Petugas mengawasi aktivitas bongkar muat peti kemas saat pelepasan ekspor komoditas pertanian serentak di Pelabuhan Sukarno Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/8/2021). Pelepasan ekspor komoditas pertanian yang mengangkat tema | ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
17 Sep 2021, 10:27 WIB

Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil Turun 17,7 Persen

Ekspor tekstil dan produk tekstil menjadi salah satu sektor yang menerima tekanan signifikan pada masa pandemi

JAKARTA -- Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi salah satu sektor yang menerima tekanan signifikan pada masa pandemi. Sepanjang 2020, ekspor TPT hanya senilai 10,55 miliar dolar AS atau turun 17,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk meredam dampak pandemi, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank memberikan fasilitas pembiayaan modal kerja kepada UKM khusus berorientasi ekspor dengan skema penugasan khusus ekspor (PKE). Direktur Pelaksana II LPEI Maqin Noorhadi mengatakan, pihaknya mendukung para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) berorientasi ekspor agar bangkit dari dampak pandemi.

"Pemulihan yang sedang berjalan harus tertahan akibat merebaknya varian baru dari virus Covid-19. Aktivitas ekonomi yang sudah terakselerasi pada awal 2021 harus bersiap menghadapi kondisi yang sama, seperti 2020 ketika pembatasan mobilitas masyarakat diberlakukan dan berimbas pada tekanan ekonomi," ujarnya, Kamis (16/9).

Dari sisi ekspor, industri TPT tertekan dari tiga sisi, baik dari sisi permintaan, suplai, maupun distribusi. Hal itu disebabkan kelangkaan kontainer yang mendorong kenaikan harga. Penurunan ekspor TPT sepanjang 2020 terjadi dalam berbagai produk, yaitu segmen benang yang minus 27,3 persen (yoy), kain minus 15,7 persen (yoy), dan pakaian jadi minus 15,1 persen (yoy).

Terkait

Kontribusi penurunan terbesar berasal dari penurunan pakaian jadi yang memiliki porsi 66 persen dari total ekspor TPT Indonesia. Tekanan terhadap industri TPT masih terjadi hingga paruh pertama 2021. Kinerja TPT terbantu karena adanya permintaan alat pelindung diri (APD) keperluan penanganan Covid-19. Namun, permintaan terhadap APD tersebut tidak cukup besar untuk menutupi turunnya penjualan produk-produk TPT secara keseluruhan.

Eksportir TPT kelas kecil paling merasakan dampak sehingga beberapa pelaku usaha harus keluar dari pasar ekspor. Kendati demikian, terdapat sejumlah eksportir yang mampu merespons kebutuhan pasar dan tetap ekspansif.

Salah satunya, CV Pria Tampan. UKM ekspor batik asal Solo itu mampu melakukan pengiriman kain batik ke luar negeri senilai 467 ribu dolar AS hingga Agustus 2021. Angka itu mengalami peningkatan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dengan nilai ekspor yang mencapai 463 ribu dolar AS.

Ekspor ubi jalar

Ubi jalar asal Jabar berhasil menembus pasar ekspor Singapura untuk pertama kali. Wakil Gubernur Uu Ruzhanul Ulum mengawal ekspor perdana ubi jalar oleh PT Bona Vista Hikmah di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Kamis (16/9). 

Ubi jalar varietas rancing ini akan dikirim bertahap setiap bulan dengan total ekspor mencapai 8.037 ton setara 6,6 juta dolar Amerika.

"Hari ini ekspor 10 ton dengan total ekspor 55 ton di bulan ini dan itu baru ke Singapura saja," ujar Uu Ruzhanul Ulum.

Pak Uu bangga pangan Jabar bisa mendunia. Memang fokus Jabar saat pandemi adalah meningkatkan volume ekspor. Pada komoditas ubi jalar bagaimana meningkatkan pembibitan yang mengacu pasar ekspor. 

Uu mengatakan, produksi ubi jalar Jabar dalam setahun terakhir  mencapai 468.743 ton. Adapun jenis ubi jalar yang jadi unggulan adalah ubi cilembu, ubi jepang, ubi ungu, ubi putih, dan ubi manohara. 

Jabar sendiri, kata dia, memiliki cukup daerah sentra ubi jalar yakni Kabupaten Garut, Kuningan, Bogor, Bandung, Tasikmalaya, Sukabumi, dan Kabupaten Sumedang dengan 'hui cilembu' sebagai ikon. 

Di Sumedang, selain varietas rancing juga ada varietas nirkum dengan luas tanam per tahun sekitar 460 hektare. Rata-rata produktivitas 17 ton per hektare dan total produksi 7.820 ton per tahun. Sentra ubi di Sumedang terutama ada di Kecamatan Pamulihan, Tanjungsari, Rancakalong, dan Kecamatan Sukasari. 

Uu berharap, ke depan bukan umbinya saja yang diekspor tapi pangan berbasis ubi jalar lebih berkembang lagi. Terbukti sudah ada permintaan 2.393 ton ubi jalar senilai USD3,3 juta, tepung ubi jalar, tepung kasar, dan bubuk ubi jalar sebanyak 507,8 ton senilai USD166.499. 

Uu menilai, koperasi akan menjadi mesin kesejahteraan petani dengan manajemen pemasaran yang bagus.  Cara – cara tradisional seiring kemajuan teknologi pertanian lambat laun harus diubah menjadi pertanian 4.0 misalnya menggunakan aplikasi sehingga produktivitas meningkat.   

Menurut Uu, Pemprov Jabar mendukung dan mendorong inovasi dan penguatan pertanian dari hulu ke hilir. Di tengah pandemi Covid-19 saat sektor lain menurun, pertanian justru meningkat dan menjadi penyelamat. 

Selain ke Singapura, ubi jalar Jabar juga sudah diekspor ke Hong Kong. Pada September 2020, Gubernur Ridwan Kamil melepas 30 ton ubi jalar asal Kabupaten Bandung. 


×