Siswa mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di SMPN 2 Yogyakarta, Senin (13/9/2021). Yogyakarta mulai menggelar PTM untuk sekolah menengah pertama saat PPKM Level 3. Setiap kelas hanya 50 persen murid yang diperbolehkan mengikuti tatap muka. Se | Wihdan Hidayat / Republika

Nasional

14 Sep 2021, 03:45 WIB

PTM Terbatas, Guru Diingatkan tak Paksakan Murid

Para guru diminta tak mengejar ketertinggalam materi sekaligus pada awal pembelajaran tatap muka terbatas.

JAKARTA -- Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Jumeri, mengingatkan para guru untuk tidak mengejar ketertinggalam materi sekaligus pada awal pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Hal yang harus diutamakan, kata dia, ialah membangun karakter dan kesenangan anak akan sekolah.

“Kita cek dulu secara psikologis, beri motivasi tentang kesehatan. Pastikan anak-anak kita mematuhi protokol kesehatan. Ketika anak-anak di sekolah akan lebih mudah dikontrol karena sehari hanya empat jam dan jumlahnya sedikit,” kata Jumeri dalam siaran pers yang Republika terima, Senin (13/9).

Menurut Jumeri, membangun karakter dan kesenangan anak akan sekolah di awal pembukaan sekolah bertujuan agar mental anak-anak yang baru saja kembali ke ruang belajar tatap muka siap. Kemudian, Jumeri juga mengingatkan agar mereka memastikan untuk jangan sampai terjadi diskriminasi pada anak yang masih memilih untuk belajar dari rumah, baik terkait materi pelajaran atapun dalam pemberian nilai.

"Tidak boleh memberi soal yang sama pada siswa tatap muka dan PJJ, karena pemahamannya pasti berbeda. Berikan evaluasi sesuai kondisi anak, ini penting agar anak-anak kita tidak merasa takut,” jelas dia.

Selain guru, Jumeri juga mengimbau para kepala sekolah untuk mengatur pembelajaran di sekolah dengan baik. Dia mengatakan, saat PTM terbatas berlangsung siswa cukup diberikan materi-materi yang esensial, apalagi jika melihat sebagian besar waktu belajar siswa adalah di rumah.

"Karena seminggu hanya dua hari, empat harinya di rumah. Dan kepada anak yang belum bisa ke sekolah, jangan berkecil hati,” kata Jumeri.

Sebelumnya, Kemendikbudristek mengungkapkan, hingga Kamis (9/9) sudah ada 490.217 sekolah yang diperbolehkan melakukan PTM terbatas. Sekolah-sekolah itu berasal dari 471 daerah kabupaten/kota yang berada di wilayah PPKM level I sampai dengan III.

“Jadi ada 490.217 sekolah yang diperbolehkan. Tapi kecepatan daerah dalam melakukan PTM terbatas sangat bervariasi,” ujar Jumeri, pada Ahad (12/9).

photo
Siswa mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di SMPN 2 Yogyakarta, Senin (13/9/2021). Yogyakarta mulai menggelar PTM untuk sekolah menengah pertama saat PPKM Level 3. Setiap kelas hanya 50 persen murid yang diperbolehkan mengikuti tatap muka. Setiap kelas mengikuti TPM bergantian selama dua hari. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Berbicara saat melakukan kunjungan kerja ke Solo, Jawa Tengah (Jateng), Senin (13/9), Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyatakan gerak cepat PTM terbatas untuk mengantisipasi dampak negatif permanen yang bisa menyerang anak-anak. Nadiem menyebut dua dampak negatif yang utama.

"Dampaknya kalau tidak bergerak cepat (PTM) maka (pelajar) akan kehilangan loss of learning yang bisa permanen, kedua adalah kesehatan mental dan psikis yang juga bisa permanen di anak-anak kita," katanya.

Nadiem mengatakan, pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang terlalu lama juga bisa berdampak pada kurangnya interaksi anak-anak terhadap lingkungan sekitar. Ia mengatakan, risiko tersebut harus ditanggapi oleh seluruh pihak, sama pentingnya dengan risiko kesehatan.

photo
Siswa mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di SMPN 2 Yogyakarta, Senin (13/9/2021).  - (Wihdan Hidayat / Republika)

"Merasa kesepian, mengalami berbagai macam konflik di dalam rumah, dia menjadi asosial, berbagai macam permasalahan yang dampaknya bisa permanen, apalagi bagi anak yang sedang berkembang," kata Nadiem.

Oleh karena itu, ia sangat mendukung pemerintah daerah terutama yang sudah berstatus level 1-3 yang mendorong dilaksanakannya PTM terbatas. Sementara, mengenai risiko klaster, dikatakannya, sejauh ini laporan yang masuk ke kementerian sangat minim.

"Sekarang angka Covid-19 per kabupaten banyak mengalami penurunan. Banyak yang sebelumnya level empat sudah turun ke level tiga. Ini jadi standar kapan bisa melakukan mobilitas lagi," katanya.

Sumber : Antara


×