Petani mengumpulkan jagung untuk dijemur di Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (9/8/2021). Petani setempat mengatakan harga jual jagung di tingkat petani naik dari Rp3.000 menjadi Rp5.000 per kilogram akibat minimnya hasil panen di dae | ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/rwa.
22 Sep 2021, 11:10 WIB

Kemendag Siapkan Subsidi Jagung

Rata-rata harga jagung pakan mulai mengalami penurunan.

JAKARTA -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) siap memberikan subsidi harga jagung sebanyak 30 ribu ton untuk membantu para peternak unggas demi kebutuhan pakan. Subsidi tersebut diberikan untuk penanganan jangka pendek akibat tingginya harga jagung untuk pakan unggas.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menjelaskan, rata-rata harga jagung paling tinggi saat ini mencapai Rp 6.100 per kilogram (kg). Harga itu jauh melampaui dari acuan pemerintah sebesar Rp 4.500 per kg untuk kadar air 14 persen.

"Kita siap subsidi, saya tanggung jawab di mana pun barangnya, mau lokal dan impor. Ini untuk kebutuhan bulan ini dulu karena kita harus realistis untuk menyiapkan ke depan," kata Lutfi dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR, Selasa (21/9).

Jika rata-rata harga jagung yang perlu disubsidi sebesar Rp 1.500 per kg, kebutuhan dana diperkirakan sekira Rp 45 miliar. Lutfi menegaskan, dana tersebut telah ada menggunakan alokasi anggaran program Cadangan Stabilisasi Harga Pangan (CSHP) sebesar Rp 1,5 triliun.

Terkait

Kenaikan harga jagung saat ini telah diperkirakan sejak Maret lalu. Pihaknya mengaku telah membuat surat resmi kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian agar menyiapkan langkah antisipasi terhadap sejumlah komoditas bahan pokok yang sensitif, termasuk jagung.

Dia mengatakan, komoditas jagung memiliki pengaturan tata niaga khusus, salah satunya jika ingin melakukan importasi, harus melalui persetujuan Kementerian Pertanian. Berbeda dengan komoditas kedelai yang juga mengalami lonjakan harga, tetapi pasokan tetap tersedia karena importasi dibebaskan.

"Jagung itu tata niaganya diatur, tidak bisa sembarangan diimpor. Ini mesti dipikirkan," tutur Lutfi.

Menurutnya, kenaikan harga jagung saat ini cenderung diakibatkan faktor penawaran dan permintaan. Dia mengatakan, jika pasokan tersedia dengan cukup, harga tidak mungkin melonjak seperti saat ini. Lutfi mengatakan, kebutuhan jagung sebesar 7.000 ton per bulan di Blitar, Jawa Timur, sempat tidak terpenuhi.

"Sekarang kita jangan berbicara jutaan ton, 7.000 ton saja tidak ada untuk Blitar satu bulan. Saya sudah cek. Jadi, intinya kita siap kasih subsidi, tinggal tunjukkan di mana barangnya," ujarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Pertanian RI (kementerianpertanian)

 

Kementerian Pertanian yang bertanggung jawab terhadap penyediaan pasokan komoditas pangan mengeklaim ketersediaan jagung hingga akhir pekan kedua September mencapai 2,3 juta ton. Stok tersebut tersebar di Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) sebanyak 722 ribu ton, di pengepul 744 ribu ton, di agen 423 ribu ton, serta sisanya 411 ribu ton ada di usaha lain, eceran dan di rumah tangga.

Lutfi mengatakan, saat ini diperlukan langkah yang cepat untuk menyelamatkan peternak ayam. Hal ini karena peternak terimpit di antara masalah harga telur ayam yang turun akibat daya beli dan harga pakan unggas yang melonjak.

Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi menjelaskan, memang terdapat disparitas harga jagung di pasar dari acuan yang ditetapkan pemerintah. Meski begitu, dia menekankan, ketersediaan dalam negeri masih cukup.

"Permasalahan utama adalah bagaimana agar persoalan antara pengusaha pakan, baik besar maupun kecil, bisa disinkronkan terhadap peternak-peternak rumahan yang memang dalam hal ini sangat dirugikan," kata Harvick.

Harvick menyatakan, stok jagung dalam negeri pada dasarnya cukup, termasuk untuk kebutuhan pakan ternak unggas. Namun, saat ini tengah terjadi persoalan distribusi yang tidak merata sehingga menyebabkan kenaikan harga di beberapa daerah dan memberikan dampak besar bagi peternak.

Sementara itu, harga jagung pakan disebut mulai mengalami penurunan usai Presiden Joko Widodo turun tangan menangani keluhan para peternak ayam petelur pada pekan lalu. Penurunan harga yang terjadi dinilai akibat dampak psikologis pasar.

Presiden Forum Peternak Layer Nasional (PLN) Ki Musbar Mesdi mengatakan, rata-rata harga jagung pakan mulai mengalami penurunan hingga di bawah Rp 5.500 per kg. Menurut dia, proses penurunan tersebut akan terus berlanjut meskipun stok jagung belum dimobilisasi secara massal kepada para peternak. "Ini dampak psikologis dari perintah presiden," kata Musbar.


×