Petani menjemur jagung di Desa Toabo, Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (30/7/2021). Menurut petani setempat, harga jagung di tingkat petani mengalami kenaikan harga dari Rp3.500 per kilogram menjadi Rp4.000 per kilogram akibat meningkatnya permintaan untuk | ANTARA FOTO ANTARA FOTO/Akbar Tado/wsj.
20 Sep 2021, 18:55 WIB

1.000 Ton Pakan Jagung Dipasok ke Sentra Peternak

Komoditas jagung akan dibuatkan cadangan pangan dan pakan agar pemerintah mengatur harga komoditas tersebut.

JAKARTA – Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono mengatakan pihaknya akan memasok 1.000 ton pakan jagung ke daerah sentra peternak unggas petelur yaitu Blitar Jawa Timur, Kendal Jawa Tengah, dan Provinsi Lampung untuk menyediakan pakan murah bagi peternak rakyat.

"Pak Menteri Pertanian sudah buat tiga skenario yaitu jangka pendek, jangka menegah, dan jangka panjang. Jangka pendek melalui Ditjen Tanaman Pangan menyuplai 1.000 ton jagung khusus pakan di Blitar, Kendal Jawa Tengah, dan Lampung," kata Kasdi dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR di Jakarta, Senin.

Selain itu, Kementerian Pertanian juga akan menyerap telur dari peternak rakyat oleh perusahaan integrator milik pemerintah guna mengatasi jatuhnya harga telur di pasaran.Selanjutnya, penyerapan telur dari peternak rakyat tersebut nantinya akan berkelanjutan karena akan diolah menjadi tepung telur.

"Perlu waktu untuk merancang integrator mana yang nanti dibangunkan pabriknya, supaya telur tidak oversupply sehingga menyebabkan harga jatuh," kata Kasdi.

Terkait

Untuk jangka panjang yang sifatnya lebih permanen, lanjut dia, komoditas jagung nantinya akan dibuat buffer stock atau cadangan pangan dan pakan agar pemerintah bisa mengatur harga komoditas tersebut di pasaran layaknya pengendalian harga beras.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi menerangkan solusi lain untuk pengendalian harga jagung yaitu dengan memperlancar distribusi dari daerah sentra jagung langsung ke peternak. Kementan mendorong kemitraan petani jagung yang dibina di bawah Kementerian Pertanian dengan peternak rakyat.

"Petani jagung yang kami bina untuk bermitra kepada peternak kecil, sehingga ada jaminan pasokan, dan harga disepakati bersama. Sehingga enak sama enak antara petani jagung dan peternak telur," kata Suwandi.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo memerintahkan kepada Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan untuk menyediakan jagung untuk pakan ternak sebanyak 30 ribu ton dengan harga Rp 4.500 per kg. Kebijakan tersebut untuk meringankan beban peternak rakyat agar bisa berproduksi dengan maksimal dan bisa menjual telur atau ayam pedaging di atas HPP.

Kemendag rancang aturan penyediaan jagung

Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah menyiapkan regulasi pendukung untuk penyediaan jagung pakan murah bagi peternak. Kemendag bersama sejumlah kementerian terkait juga segera membahas penugasan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menetapkan besaran jagung yang akan disiapkan.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan, regulasi dari Kemendag ditargetkan selesai pada pekan ini. "Regulasi ini untuk mengatur mekanisme selisih margin karena (BUMN) diharuskan memasok jagung ke peternak rakyat dengan harga sesuai acuan Rp 4.500 per kilogram," kata Oke kepada Republika, Ahad (19/9).

Oke menjelaskan, regulasi Kemendag tidak berfokus terhadap penugasan kepada BUMN. Dia mengatakan, beleid tersebut akan mengatur pemanfaatan cadangan stabilisasi harga pangan (CSHP) sebagai pengganti biaya pengadaan jagung.

Dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan perwakilan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) salah satunya disepakati pemerintah akan menyiapkan jagung dengan harga Rp 4.500 per kg. Hal itu karena rata-rata harga jagung melonjak hingga Rp 6.000 per kg.

Sementara itu, Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Ismail Wahab belum dapat menjelaskan lebih detail mengenai penyediaan jagung untuk peternak. Dia mengatakan, Kementan masih dalam proses penyelesaian kebijakan untuk menindaklanjuti hasil pertemuan bersama Pinsar.

Para peternak menanti realisasi janji pemerintah untuk menyiapkan jagung pakan ternak unggas dengan harga terjangkau. Ketua Umum Pinsar Singgih Januratmoko mengatakan, pada pertemuan yang digelar pekan lalu, pihaknya menyampaikan langsung kepada presiden agar peternak bisa mendapatkan jagung dengan harga Rp 4.500 per kg.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ditjen Tanaman Pangan (ditjentanamanpangan)

Menurut Singgih, Presiden Joko Widodo menyetujui permintaan tersebut dan akan ditindaklanjuti melalui kementerian teknis, yakni Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian.

"Jagung yang paling mendesak. Usulan Menteri Perdagangan akan memberikan subsidi jagung sebanyak 30 ribu ton hingga akhir Desember sehingga harga jagung yang diterima peternak bisa Rp 4.500 per kg. Ini dalam jangka waktu sepekan kita tunggu saja barangnya ada atau tidak," kata Singgih.

Singgih mengungkapkan, pihaknya juga mengusulkan opsi impor jagung untuk kebutuhan stabilisasi harga di dalam negeri. Dia menekankan, harga jagung pakan saat ini telah menambah beban para peternak unggas.

"Saya usulkan ini (impor) walaupun tidak populer tapi presiden setuju selama untuk stabilisasi. Tapi kalau bisa memang (lebih baik) tidak impor," katanya.

Lebih lanjut, Singgih menuturkan, Pinsar juga meminta pemerintah agar membuat sistem cadangan jagung pemerintah seperti komoditas beras. Setidaknya, cadangan jagung harus tersedia 500 ribu ton setiap bulannya agar harga jagung dalam negeri tetap stabil dan peternakan rakyat mendapatkan kepastian harga pakan.

Menurut dia, pemerintah juga menyetujui usulan tersebut dan akan menyiapkannya lewat penugasan terhadap BUMN. Berkaca dari situasi industri perunggasan rakyat yang kerap mengalami fluktuasi harga diperlukan adanya regulasi setingkat keputusan presiden untuk melindungi peternak. Sebab, selama ini peternak kecil selalu bersaing dengan perusahaan besar di pasar bebas.

Peternak berharap agar ada pengaturan impor grand parent stock (GPS) atau indukan ayam secara merata dan adil sehingga dominasi perusahaan besar tidak terlalu besar. Perusahaan besar juga diminta untuk tidak menjual ayam hidup atau ayam tanpa bulu di pasar bebas.

"Itu yang kita usulkan dan disetujui semua oleh presiden. Jadi ada yang jangka pendek untuk jagung, lalu menengah dan panjang. Presiden juga sudah perintahkan Kemendag dan Kementan untuk membuat aturan mengenai itu," kata Singgih.

Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) juga menyarankan pemerintah agar menerbitkan aturan khusus terkait perlindungan terhadap komoditas strategis di sektor peternakan. Hal itu lantaran komoditas daging ayam serta telur ayam ras kerap mengalami fluktuasi harga yang merugikan peternak. Ketua Pataka, Ali Usman menuturkan, peternak rakyat baik peternak broiler maupun layer belakangan ini berguguran akibat persaingan usaha yang tidak sehat.


×