Polisi memperlihatkan sejumlah barang bukti hasil kontak tembak antara Satgas Madago Raya dengan kelompok teroris MIT Poso di Mapolres Parigi Moutong di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Ahad (19/9/2021). Empat anggota MIT tersisa dinilai tak mem | ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah.
20 Sep 2021, 03:55 WIB

MIT Diburu Sampai Habis

Empat anggota MIT tersisa dinilai tak memiliki kekuatan untuk melawan.

PALU — Satgas Madago Raya menyatakan, akan terus memburu anggota kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) hingga habis. Kini, anggota jaringan tersebut tersisa empat orang, setelah pimpinan MIT Ali Kalora dan satu anggota lainnya ditembak mati dalam operasi pada Sabtu (18/9) malam di Desa Astina, Torue, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Kepala Satgas Madago Raya Komisaris Besar (Kombes) Didik Supranoto mengultimatum keempat anggota tersisa MIT untuk menyerahkan diri ke Polri maupun Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dia menegaskan, keempat orang itu bakal terus diburu hidup atau mati jika tak menyerahkan diri.

Menurut Didik, empat anggota MIT yang tersisa adalah Askar alias Jaid alias Pak Guru. Kemudian, Nae alias Galuh alias Muklas. Lainnya, yakni Suhardin alias Hasan Pranata dan Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang.

“Kami (Satgas Madago Raya) kembali mengimbau kepada empat orang sisa DPO (daftar pencarian orang) teroris Poso untuk menyerahkan diri secara baik-baik dan berani mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum,” kata Didik dalam keterangannya, di Jakarta, Ahad (19/9).

Terkait

Semula, anggota MIT yang masuk dalam DPO sebanyak sembilan orang. Kelompok tersebut adalah generasi terkini dari sepak terjang MIT Santoso yang dilabeli sebagai teroris di Poso, Sulteng.

Kelompok MIT kerap melakukan pembunuhan terhadap warga sipil. Setelah Santoso ditembak mati dalam operasi gabungan TNI-Polri pada 2016 lalu, Ali Kalora yang bernama asli Ali Ahmad mengambil tampuk kepemimpinan MIT di Sulteng. 

photo
Seorang wanita yang merupakan pihak keluarga dari pimpinan kelompok MIT Poso Ali Kalora berjalan menuju ke ruang jenazah di RS Bhayangkara di Palu, Sulawesi Tengah, Ahad (19/9/2021). Jenazah pimpinan kelompok MIT Poso Ali Kalora dan pengikutnya yakni Jaka Ramadan akhirnya dimakamkan oleh pihak Kepolisian usai dikunjungi pihak keluarga. - (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/wsj.)

Pada Sabtu (18/9) malam waktu setempat, Satgas Madago Raya dari tim Sogili-2 berhasil menemukan persembunyian Ali Kalora di Desa Astina. Satgas Madago Raya sebenarnya mengupayakan penangkapan hidup-hidup. Namun, dalam operasi tersebut, terjadi kontak senjata dan dua MIT tewas di tempat.

“Akibat kontak tembak, ditangkap dua DPO teroris Poso yang diduga adalah Ali Kalora dan Jaka Ramadhan alias Ikrima alias Rama dalam kondisi meninggal dunia,” terang Didik.

Lokasi persembunyian Ali Kalora bersama Jaka Ramadhan saat kontak senjata itu, kata Didik, tak jauh dari operasi serupa yang pernah dilakukan tim gabungan Polri-TNI pada Juni lalu. “Jaraknya sekitar lima kilometer dari TKP (tempat kejadian perkara) di Pegunungan Desa Buana Sati yang mengakibatkan Abu Alim meninggal dunia,” kata Didik menambahkan. 

Pada 17 Juni 2021, Satgas Madago Raya dalam operasinya di wilayah itu juga menembak mati anggota MIT atas nama Abu Alim alias Ambo. Setelah itu, pada Sabtu (17/7) dan Ahad (18/7), tim gabungan Polri-TNI menembak mati dua anggota MIT di Pegunungan Tokasa, Desa Tanalanto.

