Menteri BUMN Erick Thohir mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/8/2021). Rapat tersebut membahas laporan keuangan Pemerintah Pusat APBN TA 2020, progres realisasi anggaran TA 2021, pembahasan RKA K/L | ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
17 Sep 2021, 11:00 WIB

Erick Thohir Minta BUMN Pangan Bertransformasi

BUMN pangan terus memasarkan produk lewat aplikasi Warung Pangan.

JAKARTA  —  Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyambut positif transformasi yang dilakukan klaster BUMN pangan. Menurut Erick, transformasi sektor pangan menjadi keharusan dan penting pada era saat ini.

"Kita harus bisa menyeimbangkan berapa produksi dalam negeri dan berapa yang impor,” kata Erick saat peluncuran produk bersama Warung Pangan di Kompleks Pergudangan BGR Logistics Divre Jakarta Utara, Kamis (16/9).

Sejak awal, Kementerian BUMN dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong terciptanya ekosistem baru dalam rantai pasok pangan yang terintegrasi. Erick mengatakan, pemerintah serius membangun kemandirian pangan. Hal ini ditunjukkan dengan pembentukan Badan Pangan Nasional (BPN) yang tertuang dalam Perpres Nomor 66/2021.

"Alhamdulillah Bapak Presiden (Joko Widodo) kemarin sudah mengeluarkan (Perpres) Badan Pangan Nasional, suatu badan yang akan kita tunggu kinerjanya dan kita harap ini bisa menjadi kenyataan secepat mungkin," ujar Erick.

Terkait

Dari sisi BUMN, Erick mengaku sedang mempersiapkan pembentukan holding pangan yang terdiri atas PT Perikanan Indonesia (Perindo), PT Berdikari, PT Garam, PT Perikanan Nusantara (Perinus), PT Pertani, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), dan PT Sang Hyang Seri (Persero) yang akan dipimpin PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI sebagai induk holding.

Nantinya, holding pangan akan memiliki dua tugas utama, yakni penugasan pemerintah dan bersaing di pasar terbuka secara komersial. Erick berpesan holding pangan tidak menjadi menara gading dan harus tetap berkolaborasi dengan swasta dan pemerintah daerah (Pemda) dalam memperkuat ekosistem pangan nasional.

Direktur Utama RNI Arief Prasetyo Adi mengatakan, holding BUMN pangan memasuki babak final. Ia mengatakan, rencana pembentukan holding telah menyelesaikan proses perubahan Perum Perikanan Indonesia (Perindo) menjadi PT Perikanan Indonesia.

Saat ini, pembentukan holding pangan tengah memasuki proses merger atau penggabungan beberapa BUMN, seperti Perindo dengan Perinus, Sang Hyang Seri dengan Pertani, dan PPI dengan BGR Logistics. "Proses pemerseroan Perindo sudah selesai, pemergeran saya dengar sudah ditandatangani presiden, berikutnya ialah inbreng dan sekarang sedang harmonisasi,” kata Arief.

Arief menyampaikan, holding pangan tak sekadar menjalankan penugasan, tapi juga mampu memberikan nilai jual yang kompetitif kepada pasar. Ia memastikan, holding pangan akan terus memperbaiki struktur biaya, mulai dari proses on farm hingga pemasaran produk.

Arief menilai holding pangan tak sekadar menjadikan produk lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri, tapi juga mampu ekspansi ke kancah global. Ia menyebutkan, produk pangan Indonesia memiliki kualitas yang mumpuni untuk bersaing di pasar internasional.

Menjelang terbentuknya holding, BUMN klaster pangan meluncurkan pemasaran produk melalui aplikasi Warung Pangan. Arief mengatakan, langkah ini sesuai arahan Menteri BUMN untuk memperbaiki ekosistem pangan.

Direktur Utama BGR Logistics M Kuncoro Wibowo mengatakan, saat ini terdapat lebih dari 47 ribu warung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah terdaftar di aplikasi Warung Pangan yang terhubung dengan puluhan pemasok yang terdiri atas pengusaha UMKM, koperasi, dan beberapa perusahaan.

Kuncoro mengatakan. aplikasi Warung Pangan saat ini sudah tersebar di tujuh kota, yaitu Jabodetabek, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Pangkal Pinang.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mendorong BUMN klaster pangan bisa mengekspor beras. Meski begitu, ia mengakui tantangan yang dihadapi sektor perberasan nasional cukup besar dari hulu ke hilir.

Lutfi mengatakan, menembus pasar ekspor beras sangat memungkinkan bagi Indonesia. Asalkan, mampu memproduksi beras berkualitas premium dengan spesifikasi yang lebih berkualitas.

Dikatakan Lutfi, strategi tersebut saat ini sedang dilakukan oleh BUMN klaster pangan dengan memproduksi beras premium dengan kadar butir patah hanya lima persen.


×