PM Australia Scott Morrison menaiki pesawat kepresienan meninggalkan Australia, Senin (20/9/2021). | EPA-EFE/JOEL CARRETT AUSTRALIA AND NEW ZEALA
24 Sep 2021, 03:45 WIB

Morrison Masih Gagal Hubungi Macron

Morrison juga mencoba menelepon Macron tapi belum berhasil.

WASHINGTON -- Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan, ia belum berhasil membuat jadwal pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Morrison yang menggelar serangkaian pertemuan di Amerika Serikat (AS) pada pekan ini mengatakan, ia juga mencoba menelepon Macron tapi belum berhasil.

"Ya kami telah mencobanya, dan kesempatan untuk melakukan sambungan telepon belum tercapai, tapi kami akan sabar," kata Morrison. "Saya menantikannya dan ketika waktunya tepat dan ketika ada kesempatan kami akan memiliki diskusi yang sama."

Di Washington, AS, Morrison mengatakan, akan membangun kembali hubungan dengan Prancis dengan sabar. Ia mengaku memahami kekecewaan Prancis. Menurutnya, butuh waktu untuk diselesaikan. Prancis sudah menarik duta besarnya dari AS dan Australia.

Pada 15 September, Australia, Inggris, dan AS mengumumkan aliansi Indo-Pasifik yang disebut AUKUS. AUKUS singkatan dari Australia, United Kingdom (Inggris), dan United States (Amerika Serikat).

Terkait

Berdasarkan kesepakatan AUKUS, AS akan membantu Australia membangun delapan kapal selam bertenaga nuklir. Hal diikuti dengan langkah Australia menghentikan rencana membangun kapal selam diesel-listrik yang dirancang dengan Prancis sejak 2016.

Pada Rabu (22/9), Presiden AS Joe Biden berbicara melalui sambungan telepon dengan Macron untuk meredakan ketegangan. Prancis mengatakan akan kembali menempatkan duta besarnya ke Washington pekan depan.

Biden dan Macron berbicara melalui telepon selama 30 menit. Kedua pemimpin sepakat untuk meluncurkan konsultasi mendalam untuk membangun kembali kepercayaan dan bertemu di Eropa pada akhir Oktober. Gedung Putih di AS, mengakui kekeliruan karena menjalin kesepakatan dengan Australia tanpa berkonsultasi dengan Prancis sebagai salah satu sekutunya.

"Kedua pemimpin sepakat bahwa ada keuntungan yang bisa diambil dari konsultasi terbuka di antara sekutu mengenai hal-hal yang menjadi kepentingan strategis bagi Prancis dan mitra Eropa kami," kata pernyataan bersama AS dan Prancis. 

Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengatakan batalnya kesepakatan kapal selam dengan Australia disebabkan tidak adanya dialog politik di NATO. Tapi ia juga menolak gagasan Prancis keluar dari aliansi pertahanan tersebut.

 
Prancis kehilangan kesepakatan senilai 66 miliar dolar AS dengan Australia.
 
 

Prancis kehilangan kesepakatan senilai 66 miliar dolar AS dengan Australia. Setelah Negeri Kanguru memutuskan untuk membuat kemitraan pertahanan dengan Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Sehingga mereka akan membangun kapal selam tenaga nuklir dengan teknologi dua negara tersebut.

"Perilaku Amerika Serikat dalam situasi mengenai program kapal selam memberi gambaran baru apa yang sudah kami sampaikan selama berbulan-bulan, yaitu tidak ada dialog politik di Aliansi Atlantik," kata Parly di sidang Senat Prancis, seperti dikutip Sputnik, Kamis (23/9).

Ia juga menolak gagasan Prancis keluar dari struktur komando NATO. Gagasan itu disampaikan sejumlah politisi Prancis usai kesepakatan kapal selam dengan Australia batal. "Apakah hal pantas untuk menutup pintu pada NATO? Saya kira tidak," katanya pekan lalu.

Australia membatalkan kontrak senilai 66 miliar dolar AS dengan produsen kapal selam Prancis. Mereka memilih membangun kapal selam sendiri dengan teknologi nuklir dari AS dan Inggris. Pengumuman ini disampaikan setelah AS, Inggris dan Australia membentuk kemitraan keamanan yang dinamakan AUKUS.

Sumber : Reuters/Associated Press


×