Ilustrasi PTPN V yang menanam kelapa sawit. meraup Rp 168,8 miliar dari premi penjualan crude palm oil dan palm kernel oil dengan harga premium. | Youtube
22 Sep 2021, 11:46 WIB

PTPN V Raup Rp 168,8 Miliar dari Sertifikasi Nasional

PTPN V meraup Rp 168,8 miliar dari premi penjualan crude palm oil dan palm kernel oil dengan harga premium.

PEKANBARU — PT Perkebunan Nusantara V, anak perusahaan holding perkebunan PTPN III (Persero), meraup Rp 168,8 miliar dari premi penjualan crude palm oil dan palm kernel oil dengan harga premium.

Adanya sertifikasi standardisasi karbon internasional atau International Sustainability & Carbon Certification (ISCC) serta Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) telah mendongkrak keuntungan perusahaan.

Senior Executive Vice President PTPN V Rurianto mengatakan, PTPN V merupakan perusahaan perkebunan milik negara pertama yang mengantongi sertifikasi standar Eropa ISCC sejak 2018.

Saat ini, 70 persen unit pabrik kelapa sawit (PKS) dan kebun PTPN V telah mengantongi sertifikasi berstandar internasional tersebut. Perusahaan juga telah memiliki RSPO yang mencapai 75 persen dari seluruh unit.

Terkait

"Untuk diketahui, baik ISCC maupun RSPO memberikan keuntungan berupa harga premium untuk produk PTPN V. Sejak 2019, perusahaan mendapat keuntungan harga premium mencapai Rp 168,8 miliar atau rata-rata Rp 61 miliar per tahun," kata Rurianto dalam keterangan resminya, Selasa (21/9).

Rurianto memaparkan, saat ini delapan dari 12 PKS serta 10 unit kebun PTPN V telah mengantongi sertifikasi ISCC. Di antaranya Tandun, Rokan, Lubuk Dalam, Terantam, Tanjung Medan, Sungai Pagar, Intan, dan Tapung.

Sementara, empat PKS dan unit kebun lainnya diperkirakan akan mengantongi sertifikasi yang mampu memberikan kontribusi tambahan harga 10 dolar AS hingga 15 dolar AS per ton CPO tersebut pada 2023.

"Tahun depan kita akan kembali melakukan proses sertifikasi. Insya Allah 2023 seluruhnya rampung dan 100 persen tersertifikasi ISCC,” ujar Rurianto.

Menurut Rurianto, langkah tersebut sejalan dengan transformasi korporasi dalam upaya peningkatan kinerja berkelanjutan dan berdampak pada upaya-upaya menekan emisi dan penurunan gas rumah kaca.

ISCC berfokus pada sejumlah kriteria. Paling utama adalah kadar gas rumah kaca (GRK) yang harus berada di bawah ambang batas 1.000 CO2Eq. Untuk itu, sertifikasi ISCC diharapkan lebih mudah menyusul pembangunan empat pembangkit tenaga biogas (PTBg) cofiring di empat PKS PTPN V yang direncanakan rampung hingga 2021 ini.

Keberadaan empat PTBg tersebut akan melengkapi dua pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) yang telah berdiri sebelumnya "Dengan adanya PTBg, pabrik PTPN V terbantu karena gas metan yang dilepaskan ke udara tidak hanya berkurang, tapi juga konversi gas ini malah bisa menjadi nilai tambah dengan dimanfaatkan menjadi sumber energi,” kata Rurianto.

Rurianto menyampaikan, hingga saat ini sembilan PKS dan satu pabrik palm kernel oil (PKO) mengantongi sertifikasi. Saat ini, proses penilaian di tiga PKS dan kebun lainnya masih berlangsung. Perusahaan menargetkan pada 2022 mendatang seluruh unit PTPN V akan tersertifikasi RSPO.

"Kami berkomitmen terus menekan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari seluruh rangkaian kegiatan produksi perkebunan sawit. Sertifikasi ISCC dan RSPO ini menunjukkan bahwa produk yang kami hasilkan telah memenuhi standar energi terbarukan Uni Eropa (UE Renewable Energy Directive) serta komitmen kami sebagai produsen CPO yang bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Rurianto.

PTPN V merupakan anak perusahaan holding perkebunan yang beroperasi di Riau dengan total luas lahan inti mencapai 86 ribu hektare (ha) serta memproduksi 500  ribu ton per tahun. PTPN V telah mengaplikasikan standardisasi sawit berkelanjutan berupa Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), Roundtable Sustainable Palm Oil, dan ISCC untuk menembus ekspor sawit ke Eropa.


×