Duta besar RI untuk Afghanistan, HE Dr Arief Rachman MD. | DOK KEMENLU

Hiwar

12 Sep 2021, 03:29 WIB

Afghanistan Kagumi Islam di Indonesia

Mereka sampaikan kepada khalayak ramai kalau nanti Islam di Afghanistan ingin seperti Islam di Indonesia.

 

 

Afghanistan saat ini dalam masa transisi. Teranyar, Taliban kembali menguasai negara tersebut. Menurut Duta Besar Republik Indonesia untuk Afghanistan, Dr Arief Rachman MD, pernyataan kelompok tersebut belakangan ini membuat banyak kalangan cukup “terkejut".

Sebab, dalam berbagai kesempatan Taliban menyampaikan janji-janji. Sebut saja, akan menjadikan Afghanistan sebagai negara Islam yang modern, moderat, dan bertoleransi. Arief pun mengingat kembali bagaimana hubungan terjalin antara RI dan Afghanistan, setidaknya dalam satu dekade terakhir.

Menurutnya, Afghanistan sudah lama melihat Indonesia sebagai sebuah model untuk mewujudkan negeri yang islami. “Tentunya mereka berharap agar Indonesia bisa ikut terus mendukung dan membantu proses apa yang mereka inginkanm, untuk menjadikan (Afghanistan) negara yang moderat,” ujar peraih gelar doktor ilmu kajian budaya (cultural studies) UGM Yogyakarta ini.

“Bagi saya yang bertugas di Afghanistan tentunya turut bahagia, ikut bangga bahwa apa yang kita lakukan selama 10 tahun ini bisa diterima dan diapresiasi. Bahkan, mereka mencoba untuk banyak belajar kepada Indonesia ke depan,” tambahnya.

Lantas, seperti apa gambaran Afghanistan di bawah kendali Taliban saat ini? Bagaimana positioning  Indonesia untuk terus mendukung terpeliharanya kedamaian di negeri tersebut. Berikut ini wawancara wartawan Republika, Muhyiddin, dengan Dubes RI untuk Afghanistan itu. Perbincagan dilakukan via telepon beberapa waktu lalu.

Bagaimana hubungan RI dengan Afghanistan dalam lintasan sejarah?

Afghanistan termasuk negara yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia. Sejak saat itu, kita terus memelihara hubungan bilateral dengan Afghanistan. Sekitar 10 tahun lalu, RI juga telah melakukan suatu pendekatan hubungan yang dikhususkan dengan konteks agama dan budaya.

Para ulama kita yang bernaung dalam MUI (Majelis Ulama Indonesia)—yang di dalamnya juga ada Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, al-Irsyad dan lain-lain—pernah hadir di Afghanistan. Begitu juga sebaliknya. Ulama-ulama mereka pernah diundang ke sini.

Inilah yang antara lain membuat hubungan kita terus terjalin. Bahkan, pemerintah Afghanistan yang lalu pernah mengatakan, ingin negerinya seperti Indonesia. Mereka selalu menyebut, Indonesia-lah yang paling banyak penduduk Muslimnya sedunia.

Bagaimana dengan Taliban?

Pada waktu itu, kita juga sudah berhubungan dengan Taliban yang ada di Doha (Qatar). Pada akhirnya, mereka juga ingin bisa melihat Indonesia. Setelah dikomunikasikan dengan baik oleh Ibu Menlu (Retno LP Marsudi) kepada kedua belah pihak, akhirnya mereka pun sempat ke Indonesia. Dalam kesempatan itu, mereka juga mengatakan bahwa ingin (Afghanistan) seperti Indonesia, atau seperti Islamnya Indonesia.

Bagaimana peran RI selama ini dalam mendukung perdamaian di Afghanistan?

Sejak baru bertugas pada 2017, saya mengantarkan presiden Afghanistan saat itu, Ashraf Ghani, ke Jakarta. Ia menyampaikan agar Indonesia meningkatkan perannya untuk ikut dalam (mengupayakan) perdamaian di Afghanistan. Lalu Bapak Presiden (Joko Widodo) mengiyakan.

Kemudian, ada dua peristiwa pertemuan konferensi tingkat tinggi (KTT) di Riyadh dan G-20 di Jerman. Waktu itu, keadaan Afghanistan sangat terasa dengan pendekatan hard power. Sehingga, Indonesia ingin menawarkan satu pendekatan untuk mendapatkan keseimbangan terhadap hard power, yaitu soft power diplomasi.

Kita sampaikan maksud itu di Riyadh kepada khalayak ramai, termasuk Presiden Trump yang pada waktu itu hadir. Begitu juga di pertemuan negara-negara G-20. Kita menyampaikan, Indonesia ingin menyelesaikan terorisme atau radikalisme ini dengan cara deradikalisasi, yakni pendekatan yang lebih soft.

Pada akhir 2017, Bu Menlu diutus oleh Bapak Presiden ke Kabul dan berjumpa dengan presiden Ashraf Ghani. Presiden Afghanistan saat itu menyatakan, Indonesia akan ikut membangun atmosfer perdamaian di sana. Setelah kembali ke Tanah Air, Bu Menlu melapor kepada Bapak Presiden.

