet-Afghanistan berlangsung. Maka begitu kekuasaan digenggam Taliban, mereka menolak kembali berada di bawah dominasi Pashtun.

Pada Oktober 2001, AS dan sekutu menginvasi Afghanistan dengan dalih “perang global melawan terorisme.” Rezim Taliban pun tumbang.

photo
ILUSTRASI Seorang gadis berjalan kaki menuju sekolah di Kabul, Afghanistan (12/9). Masa depan Afghanistan pasca-naiknya lagi Taliban mengundang perhatian internasional. - (DOK AP Felipe Dana)

Afghanistan Sesudah 20 Tahun

 

Jarum waktu seakan terhenti pada 11 September 2001. Dua buah pesawat yang telah dibajak para teroris menghantam Menara Kembar World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat (AS). Ribuan orang tewas akibat serangan tersebut.

Presiden AS saat itu, George W Bush, kemudian mengumumkan “perang global melawan teroris” (the Global War on Terror, GWOT). Dunia lalu dibelahnya menjadi dua. Katanya, “Every nation, in every region, now has a decision to make. Either you are with us, or you are with the terrorists.” (Tiap bangsa, tiap kawasan, kini harus memilih: apakah bersama kami atau bersama teroris).

Telunjuk diarahkannya ke Taliban, wabilkhusus Usamah bin Ladin. Rezim yang sedang menguasai Afghanistan itu didesak untuk segera menyerahkan bin Ladin. Sebab, pendiri Alqaidah itu dituding sebagai tokoh penting di balik serangan 9/11. Bertahun-tahun sudah, biaya dan daya militer dikerahkan untuk menangkapnya. Barulah pada era presiden Barack Obama, bin Ladin bisa ditangkap.

 
Usamah bin Ladin, pendiri Alqaidah, itu dituding sebagai tokoh penting di balik serangan 9/11. Bertahun-tahun sudah, biaya dan daya militer dikerahkan untuk menangkapnya.
 
 

 

Sejak invasi AS, Taliban lengser dari kekuasaan. Afghanistan kembali mengalami campur tangan asing. Dua puluh tahun lamanya, militer Barat bercokol di negara Asia Selatan itu. Dominasi Paman Sam di sana digadang-gadang membawa demokrasi dan kebebasan untuk rakyat setempat.

Nyatanya, proyek itu dianggap gagal oleh banyak kalangan. September 2021 menandakan masa berakhirnya kehadiran militer AS di sana. Seorang veteran perang AS, Jason Lilly, berkata dengan lugas, "Seratus persen kami kalah perang."

Presiden AS Joe Biden, terkait penarikan pasukan AS dari Afghanistan, menyatakan, tujuan kebijakan itu ialah melindungi nyawa tentaranya. Baginya, darah yang tumpah di negeri itu saat ini tidak akan banyak berguna.

AS pergi, Taliban bangkit lagi. Kelompok ini bahkan berhasil menduduki Kabul pada medio Agustus lalu. Sesaat sebelum kedatangan mereka, Presiden Ashraf Ghani kabur dari istana ke Uni Emirat Arab (UEA) untuk, menurutnya, menghindari pecahnya perang saudara.

Pada 30 Agustus 2021, pesawat terakhir yang memulangkan pasukan AS terakhir dari Afghanistan bertolak dari bandara Kabul. Beberapa jam setelah pesawat itu lepas landas, pasukan Taliban dan pimpinan mereka berbaris sembari meneriakkan seruan kemerdekaan dan takbir. "Afghanistan akhirnya merdeka," kata pejabat tinggi Taliban Hekmatullah Wasiq yang diapit pasukan elite Badri 313.

Taliban berjanji mewujudkan pemerintahan yang inklusif dan merangkul seluruh elemen masyarakat Afghanistan. Dan, mereka kini telah mengumumkan jajaran kabinetnya. Respons negatif ditunjukkan Gedung Putih, yang keberatan pada beberapa nama di dalam daftar tersebut.

Misalnya, Mullah Mohammad Hasan Akhun (perdana menteri) yang pernah menjadi menteri senior rezim ultrakonservatif Taliban pada 1990-an. Kemudian, Sirajuddin Haqqani (menteri dalam negeri) yang tercatat sebagai pendiri jaringan Haqqani—kelompok yang dicap teroris oleh AS.

Dulu, Amerika datang dengan janji; Taliban kini pun membawa janji (baru) lagi. Akankah semua itu terwujud? Yang jelas, rakyat menginginkan perubahan nasib menjadi lebih baik. Dunia—termasuk Indonesia—menanti perubahan signifikan dari Afghanistan: mungkinkah persatuan nasional tegak sembari merawat kemajemukan di sana.


×