Petani menyiapkan pupuk urea sebelum ditabur di area persawahan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Minggu (6/6/2021). PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatat realisasi penyaluran pupuk urea bersebsidi di Sulawesi Selatan mencapai 122.925 t | ARNAS PADDA/ANTARA FOTO
15 Sep 2021, 11:03 WIB

Pupuk Indonesia Optimistis Target Agrosolusi Tercapai

Pupuk Indonesia mencatat luas tanam Program Makmur hingga Agustus telah mencapai 40.332 ha.

JAKARTA — Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendorong peningkatan kesejahteraan petani dengan pendampingan intensif dan solusi budi daya pertanian berkelanjutan melalui Program Makmur.

Program yang diluncurkan Menteri BUMN Erick Thohir di Subang, Jawa Barat, pada bulan lalu itu sebelumnya bernama Agrosolution atau agrosolusi, yakni solusi pertanian yang menjadi inisiatif PT Pupuk Indonesia (Persero).

Senior Project Manager Program Makmur Pupuk Indonesia Supriyoto optimistis, target empat juta hektare (ha) yang dicanangkan Menteri BUMN dapat tercapai. Ia mengatakan, luas tanam Program Makmur hingga Agustus telah mencapai 40.332 ha dengan petani yang terlibat mencapai 28.884 orang.

Supriyoto menyebutkan, untuk target Program Makmur tahun ini sekitar 50 ribu ha dan akan terus meningkat menjadi 250 ribu ha pada tahun depan. Hingga nantinya target empat juta ha pada 2024.

Terkait

"Kami optimistis target tersebut dapat tercapai. Tentunya membutuhkan dukungan para stakeholder yang terlibat, baik itu dari segi permodalan, agroinput, maupun offtaker dan asuransi,” kata Supriyoto kepada Republika di Jakarta, Selasa (14/9).

Supriyoto menyampaikan, para petani peserta program mendapatkan jaminan permodalan, penyediaan pupuk berkualitas, benih, dan pestisida serta mendapatkan konsultasi dari para ahli agronomi.

Selain itu, Pupuk Indonesia juga melakukan pengawalan teknologi bekerja sama dengan pemerintah setempat memberikan pendampingan kepada petani agar hasilnya optimal dan memastikan petani mendapatkan jaminan adanya pembeli dengan harga yang menguntungkan petani.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, ada pengakuan dari para petani dan pemilik lahan bahwa perusahaan BUMN mampu membuat petani di desa naik kelas. Ia menyebutkan, para petani mendapat bimbingan, mulai dari pupuk hingga pengolahan sawah sehingga mampu menaikkan produktivitas dan keuntungan bertani.

"Saya optimistis, jika para petani kita terus didampingi, difasilitasi, dan didukung ilmu pengetahuan serta teknologi nutrisi pertanian modern, petani kita makin makmur," ujar Erick.

Erick menambahkan, diperlukan pendekatan holistik untuk mencari solusi pertanian demi meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani Indonesia. Hal itu karena jumlah area persawahan di Indonesia meningkat dalam satu tahun terakhir, tapi hasil panennya mengalami penurunan.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun ini tercatat total luas lahan pertanian mencapai 25,1 juta ha atau naik dari tahun sebelumnya sebanyak 24,1 juta ha. Namun, jumlah lahan panen menurun dari 10,68 juta ha pada 2020 menjadi 10,66 juta ha pada tahun ini.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT PUPUK INDONESIA (PERSERO) (pt.pupukindonesia)

Erick menilai Program Makmur harus memberikan banyak manfaat, seperti kenaikan produktivitas pertanian sehingga petani lebih untung, praktik pertanian unggul, dan penggunaan pupuk nonsubsidi untuk membantu kebutuhan mereka.

"Kita tidak bisa melepas mereka jalan sendiri, sementara kita mengharapkan hasil panen tinggi. Mereka harus ditemani dan dikawal dengan teknologi sehingga hasil panennya lebih baik dan pendapatannya bisa meningkat," kata Erick.

Salah satu peserta program, Supadman (55 tahun), petani yang berdomisili di Kecamatan Seputih Mataram, Lampung Tengah, mengungkapkan dirinya sangat senang karena mendapatkan banyak manfaat dari program ini.

"Kami memperoleh kebutuhan modal, pupuk, pestisida, dan lain-lain dalam bentuk barang. Kami juga banyak dibantu PPL, diberi pengarahan-pengarahan. Harga jual juga sudah jelas,” kata Supadman.


×