Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika
18 Sep 2021, 03:30 WIB

Menjaga Rasa Syukur

Rasa syukur menjadi bekal yang sempurna dalam menggapai pundi pahala dan buah kebahagiaan.

OLEH MUHAMAD YOGA FIRDAUS

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memikul misi istimewa. Misi istimewa tersebut ialah melaksanakan ibadah.

Manusia dapat menjadikan segala bentuk ibadah sebagai jalan untuk meraih ridha dari Sang Pencipta. Salah satu bentuk ibadah itu ialah melantunkan rasa syukur.

Syukur dapat diartikan sebagai lantunan indah berupa ungkapan terima kasih, sikap menerima apa adanya, dan bersahaja menyadari tentang setiap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Mulai dari nikmat yang terkecil hingga nikmat yang terbesar.

Terkait

Setiap nikmat pun kita dapatkan tanpa henti dari-Nya. Sehingga, rasa syukur tersebut menjadi resep elegan dalam meraih kebahagiaan.

Dari Mu’adz bin Jabal RA, ia menyampaikan bahwa Rasulullah SAW menggandeng tangannya dan berkata: “Wahai Mu'adz, demi Allah, aku mencintaimu, demi Allah aku mencintaimu.”

Kemudian beliau berkata: “Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan: ‘Allaahumma a'innii 'alaa dzikrika wasyukrika wa husni 'ibaadatik' (Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah kepada-Mu dengan baik).” (HR Abu Dawud). 

Hadis ini menjelaskan tentang pentingnya menjaga rasa syukur. Ikhtiar maksimal dalam mengantarkan diri agar dapat menyadari tentang nikmat Allah SWT yang sungguh menakjubkan. Rasa syukur menjadi wujud keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah yang Maha Mulia.

Dari Sa’ad bin Abi Waqash RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku memohon kepada Tuhanku dan memintakan syafaat untuk umatku. Kemudian Allah memberiku sepertiga umatku, lalu aku bersujud sebagai rasa syukur kepada Tuhanku. Kemudian aku mengangkat kepalaku dan memohonkan untuk umatku. Kemudian Allah memberiku sepertiga umatku, lalu aku bersujud sebagai rasa syukur kepada Tuhanku. Kemudian aku mengangkat kepalaku dan memohonkan untuk umatku. Kemudian Allah memberiku sepertiga yang lainnya, lalu aku bersujud untuk Tuhanku.” (HR Abu Dawud).

Dari hadis di atas, kita dapat menukil pelajaran berharga bahwa Rasulullah SAW telah mengisyaratkan dan mengajarkan kita tentang pentingnya bersyukur. Membuang jauh-jauh sikap kufur atau ingkar terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Usaha, doa, dan tawakal secara maksimal karena-Nya pun menjadi kunci utama lahirnya pribadi yang pandai dalam bersyukur.

Sungguh, Allah melarang kita bersikap kufur dan memerintahkan kepada kita agar mensyukuri setiap nikmat yang didapatkan dari-Nya. Sikap ingkar terhadap nikmat Allah hanya akan mengundang azab dari-Nya. Maka, rasa syukur menjadi bekal yang sempurna dalam menggapai pundi-pundi pahala dan buah kebahagiaan (QS Ibrahim: 7).

Ibarat mutiara di tengah lautan, syukur adalah sumber keindahan. Ibadah yang patut untuk diistimewakan. Tanpanya, kehidupan pun terasa menyesakkan. Lewat syukur, kasih sayang Allah SWT kita dapatkan.

Wallahu a’lam.


×