Ada baiknya kita menempatkan Shirathal Mustaqim dalam era disrupsi informasi seperti sekarang. | Pixabay
12 Sep 2021, 04:16 WIB

Shirathal Mustaqim di Era Disrupsi

Ada baiknya kita menempatkan Shirathal Mustaqim dalam era disrupsi informasi seperti sekarang.

 

 

 

OLEH A SYALABY ICHSAN

Terkait

Pada zaman ini, tsunami informasi terjadi setiap hari. Dia bertiup kencang ke segenap masyarakat pemilik telepon genggam. Amat sulit untuk membedakan mana yang salah dan yang benar. Meski embusannya bersumber dari pemegang kuasa, tidak ada jaminan jika informasi itu memang merupakan fakta.

Sebuah survei dari Katadata Insight Center (KIC) bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta SiBerkreasi mengungkap, sebanyak 30-60 persen masyarakat Indonesia terpapar hoaks saat mengakses dunia maya. Hanya sedikit dari mereka yang mengenalinya. 

Palsunya informasi dapat membawa kita ke jalan yang sesat. Semisal jika kita terpengaruh adanya akun media sosial yang  menghalalkan darah sesama Muslim dan mengkafirkan orang-orang yang tidak sepaham, maka kita akan sesat. Kita juga akan terjatuh ke lubang yang sama apabila mudah percaya dengan framing dari beragam media yang melekatkan identitas keagamaan dengan terorisme.  

Di dalam Alquran, Allah SWT berfirman agar kita terus berada pada jalan yang lurus. Bukan jalan yang dimurkai bukan pula jalan yang sesat. Kita mengenalnya sebagai Shirathal Mustaqim.

Kalimat ini ditemukan bukan hanya pada Surah al-Fatihah. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menyebut, kata Shirath yang dirangkai dengan Mustaqim ditemukan dalam Alquran sebanyak 32 kali. Shirath menurut Quraish, berbeda dengan kata sabil yang juga dimaknai sebagai jalan. Jika sabil bisa menjadi jalan yang benar atau salah, Shirath hanya ada satu dan selalu bersifat benar dan hak. 

Perumpamaan ini tampak jelas dalam QS al-Maidah ayat 16. “Dengan kitab itulah Allah membimbing orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan-jalan kedamaian (subulassalam), dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan seizin-Nya, dan membimbing mereka menuju ke ash-shirath al-mustaqim, yakni jalan luas yang lurus.” 

Quraish menganalogikan Shirath sebagai jalan tol. Kita tidak bisa keluar atau tersesat setelah memasukinya. Apabila memasukinya, kita telah ditelan olehnya dan tidak dapat keluar kecuali setelah tiba pada akhir tujuan perjalanan.

 
Allah SWT berfirman agar kita terus berada pada jalan yang lurus. Bukan jalan yang dimurkai bukan pula jalan yang sesat. Kita mengenalnya sebagai Shirathal Mustaqim.
 
 

Shirath adalah jalan yang luas. Semua orang dapat melaluinya tanpa berdesak-desakan. Berbeda dengan sabil yang banyak tetapi merupakan jalan kecil. Meski demikian, Quraish berpendapat, tidak apa kita menelusuri sabil asal pada akhirnya menemukan jalan tol yang luas lagi lurus itu. 

Shirath pun disandingkan dengan mustaqim yang dimaknai lurus. Apa yang diharapkan bukan hanya shirath yakni jalan lebar dan luas, tetapi juga jalan yang lurus.

Menurut Quraish, jika jalan hanya lebar dan luas tetapi berliku-liku, maka sungguh panjang jalan yang harus ditempuh tersebut. Jalan luas lagi lurus itu menjadi jalan yang dapat mengantar kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. 

Ada baiknya kita menempatkan Shirathal Mustaqim dalam era disrupsi informasi seperti sekarang. Terlebih, dalam surah lainnya, Allah SWT mengonotasikan shirathal mustaqim dengan ilmu pengetahuan.

Pada QS Maryam: 43, Alquran berkisah mengenai Nabi Ibrahim AS yang berkata kepada ayah beliau: “Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu ash-shirath al-mustaqim.” 

Ayat tersebut menjelaskan tentang ayah Nabi Ibrahim, Azar. Dikisahkan jika Nabi Ibrahim bertanya kepada ayahnya yang merupakan seorang penyembah berhala. Sebuah benda yang tidak bisa mendengar, tidak melihat dan tidak bisa memberi pertolongan.

photo
Baitullah Kabah di Makkah dibangun oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Ismail AS. - (DOK PXHERE)

Ibrahim bertanya dengan penuh keberanian mengingat pada masa itu mayoritas masyarakat bahkan raja mereka menjadi penyembah berhala. Di sinilah Nabi Ibrahim dengan segenap pengetahuan berupa wahyu yang disampaikan kepadanya harus melawan hoaks. Kebohongan yang justru dipraktikkan ayahnya sendiri, sang pembuat berhala. 

Dengan ilmu pengetahuan itu, Nabi Ibrahim berdakwah kepada ayah dan masyarakatnya agar bisa mengikuti  Shirath al-Mustaqim. Imam Ibnu katsir mengistilahkannya sebagai jalan lurus yang dapat mengantar seseorang untuk meraih cita-cita sekaligus menjadi penyelamat diri dari hal menakutkan. Shirath al-Mustaqim tak lain merupakan agama itu sendiri.

Sebagaimana yang dijelaskan Wahbah al-Zuḥailī dalam kitabnya al-Tafsīr al-Wasīṭ bahwa al-Ṣhirāth al-Mustaqīm adalah jalan yang lurus yang tidak ada kebengkokan padanya. Dialah jalan alhaq (kebenaran), al-Islam dan Alquran serta jalannya orang-orang yang telah Allah berikan nikmat kepada mereka dengan taufiq, kebaikan, dan kesempurnaan nikmat petunjuk tersebut.

Semoga kita termasuk di dalamnya.


Terkini

×