Kita (pihak Kedutaan Besar RI di Afghanistan –Red) pun melakukan hal-hal yang berkaitan dengan membangun-atmosfer perdamaian itu. Misalnya melalui capacity building pada semua level, seperti pertemuan ulama, kaum perempuan, atau mengundang para santri dari Afghanistan. Sebagian para pelajar itu belajar empat bulan di Indonesia.

Jadi, banyak hal yang kita lakukan. Artinya, kita mencoba untuk terus meningkatkan hubungan bilateral RI-Afghanistan sekaligus untuk ikut membangun atmosfer perdamaian di sana. Semua itu dilakukan dengan soft power, kelembutan, atau katakanlah pendekatan ulama.

Bagaimana umumnya rakyat Afghanistan melihat Indonesia?

Dalam 10 tahun belakangan ini, kita sudah undang warga Afghanistan ke Indonesia. Berbagai daerah dikunjunginya, termasuk Jakarta, Yogyakarta, Ambon, dan hingga Aceh. Mereka melihat bagaimana perdamaian berlangsung di sana. Mereka mengagumi kehidupan Islam yang ada di daerah-daerah Indonesia. Itulah kesan yang mereka dapatkan.

Kemudian, mereka sampaikan kepada khalayak ramai kalau nanti Islam di Afghanistan ingin seperti Islam di Indonesia. Yakni, Islam moderat, yang seimbang, yang partisipan, toleran, dan berkeadilan.

Nilai-nilai itu sebenarnya sudah ada dalam Piagam Madinah (pada zaman Nabi Muhammad SAW –Red). Namun, kalau nilai-nilai di Indonesia itu disempurnakan oleh ulama-ulama kita dengan munculnya Pancasila. Bagi mereka, Pancasila itu sesuatu yang luar biasa.

Mereka banyak belajar dari Indonesia?

Mereka melihat kehidupan keseharian masyarakat Indonesia, termasuk dalam memutar roda perekonomian. Mereka mengaku, kalau ke Indonesia ini betul-betul terasa seperti bertemu dengan saudara. Sebab, Indonesia ini mayoritas umat Islam.

Dari kekaguman yang mereka tunjukkan, kemudian ada efeknya. Mereka mulai ingin menyekolahkan anak-anak mereka ke Indonesia. Sebelumnya, mereka cenderung bercita-cita agar anaknya bisa sekolah ke Pakistan, Turki, atau Saudi.

Bagi saya yang bertugas di Afghanistan, tentunya ikut bahagia dan bangga. Bahwa apa-apa yang kita lakukan selama 10 tahun ini bisa diterima dan diapresiasi. Bahkan, mereka mencoba untuk banyak belajar dengan Indonesia ke depan. Tentunya, mereka berharap agar Indonesia bisa ikut terus mendukung dan membantu proses apa yang mereka inginkan, yakni menjadi negara yang moderat.

Ada kesan bahwa Afghanistan termasuk negara yang “rawan”, bagaimana Anda menjalani tugas sehari-hari di sana?

Sebenarnya, saya senang sekali. Walaupun di daerah berbahaya, saya tidak mengalami kesulitan. Saya justru mendapatkan kemudahan-kemudahan dan rasa persaudaraan yang dalam. Artinya, kami di Afghanistan juga mendapat dukungan dan doa dari teman-teman di Indonesia. Sekarang, kita di sana tidak merasa punya musuh. Yang kita khawatirkan cuma perbuatan-perbuatan kriminal biasa.

Bagaimana situasi terkini di Afghanistan menurut Anda?

Sekarang (Rabu, 1/9), begitu cepat Taliban melakukan upaya-upaya sambil menunggu kepergian Amerika Serikat (AS) secara keseluruhan. AS, seperti yang dijanjikan, pada akhir Agustus ini atau setidaknya 11 Setember 2021 itu sudah selesai semua persoalannya (sehingga meninggalkan Afghanistan --Red).

Kita ketahui, Taliban telah membuat pernyataan. Dalam statement-nya, memunculkan istilah-istilah moderat, modern, dan Islam wasathiyah. Mereka menyatakan, misalnya, tidak akan dendam atau tidak akan ada pertumpahan darah. Dan memang itu sudah dilakukan.

Mereka masuk Kabul dengan damai. Kemudian, mereka juga akan mengampuni atau menerima pegawai negeri sipil. Mereka akan sangat mengapresiasi yang akan bergabung dengan pemerintahan mereka, nanti apabila sesudah terbentuk.

Kami mengamati, situasi terkini di Afghanistan, kehidupan (keseharian) masyarakatnya sudah banyak dimulai. Banyak pasar, mal, perkantoran yang sudah dibuka. Namun, sektor pemerintahan dan perbankan memang masih tutup. Sebab, menunggu AS pergi semua dari sana. Setelah semuanya berakhir, barulah kemudian diumumkan pemerintahan mereka (Taliban) sembari menunggu hasil negosiasi akhir untuk menciptakan pemerintahan yang inklusif.

