Suasana terminal kedatangan Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah, NTB, Senin (13/9/2021). Mulai 2 September 2021 syarat perjalanan udara tujuan Lombok, NTB bisa menggunakan surat keterangan hasil negatif rapid test antigen (1x24 jam) dan k | ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
15 Sep 2021, 03:45 WIB

Jangan Lengah

Fenomena banyaknya orang positif Covid-19 yang masih berkeliaran bisa membuyarkan harapan akan berakhirnya pandemi.

Kasus Covid-19 di Tanah Air terus mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Universitas John Hopkins bahkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu yang terbaik di dunia dalam menekan angka penyebaran kasus.

John Hopkins mencatat tutunnya kasus Covid-29 di Indonesia sebanyak 58 persen dalam dua pekan. Sedangkan catatan Satgas Covid-19, kasus baru sudah berada di bawah angka 5.000 an dalam pekan ini.

Penurunan kasus Covid-19 tentu menggembirakan kita. Beberapa waktu yang lalu Presiden Jokowi mengatakan, jika kondisi penurunan kasus berlangsung stabil kita bisa bersiap-siap meninggalkan pandemi dan Covid-19 bisa dianggap sebagai endemi. Artinya bisa dianggap sebagai penyakit biasa seperti DBD, malaria, flu, dan lainnya.

Namun pernyataan yang disampaikan Menteri Kesehatan Budi Sadikin merisaukan kita. Menkes mengatakan hasil scan melalui situs PeduliLindungi  hingga 12 September 2021, ada  3.830 orang positif Covid-19 masuk kategori 'hitam' berkeliaran. Angka terbanyak adalah yang masuk mal sebanyak 3.161, diikuti pabrik 346, stasiun 63, outlet mandiri 63, bandara 63, restoran 55, dan lokasi lainnya. Ini baru data yang tercatat. Ada kemungkinan ditambah dengan yang tak terdeteksi,angkanya jauh lebih tinggi.

Terkait

 
Fenomena banyaknya orang positif Covid-19  yang masih berkeliaran bisa membuyarkan harapan akan berakhirnya pandemi.
 
 

Fenomena banyaknya orang positif Covid-19  yang masih berkeliaran bisa membuyarkan harapan akan berakhirnya pandemi. Mereka itu tentu saja sangat berpotensi untuk menularkan virus di tempat-tempat umum. Jika penuran kembali massif maka gelomang serangan ketiga Covid-19 bvukan tidak mungkin akan terjadi.

Penurunan kasus-kasus hendaknya tidak melenakan kita. Kendati ada kecendrungan angka penularan yang menurun, Covid-19 belum sepenuhnya bisa diatasi. Perang melawan Covid-19 belum usai.  Kita tidak boleh lengah.

Protokol kesehatan harus tetap dijaga. Menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, menghindari kerumuman, harus tetap dilakukan. Jangan bosan demi keselamatan kita bersama.

Bagi mereka yang sudah divaksin, itu tak berarti bahwa mereka akan kebal terhadap virus Covid-19. Perlu diingat bahwa pengaruh vaksin pada setiap individu berbeda. Efektifitas vaksin juga tak ada yang mencapai 100 persen. Jadi mereka yang sudah divaksin juga masih punya potensi untuk tertular.

Kita berharap mereka yang belum sembuh atau baru sembuh dari Covid-19 agar menahan diri untuk bepergian. Tunggulah sampai benar-benar negatif Covid-19 agar tidak menularkan virus ke orang lain.

 
Penurunan kasus-kasus hendaknya tidak melenakan kita. Kendati ada kecendrungan angka penularan yang menurun, Covid-19 belum sepenuhnya bisa diatasi. 
 
 

Kita juga berharap pemerintah memperkuat upaya-upaya penanggulangan Covid-19 dengan penerapan PPKM yang effektif dan mempercepat program vaksinasi. Selain itu pemeriksaan di pintu-pintu masuk Indonesia seperti bandara, pelabuhan, dan pos perbatasan perlu diperketat untuk mencegah penyebaran Covid-19 dari luar negeri, khususnya varian baru.

Tidak ada yang bisa menjamin apakah tren menurunnya kasus Covid-19 ini akan terus berlangsung.Tapi tentu kita berharap itu terjadi agar kita benar-benar terbebas dari pandemi ini.

Semua kita bisa berkontribusi agar pandemi ini segera berakhir. Caranya, tetaplah disiplin menjaga protokol kesehatan. Jangan lengah karena Covid-19 masih mengintai di sekitar kita.


×