Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
25 Sep 2021, 03:45 WIB

Setelah Belasan Tahun Menjadi Guru

Melihat cara sang guru mengajar dan mengelola kelas, Nurma seolah menyaksikan dirinya sendiri belasan tahun lalu.

OLEH ASMA NADIA

Nurma baru saja menyelesaikan kuliah di kejuruan ilmu pendidikan. Ia ingin mengabdi sebagai guru. Kedua orang tua yang berprofesi guru adalah inspirasinya.

Sejak kecil, ia melihat bapak dan ibunya membawa pulang pekerjaan ke rumah, melihat hasil ujian anak didik, memberi catatan satu per satu dengan pesan berbeda untuk setiap anak. Sungguh cermin dedikasi luar biasa.

Sayangnya, kedua orang tua berpulang saat Nurma menjadi sarjana. “Kamu yakin mau jadi guru?” Itu pertanyaan yang diajukan pertama kali oleh Bibi, adik dari ayahnya. Tak ada keraguan saat ia mengangguk, “Aku ingin seperti Bapak dan Ibu, Bi.”

Terkait

“Kamu tidak lihat hidup kamu dulu susah karena kedua orang tua cuma guru? Gaji mereka kecil. Mereka harus bertani dan berjualan pisang goreng untuk memenuhi kebutuhan hidup.”

Hari-hari penuh kerja keras kedua orang tua terbayang. Nurma masih mengingat berat beban hidup keluarga ketika dia kecil. Namun, gadis itu juga tak lupa orang tuanya terlihat berbahagia, khususnya setiap tahun saat menyaksikan muridnya lulus lalu masuk sekolah negeri.

 
Singkat cerita Nurma mulai mengajar di sekolah tak jauh dari desanya. Gajinya hanya beberapa ratus ribu, statusnya masih honorer.
 
 

Bahkan setelah belasan tahun, sebagian mereka ada yang sudah menjadi dokter, pilot, lurah, tentara, polisi, dan profesi lain yang membanggakan. Perasaan dan kebahagiaan serupa ingin juga Nurma rasakan.

Singkat cerita Nurma mulai mengajar di sekolah tak jauh dari desanya. Gajinya hanya beberapa ratus ribu, statusnya masih honorer.

Awalnya memang tak mudah. Ia masih kaku berdiri di hadapan siswa, metode pengajarannya masih sulit dicerna. Tak menyerah, Nurma mulai mengintip cara guru lain mengajar, lalu beradaptasi dan memodifikasi cara dan teknik mengajar mereka.

Di tahun kedua hingga keempat, Nurma mulai mengerti cara mengantarkan ilmu pengetahuan agar lebih mudah dipahami kelas. Lambat laun, ia menemukan cara lebih menarik saat mengajar bukan cuma penyampaian yang jelas, tetapi juga menyenangkan.

Di tahun kelima hingga ketujuh, dan seterusnya ia mulai menjadi guru favorit. Sekalipun masih honorer, kepiawaiannya tak berbeda dengan guru senior, bahkan dalam beberapa sisi banyak yang menyebutnya lebih baik.

Setiap tahun ada saja murid datang, kadang bersama orang tuanya. Mereka berterima kasih karena keberhasilan Nurma membimbing siswa, masuk ke sekolah negeri.

 
Namun, semua pencapaian yang telah Nurma lalui, bukan bagian dari penilaian. Ia harus mengikuti ujian, bersaing dengan sarjana yang baru lulus kuliah.
 
 

Di tahun ke sepuluh dan kesebelas mulai ada murid yang berkunjung sekadar menyampaikan berita keberhasilan mereka masuk ke perguruan tinggi negeri. Ia mulai mengalami apa yang dulu dirasakan orang tuanya, walau statusnya belum beranjak dari guru honorer.

Setelah 13 tahun mengabdi harapan itu datang. Akan dibuka seleksi bagi guru honorer agar bisa diangkat menjadi guru tetap. Nurma antusias dengan peluang menjadi pegawai negeri.

Dengan segudang prestasi, termasuk menjadi guru favorit pilihan siswa, Nurma cukup percaya diri. Apalagi banyak di antara anak didik sudah menjadi dokter, pengacara, bankir, dan profesi berkelas lain. Sekali lagi Nurma berharap dirinya pantas menjadi pegawai negeri.

Namun, semua pencapaian yang telah Nurma lalui bukan bagian dari penilaian. Ia harus mengikuti ujian, bersaing dengan sarjana yang baru lulus kuliah.

Tentu saja tidak mudah. Semua soal ujian terkait teknis dan teori yang pernah dipelajari di masa lalu, sebagian banyak yang secara nama teori sudah terlupa, meski dengan mahir dipraktikkannya selama belasan tahun mengajar.

Ujian berbasis komputer juga memberikan kesulitan tersendiri. Untuk menguasainya, ia dituntut mengikuti perkembangan zaman. Namun, gajinya bahkan sulit untuk sekadar bertahan hidup, bagaimana guru kecil seperti dia mampu bersaing mengikuti perkembangan teknologi?

Akibatnya, Nurma tak lulus ujian seleksi. Beberapa waktu mencoba bangkit dari kesedihan, sekolah tempatnya mengajar mendapat guru baru yang lulus dari seleksi ujian yang gagal dilewati Nurma.

 
Apakah adil, jika guru muda yang belum berpengalaman mendapatkan status lebih jelas, gaji lebih tinggi, jaminan lebih baik, hanya karena lolos seleksi?
 
 

Sebuah kabar baik karena sekolah mendapat guru berkualitas, lulus dari ujian yang standarnya bahkan tak dipenuh Nurma dan guru honorer lain. Ini juga kabar baik, mungkin Nurma bisa belajar lebih banyak hingga bisa melewati ujian berikut.

Hari-hari di awal dia mengajar berulang. Nurma antusias mengintip kelas sang guru baru, dengan semangat penuh untuk belajar hingga dia bisa menjadi sosok lebih baik yang pantas menjadi pegawai negeri.

Betapa tertegunnya Nurma. Melihat cara sang guru mengajar dan mengelola kelas, Nurma seolah menyaksikan dirinya sendiri belasan tahun lalu. Guru baru tersebut ternyata tidak lebih dari pengajar muda yang belum berpengalaman.

Apakah adil, jika guru muda yang belum berpengalaman mendapatkan status lebih jelas, gaji lebih tinggi, jaminan lebih baik, hanya karena lolos seleksi?

Ada investasi panjang untuk berproses, juga perjalanan kesabaran, kegigihan, upaya terus belajar, bagaimana bisa hal-hal penting ini diabaikan?

Dan potretnya tak sendiri. Seperti dia, banyak guru honorer lain yang kecewa sebab perjuangan mereka selama belasan tahun mendadak tak bernilai. Kalah oleh angka-angka pada lembar kertas hasil ujian atau layar monitor. 


×