Prajurit TNI AD menggotong tenaga kesehatan (Nakes) korban penyerangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) usai dievakuasi menggunakan helikopter milik TNI AD di Lapangan Frans Kaisepo Makodam XVII Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua, Jumat (17/9/2021). | ANTARA FOTO/Indrayadi TH

Nasional

20 Sep 2021, 03:45 WIB

Usut Tuntas Kematian Nakes di Kiwirok

Satu nakes korban serangan di Kiwirok masih hilang.

JAKARTA — Amnesty Internasional Indonesia mengutuk keras insiden penyerangan kelompok bersenjata yang membawa gugur tenaga kesehatan (nakes) Gabriella Meilani di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, Papua.

Deputi Direktur Amnesty Wirya Adiwena meminta agar negara melakukan pengusutan tuntas terkait insiden penyerangan yang menyasar masyarakat sipil dan sejumlah perawat di wilayah timur pegunungan Bumi Cenderawasih tersebut.

Wirya menegaskan, insiden penyerangan, dan kematian petugas nakes di Kiwirok, menambah catatan buruk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di Papua. Amnesty, kata dia, meminta agar aparat keamanan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri maupun kelompok bersenjata di Papua agar menyudahi konflik yang menyasar fasilitas ataupun masyarakat sipil.

“Kami mendesak negara, untuk segera mengusut tuntas kematian perawat Gabriella,” kata Wirya, dalam rilis resmi Amnesty kepada Republika di Jakarta, Ahad (19/9).

Amnesty mendesak agar adanya penegakan hukum atas insiden kematian nakes tersebut juga terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya di Papua. “Semua pelaku pelanggaran HAM, baik aparat keamanan, kelompok bersenjata, maupun warga biasa yang terbukti melanggar HAM harus diadili secara terbuka, efektif, dan independen di pengadilan sipil,” kata Wirya.

Direktur Amnesty International Usman Hamid menambahkan, situasi Papua yang terus-menerus diwarnai kekerasan tidak lepas dari rendahnya perhatian elite politik Jakarta dalam memastikan penegakan hukum berjalan adil bagi semua pihak.

"Setiap kali ada kekerasan, setiap itu pula kita melihat negara gagal untuk melakukan investigasi secara adil dan menyeluruh, apalagi menuntut pelakunya ke pengadilan umum," ujar Usman.

Serangan terhadap nakes di Kiwirok terjadi pada 13 September 2021. Akibat kejadian, seorang perawat dilaporkan meninggal dunia, empat perawat lainnya luka-luka, satu perawat dilaporkan hilang, dan 300 nakes lainnya diungsikan.

Menurut keterangan Polres Pegunungan Bintang, seorang perawat yang meninggal, Gabriella Meilani, jatuh ke jurang saat menyelamatkan diri dari serangan tersebut bersama seorang rekannya yang bernama Kristina Sampe. Kristina ditemukan dalam keadaan selamat.

Dandrem 172/ PWY, Brigjen TNI Izak Pangemanan, mengatakan, hingga kini keberadaan satu nakes atas nama Gerald Sokoy belum diketahui. Aparat keamanan beserta warga sudah berupaya mencari pascapenyerangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kiwirok hingga Sabtu (18/9), tetapi belum menemukan titik terang.

"Salah satu nakes Marselinus Ola Atanila (35 tahun) sempat menyatakan mereka sempat lari bersama. Namun, Gerald Sokoy terpencar dan setelah itu tidak diketahui lagi keberadaannya," ujar Brigjen TNI Izak Pangemanan di Jayapura, Sabtu (18/9).

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, mendesak agar pemerintah menuntaskan kasus penyerangan nakes. Politikus PKS itu mempertanyakan langkah tindak lanjut pemerintah terkait penyerangan tersebut. Menurut Netty, jaminan keamanan dan perlindungan terhadap nakes yang bertugas di wilayah konflik harus menjadi prioritas pemerintah.

photo
Gambar aksi pembakaran kantor kas Bank Papua, Pasar dan Puskesmas Kiwirok, serta bangunan Sekolah Dasar (SD) Inpres di Distrik Kiwirok, di Pegunungan Bintang, Papua, Senin (13/9) - (istimewa)

“Perlindungan dan jaminan keamanan bagi seluruh warga negara merupakan amanat konstitusi," ujarnya, dalam keterangan pers, Ahad (19/9). Apalagi, saat ini negara masih berhadapan dengan Covid-19 dan nakes adalah garda terdepan penanganan pandemi.

Sebanyak 10 orang korban kekerasan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua pimpinan Lamek Taplo dievakuasi pada Jumat (17/9). Mereka diangkut menggunakan Caracal TNI-AU dari Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, ke Jayapura. Dari 10 korban yang dievakuasi seorang di antaranya anggota Yonif 403/WP yang mengalami luka tembak di lengan kanan. Sedangkan sembilan lainnya adalah tenaga kesehatan.