Teman-teman saya di sana juga mengatakan, kehidupannya semakin baik. Bahkan, menurutnya situasi semakin aman walaupun di Kabul tetap saja orang berduyun-duyun ke bandara hendak meninggalkan Afghanistan. Bahkan, tadi pagi juga ada roket ke bandara tapi kemudian diadang oleh jaringan radar setempat. Serangan itu diklaim dilakukan oleh ISIS-K.

Bagaimana Anda melihat “janji-janji” Taliban untuk rakyat?

Setidaknya, ada sejumlah janji yang mereka sampaikan. Di antaranya, bahwa pria dan wanita akan memiliki derajat yang sama untuk bersekolah. Mereka akan bersahabat dengan semua negara tetangganya. Mereka juga tidak akan menggunakan Afghanistan sebagai tempat pelatihan terorisme untuk menyerang negara-negara lain. Mereka mengatakan, ingin menjadikan Afghanistan sebagai negara yang modern dan moderat.

Kalau (janji-janji) dijalankan, kita akan terus mendukung apa yang sudah kita bangun bersama antara RI dan Afghanistan. Misalnya, kita akan terus bekerja sama bilateral, termasuk capacity building untuk memajukan kedua negara dengan asas saling menguntungkan.

Masih ada WNI di Afghanistan dalam situasi terkini?

Warga negara Indonesia sudah dievakuasi semua. Ini sebagaimana pernyataan Bu Menlu di Bandara Halim (21 Agustus 2021) bahwa ada 26 WNI yang sudah dievakuasi. Untuk proses evakuasinya sendiri sudah dijelaskan oleh Bu Menlu. Sementara, untuk tim esensialnya memang ada yang masih di Kabul walaupun mereka dalam jumlah kecil. Perwakilan RI di sana itu sambil menunggu pemerintahan yang baru.

Menurut Anda, bagaimana RI bisa meningkatkan perannya dalam mendukung perdamaian dan pembangunan nasional di Afghanistan ke depannya?

Yang pertama, pemerintah Indonesia akan mendukung pemerintahan yang inklusif dari berbagai kelompok supaya (perdamaian) itu abadi. Kedua, harus memperhatikan hak-hak kaum perempuan. Nah, yang ketiga, Indonesia tetap berkomitmen untuk mendukung terciptanya dan terpeliharanya perdamaian di Afghanistan. Itulah tiga dari sejumlah hal yang patut digarisbawahi.

Bu Menlu juga belum membuat jawaban sama sekali soal itu. Karena, pemerintah (Afghanistan) yang sekarang belum dibentuk. Setelah dibentuk, barulah kemudian kita melihat, apakah janji-janjinya mereka (Taliban) dijalankan ataukah tidak.

 

photo
Duta Besar RI untuk Afghanistan Dr Arief Rachman MD - (Dok Kemlu RI)

Terinspirasi Heroisme Pak Dirman

 

Dr Arief Rachman MD menjadi duta besar RI untuk Afghanistan sejak 2017 hingga kini. Mayor jenderal (purnawirawan) TNI itu sebelumnya aktif di Angkatan Darat.

Sebagai seorang prajurit, dia sudah pernah dikirim ke berbagai negara yang sedang dilanda konflik. Waktu itu, mantan komandan Sesko TNI-AD ini diterjunkan dalam pasukan perdamaian.

Sejak dahulu, jiwa patriotik selalu tertanam dalam dirinya. Menurut Arief, heroisme para pejuang bangsa pada zaman kemerdekaan menjadi inspirasi tanpa henti. Seorang pahlawan yang sangat dihormatinya ialah Jenderal Besar Sudirman.

Ia ingat, saat masih berusia anak-anak sering mendapatkan cerita tentang perjuangan Pak Dirman. Ayahnya, Muhammad Damaw, merupakan seorang tentara dan pernah tergabung dalam Laskar Hizbullah Jawa Timur.

“Yang menginspirasi saya ialah Jenderal Besar Sudirman. Sebab, perjuangan dan pengorbanannya kepada negara dan bangsa serta kepasrahannya kepada Allah SWT sangat luar biasa,” ujar Arief Rachman kepada Republika, baru-baru ini.

Sebelumnya, dubes RI untuk Afghanistan ini tidak langsung terjun ke dunia militer. Dirinya sempat menempuh studi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya pada 1976. Namun, mengikuti jejak ayahnya, lelaki asal Jombang, Jawa Timur, ini pun meninggalkan cita-cita berkarier sebagai dokter. Dipilihnya jalan untuk menjadi seorang prajurit.

Sebagai tentara, ia mengikuti berbagai program, termasuk ABRI Masuk Desa. Sebagai prajurit teretorial, ia ditempa untuk selalu bisa menyatu dengan rakyat. Dalam kariernya di militer, ia pernah ditugaskan antara lain ke Timor Timor, Aceh, dan Papua.

“Selama saya bertugas ke mana-mana, ke Papua, Aceh, dan lain-lain, tidak ada yang kita bisa mintai pertolongan kecuali Yang Maha Kuasa,” jelas mantan staf khusus panglima TNI ini.

 


×