Pekerja menjemur jagung di Desa Topore Kecamatan Papalang, Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (12/4/2021). Harga jagung di tingkat petani mengalami kenaikan dari harga Rp3.200 naik menjadi Rp3.800 per kilogram akibat kurangnya produksi panen dan tingginya perm | ANTARA FOTO/Akbar Tado

Ekonomi

23 Sep 2021, 10:40 WIB

Kementan Tegaskan Jagung Tersedia

Pataka menyarankan pengelolaan data jagung diserahkan ke BPS.

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan data stok jagung sebanyak 2,3 juta ton merupakan data valid. Hal itu ditegaskan seiring adanya keraguan terhadap data jagung saat ini.

Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Ismail Wahab menjelaskan, pihaknya melakukan pembaruan data stok jagung secara rutin setiap pekan dan ditangani langsung oleh dua unit, yakni Badan Ketahanan Pangan (BKP) serta Pusat Data dan Informasi Pertanian. 

BKP melakukan survei periodik stok jagung di pengepul, gudang Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), dan pasar. Sedangkan Pusdatin secara langsung mendata melalui mantri tani dan harmonisasi data Badan Pusat Statistik (BPS).

"Kementan siap menunjukkan lokasi gudang dan sentra yang saat ini memiliki stok jagung bila ada pihak lain yang ingin segera membantu distribusi jagung," kata Ismail saat dikonfirmasi, Rabu (22/9).

Ia menegaskan, masalah saat ini bukan produksi melainkan distribusi jagung ke peternak terhambat. Ismail mengakui ada kecenderungan pabrik pakan besar dan pengepul untuk menyimpan jagung dalam jumlah besar. Hal ini dilakukan untuk mencegah gangguan suplai jagung untuk produksi pakan dan antisipasi kondisi harga jagung global yang juga sedang tinggi.

“Harga jagung di petani masih tinggi, karena pabrik juga masih berani membeli tinggi. Sementara harga pasar dunia naik 30 persen. Saya kira regulator harga jagung harus melakukan intervensi aktif,” katanya.

Selain itu, ia meyakini dalam waktu dekat pasokan jagung akan bertambah seiring memasuki masa panen. Dia mengatakan, pada September hingga Oktober merupakan masa panen jagung yang ditanam di lahan sawah.

Salah satu wilayah dengan produksi besar, yakni Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang siap menyuplai kebutuhan jagung pakan ternak. Kepala Dinas Pertanian Grobogan Sunanto menegaskan, wilayahnya siap mensuplai kebutuhan jagung bagi peternak ayam. Menurutnya, pada September dan Oktober ini produksi jagung di Kabupaten Grobogan dapat mencapai 170 ribu ton.

“September ini luas panen ada 26 ribu hektare dengan produksi 170 ribu ton. Kalau dikonversi dengan kadar air 15-17 persen maka masih ada 120 ribu ton," katanya.

Sunanto menambahkan, pada Oktober nanti, luas panen mencapai 11 ribu hektare dengan produksi jagung sebesar 70 ribu ton. Apabila dikonversi dengan kadar air 15-17 persen maka akan tersedia jagung sebanyak 50 ribu ton.

Ia tak memungkiri petani jagung pada musim tanam kali ini menikmati hasil panen yang baik terutama soal harga. Menurut dia, harga yang baik di tingkat petani juga akan membantu pemulihan ekonomi nasional.

Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) menyarankan agar pengelolaan data jagung dilakukan dan diterbitkan langsung oleh BPS. Hal itu selayaknya data perberasan yang saat ini dikelola langsung oleh BPS sehingga tidak ada klaim sepihak.

"Persoalan data harus segera diakhiri dan mencapai kesepakatan bahwa data jagung ke depan harus dikelola oleh BPS. Ego sektoral harus dibuang jauh-jauh," kata Ketua Pataka Ali Usman.

Menurut dia, baik petani maupun peternak adalah bagian penggerak ekonomi negara. Sehingga, tidak semestinya keduanya saling menekan harga.

"Inilah momentum harmonisasi para pemangku kepentingan baik petani, peternak, pelaku usaha jagung, distributor jagung, dan industri pakan," katanya. 

Pataka juga masih mempertanyakan data jagung sebesar 2,3 juta ton saat ini. Menurut dia, data jagung yang besar tidak selaras dengan melambungnya harga jagung yang mencapai Rp 6.000 per kg dari harga acuan Rp 4.500 per kg.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ditjen Tanaman Pangan (ditjentanamanpangan)

"Kalau memang surplus seharusnya harga jagung lebih murah, bukan sebaliknya," kata Ali.

Sementara itu, untuk mendukung kebutuhan industri pakan ternak, PT Berdikari (persero) mendatangkan gandum impor sebanyak 25 ribu ton. Importasi tersebut merupakan tahap ketiga dari total alokasi impor gandum Berdikari tahun ini sebanyak 300 ribu ton.

Direktur Utama Berdikari, Harry Warganegara, menjelaskan, gandum yang diimpor khusus untuk klasifikasi pakan ternak sehingga berbeda dengan gandum untuk bahan baku konsumsi pangan masyarakat.

“Gandum didatangkan adalah amanat pemerintah dalam upaya bersama menstabilkan harga pakan ternak sehingga Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) dapat menjaga kestabilan harga pakan," kata Harry.


×