Ilustrasi pasar modal. Investor diimbau tetap berhati-hati sebelum berinvestasi di pasar modal. | ANANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
13 Sep 2021, 09:26 WIB

Wapres Dorong Edukasi Kehalalan Pasar Modal

Investor diimbau tetap berhati-hati sebelum berinvestasi di pasar modal.

JAKARTA – Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin menilai perlu ada peningkatan sosialisasi dan edukasi intensif tentang kehalalan pasar modal syariah. Wapres mengatakan, sosialisasi ini penting karena masih ada masyarakat yang ragu berinvestasi di pasar modal syariah.

"Di tengah peningkatan jumlah investor dan ragam produk investasi syariah dewasa ini, masih ada di antara masyarakat kita yang ragu berinvestasi di pasar modal syariah walaupun sudah ada fatwa DSN-MUI," ujar Kiai Ma’ruf saat hadir virtual di acara Sharia Webinar-Kelompok Studi Pasar Modal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, akhir pekan lalu.

Merujuk data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sampai Juni 2021, jumlah kepemilikan efek saham syariah berdasarkan nomor tunggal identitas pemodal atau single investor identification (SID) sebanyak 991 ribu SID atau tumbuh 36,48 persen dalam waktu enam bulan. Kendati tumbuh tinggi, jumlah SID kepemilikan efek saham syariah masih sekitar 18 persen dari total SID pasar modal yang mencapai 5,5 juta SID.

Ia pun mendorong upaya intensif untuk meningkatkan literasi dan keyakinan masyarakat tentang kehalalan pasar modal syariah. Ia mengingatkan, pasar modal syariah telah hadir di Indonesia sejak 1997 yang diawali penerbitan reksa dana syariah oleh PT Danareksa Investment Management.

Terkait

Kemudian, lanjut Wapres, pada 2001, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) juga menerbitkan fatwa Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syari'ah. Fatwa tersebut memberikan landasan bagi kegiatan pasar modal syariah.

"Seiring waktu pasar modal syariah terus berkembang dengan ragam inovasi produk investasi, mulai dari reksa dana syariah, saham syariah, dan sukuk negara maupun sukuk korporasi yang semuanya dilandasi fatwa MUI," ujarnya.

 

Meski begitu, Ma’ruf mengingatkan para investor muda dan ritel untuk berhati-hati melakukan investasi di pasar modal yang mengandung risiko. Ia pun meminta investor muda dan ritel meningkatkan pemahaman terhadap risiko-risiko yang ada agar hati-hati memilih berinvestasi di produk keuangan.

"Jangan terjebak dengan produk keuangan yang naik karena adanya aksi pompa oleh sekelompok orang atau saat ini marak dengan fenomena menggunakan influencer," ujar Ma’ruf.

Ia menyebut, para generasi muda saat ini akan menjadi bagian dari investor dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan. Ma'ruf optimistis generasi saat ini yang akan memimpin ataupun menjalankan roda pemerintahan dan perekonomian ke depan. Termasuk di antaranya tanggung jawab untuk memajukan ekonomi dan keuangan syariah. Oleh karena itu, ia mengimbau agar generasi muda mulai berinvestasi sejak dini.

"Namun, memahami setiap bentuk instrumen dan risiko investasi juga menjadi keharusan," ujarnya.

Pasar modal syariah dinilai masih memiliki potensi yang sangat besar untuk tumbuh. Peneliti Ekonomi Syariah Indef Fauziah Rizki Yuniarti mengatakan, besarnya potensi pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya pangsa pasar.

"Marketshare masih kecil sehingga potensi pangsa pasarnya masih besar," kata Fauziah.

Faktor lainnya, yaitu perilaku investor yang bergeser untuk masuk ke pasar modal sejak pandemi. Minat investor semakin meningkat seiring maraknya tokoh publik memasarkan produk-produk pasar modal.

Selain itu, likuiditas masyarakat golongan pendapatan tertentu meningkat karena perilaku konsumsi yang lebih terbatas selama pandemi. Sehingga, uang yang tak terpakai tersebut ikut meramaikan pasar modal.

Besarnya potensi pertumbuhan pasar modal syariah juga didukung oleh ragam instrumen yang lengkap. Beberapa instrumen tersebut, yaitu saham syariah, sukuk, reksa dana syariah, Exchange Traded Fund (ETF) syariah, Efek Beragun Aset (EBA) syariah, dan Dana Investasi Real Estate (DIRE) syariah. Meski begitu, selama enam tahun terakhir, sukuk negara masih mendominasi pasar modal syariah Indonesia.

Fauziah mengakui, maraknya ketertarikan masyarakat terhadap instrumen pasar modal adalah hal positif. Akan tetapi, hal ini juga harus diwaspadai karena literasi keuangan syariah di Indonesia juga masih rendah. Sehingga, dia mengimbau investor baru untuk tetap hati-hati dalam berinvestasi di pasar modal.


×