Terkait perburuan Ali Kalora, Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Rudy Sufahriadi menceritakan, Satgas awalnya mendapatkan informasi dari kegiatan intelijen terkait keberadaan dua DPO di sekitar Desa Astina. Rudy menjelaskan, mengingat waktu operasi pendek karena sudah masuk sore hari dan telah dilakukan pembagian sektor masing-masing, pihaknya mengerahkan dua tim untuk melakukan pengejaran ke wilayah Torue.

photo
Operasi Menumpas MIT - (Republika)

Dari pengejaran itu terjadi baku tembak dan dua DPO berhasil dilumpuhkan. Dari kegiatan operasi, Satgas Madago Raya mengumpulkan sejumlah barang bukti, termasuk dua pucuk senjata laras panjang jenis M16 milik DPO. "Penindakan dilakukan aparat sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) operasi," ujar Rudy.

Ia menyampaikan, masih tersisa empat DPO MIT yang terus dilakukan pengejaran oleh personel dari berbagai satuan yang tergabung dalam Operasi Madago Raya. Pemerintah dan kepolisian telah mengimbau mereka agar menyerahkan diri, tapi kegiatan operasi dan pengejaran terus dilaksanakan. 

Dua jenazah teroris Poso itu telah berada di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulawesi Tengah setelah dievakuasi dari tempat kejadian. Kedua jenazah dibawa menggunakan dua unit mobil ambulans dan tiba di Palu, Ahad, sekitar pukul 04.10 WITA.

photo
Sejumlah personel Polri dan TNI yang tergabung dalam Satgas Madago Raya berkoordinasi saat melakukan patroli di pergunungan Manggalapi, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (16/8/2021). Pasca ditembakmatinya tiga anggota DPO Teroris Poso pada Juli 2021 lalu, operasi keamanan bersandi Madago Raya yang kini memasuki tahap III itu terus memburu enam orang sisa DPO lain yang masih bersembunyi di pegunungan di tiga wilayah, yakni Poso, Sigi, dan Parigi Moutong. - (ANTARA FOTO/Rangga Musabar)

Pengamat teroris dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai, ancaman teror di wilayah Poso dan sekitarnya akan berkurang setelah tewasnya Ali Kalora. Hal tersebut lantaran kelompok MIT telah kehilangan sosok pemimpin. "Dari sisa empat orang tidak ada yang selevel Ali Kalora untuk menjadi leader," kata Harits kepada Republika, Ahad (19/9).

Menurutnya, keempat orang yang tersisa hanya menjadi sekumpulan orang untuk bertahan hidup bersama atau secara individu menghadapi ancaman sergapan Satgas Madago Raya. Selain itu, sisa empat orang tersebut tidak memiliki senjata api dan amunisi yang layak dipakai untuk melawan.  

Namun, hal lain yang juga perlu menjadi perhatian adalah munculnya simpatisan baru atau kelompok tertentu yang ingin menjadikan Poso wilayah konflik. Dengan beragam pola provokasi, kata dia, mereka memanfaatkan kelompok tertentu yang terkait dengan konflik masa lalu. "Perlu dilakukan deteksi dini," katanya.  

Cegah Radikalisme

Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sulawesi Tengah mengajak warga membangun kerja sama untuk mencegah berkembangnya gerakan radikalisme dan terorisme. Hal ini dinilai penting agar tidak ada lagi kelompok-kelompok baru setelah pimpinan MIT berhasil ditembak mati Satgas Madago Raya.

photo
Sejumlah personel Polri dan TNI yang tergabung dalam Satgas Madago Raya melakukan patroli di pegunungan Manggalapi, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (16/8/2021). - (ANTARA FOTO/Rangga Musabar)

Ketua FKPT Sulteng, Muhd Nur Sangadji mengatakan, upaya TNI-Polri mengejar dan memberantas kelompok garis keras MIT di wilayah Sulteng harus didukung semua komponen dan elemen bangsa. "Dengan adanya kejadian tertembak matinya Ali Kalora dan Jaka Ramadhan, kita berharap anggota kelompok yang tersisa agar menyerahkan diri," kata dia, Ahad (19/9).

Ia mengatakan, masyarakat juga berharap dengan tertembaknya dua DPO itu tidak muncul lagi tambahan anggota baru, baik yang berada dari luar maupun dari Sulawesi Tengah sendiri.