Marselinus Ola Atanila (35 thn) salah seorang nakes setibanya di lapangan Makodam XVII Cenderawasih mengisahkan insiden yang dialami dirinya bersama rekan-rekannya di Kiwirok. "Awalnya kami sudah mendengar ada rencana penyerangan ke Pos TNI-AD sehingga kami tetap berada dan bersembunyi di puskesmas," kata Marselinus.

Ia melanjutkan, tiba-tiba KKB menyerang dan melempari puskesmas dengan batu. KKB juga membakar puskesmas dan rumah yang menjadi tempat tinggal nakes. KKB melakukan penyerangan terhadap nakes sehingga Marselinus lari bersama tiga nakes perempuan. Upaya pelarian termasuk dilakukan almarhum Gabriela Meilan yang kemudian memutuskan terjun ke jurang yang ternyata tetap dikejar dan dianiaya.

"Bahkan rekan wanita dianiaya termasuk almarhum Gabriela Meilan yang mengalami luka serius," kata Marselinus. Ia bercerita sambil menangis tersedu-sedu mengisahkan perjuangan diri dan rekan-rekannya yang berhasil selamat dari insiden tersebut.

photo
Tenaga kesehatan (Nakes) korban penyerangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) tiba di Jayapura usai dievakuasi menggunakan helikopter milik TNI AD di Lapangan Frans Kaisepo Makodam XVII Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua, Jumat (17/9/2021). - (ANTARA FOTO/Indrayadi TH)

Marselinus mengatakan, apa yang dilakukan kelompok itu di luar batas kemanusiaan. Menurutnya, rekan-rekan wanita pakaiannya dilepas dengan kasar bahkan ada yang menggunakan senjata tajam.

"Aksi mereka benar-benar brutal bahkan hingga kini seorang rekan yakni Gabriela Sokoy belum diketahui nasibnya," ujar Marselinus, yang didampingi keempat rekannya termasuk dokter puskesmas dr Restu Pamanggi yang mengalami luka di tangan akibat dipukul benda tumpul saat berupaya menyelamatkan dirinya.

Sembilan tenaga kesehatan yang dievakuasi yaitu Lukas Luji, Marthinus Deni Setya, Siti Khotijah, Dr Restu Pamanggi, Marselinus Ola Atanila, Patra, Emanuel Abi, Katrianti Tandila dan Kristina Sampe Tonapa serta Pratu Ansar anggota Yonif 403/WP. Saat ini kesepuluh orang dirawat di RS Marthen Indey, Jayapura, Papua.

Pasukan gabungan Polri dan TNI mengeklaim menembak mati satu terduga anggota KKB saat kontak senjata di Distrik Kiwirok. Selain itu, dua terduga anggota kriminal bersenjata lainnya, juga dipastikan terluka karena peluru tajam. Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Mustofa (AM) Kamal mengatakan, satu terduga anggota KKB yang teridentifikasi tewas, adalah atas nama Elly Bidana.

“Diketahui untuk (terduga) anggota KKB yang meninggal dunia (Elly Bidana), adalah komandan KKB wilayah operasi Ngalum-Kupel yang dipimpin Lamek Taplo,” ujar Kamal, dalam siaran pers resmi yang diterima wartawan di Jakarta, Jumat (17/9).

Sementara dua terduga anggota KKB lainnya, kata Kamal, tak dapat diidentifikasi identitasnya karena berhasil dibawa KKB lainnya. “Personel gabungan Polri-TNI yang berada di Distrik Kiwirok, masih melakukan pengejaran, dan pengamanan,” ujar Kamal.

Kamal menjelaskan, kontak senjata antara pasukan gabungan Polri-TNI dengan terduga KKB terjadi di Distrik Kiwirok, berawal dari aksi pembakaran sejumlah fasilitas umum yang diduga dilakukan oleh para separatis tersebut, Senin (13/9).

Dari peristiwa pembakaran itu, belasan bangunan umum rusak parah. Bangunan-bangunan itu, berupa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (SD dan SMP), puskesmas, serta sarana balai perkampungan, juga rumah guru, dan rumah-rumah petugas kesehatan, sampai kantor perbankan, juga pasar.

Peristiwa pembakaran yang diduga dilakukan KKB tersebut, terjadi berturut-turut di Distrik Kiwirok, dan juga di Distik Okhika. Saat ini, kata Kamal, pasukan gabungan Polri-TNI, masih terus menetralisir situasi keamanan di dua wilayah tersebut dengan melakukan penyisiran, dan pengejaran terhadap pelaku pembakaran.

Polda Papua, pun memastikan kehadiran pasukan gabungan Polri-TNI di wilayah tersebut, untuk menjamin keselamatan warga sipil. “Hingga saat ini, situasi di Distrik Kiwirok, dan Distrik Okhika, sudah dalam situasi yang kondusif,” terang Kamal.

Sumber : Antara


×