Untuk kepentingan jangka pendek, dibutuhkan kesiagaan petugas di gerbang masuk Sulawesi Tengah, baik di darat, laut, maupun udara. "Begitu juga di wilayah aglomerasi operasi kelompok ini, antara lain, Palu, Donggala, Parigi, Sigi, dan Poso," kata Nur Sangadji yang juga akademisi Untad Palu.

FKPT Sulteng menambahkan, hal penting lainnya yang harus dilakukan adalah membangun kesiagaan di tingkat mikro, kecamatan, desa, RW, dan RT. Bahkan, keterlibatan lembaga atau organisasi di tingkat masyarakat, seperti dasawisma, kelompok pengajian, kelompok ibadah, dan sejenisnya sangat penting.

Untuk jangka panjang, menurut dia, perlu terus-menerus mendorong upaya pencegahan. Salah satu cara dengan memperkuat pelajaran kebangsaan dalam pendidikan. "Misalnya, pendidikan Pancasila, pendidikan karakter, dan sejenisnya," ujarnya.

Selain itu, membangun kepekaan masyarakat atau warga terhadap isu radikalisme dan terorisme. Ia menyebut rukun tetangga perlu direvitalisasi peranannya dan organisasi masyarakat perlu diberdayakan.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah mendukung penuh upaya yang dilakukan TNI dan Polri dalam menindak para pelaku kejahatan terorisme di wilayah Sulteng, termasuk di Poso. "Ini merupakan wujud nyata keberpihakan negara dalam memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat," ujar Ketua FKUB Provinsi Sulteng  Zainal Abidin, di Palu, Ahad (19/9).

photo
Polisi berjaga di depan gerbang Rumah Sakit Bhayangkara yang akan menjadi lokasi identifikasi dua jenazah dari kelompok DPO Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso di Palu, Sulawesi Tengah, Ahad (11/7/2021). - (ANTARA FOTO/BASRI MARZUKI)

Ia mengatakan, radikalisme dan terorisme merupakan musuh negara yang tidak bisa dibiarkan untuk tumbuh berkembang di NKRI, termasuk di wilayah Sulteng. "Aksi-aksi teror yang mereka lakukan di Parigi Moutong, Sigi, dan Napu Kabupaten Poso merupakan aksi keji, tidak manusiawi, yang sangat mencederai kemanusiaan dan kerukunan antarsesama manusia dan agama," ujar Zainal.

Oleh karena itu, Zainal Abidin mengingatkan semua pihak di Sulteng agar mewaspadai penyebaran radikalisme. "Radikalisme di Sulawesi Tengah bukan sebatas pemikiran atau ideologi, melainkan sudah sampai dalam bentuk tindakan teror. Bahkan hingga hari ini, kelompok MIT masih eksis," ujar dia.

Guru Besar UIN Datokarama Palu itu mengatakan, hasil survei BNPT bersama Alvara Research dan Nasaruddin Umar Foundation menunjukkan, tren potensi radikalisme di Indonesia menurun, dari tahun 2017 sebesar 55,2 persen atau masuk dalam kategori sedang. Tahun 2019 sebesar 38,4 persen, kategori rendah, dan pada 2020 menjadi 14 persen, yaitu kategori sangat rendah.

"Namun, hal ini tidak harus membuat kita berpuas diri apalagi lengah, penurunan data statistik ini bukan berarti radikalisme segera berakhir," ujarnya pula.

Ia mengingatkan semua pihak bersatu padu melawan radikalisme dan terorisme, dengan tidak memberikan ruang kepada mereka untuk berkembang. "Salah satunya, yakni langkah pencegahan harus kita optimalkan, jangan sampai terjadi mati satu, tumbuh seribu," kata dia.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, Sagaf S Pettalongi, mengajak semua pihak di Sulteng untuk mendukung penuh langkah TNI dan Polri dalam upaya penindakan pemberantasan aksi terorisme yang dilakukan MIT. Radikalisme dan terorisme tidak boleh diberikan ruang untuk berkembang di NKRI. Sebaliknya, harus dilawan dengan melakukan pencegahan dan penindakan.

"Pemerintah, TNI, dan Polri serta tokoh agama, tokoh perempuan, masyarakat, akademisi, pers, harus bersatu melawan tumbuh dan berkembangnya gerakan radikalisme dan terorisme," katanya.

Sumber : Antara


×