Sepasang suami istri dengan masker selama pernikahan di kota Hebron, Tepi Barat, Palestina, Jumat (10/4/2021). Islam mengatur bahwa istri harus mendapatkan hak-haknya atas suami. | EPA-EFE / ABED AL HASHLAMOUN
12 Sep 2021, 04:05 WIB

Hak-Hak Istri Atas Suami

Islam mengatur bahwa istri harus mendapatkan hak-haknya atas suami.

 

OLEH A SYALABY ICHSAN

Di dalam Islam, seorang Muslimah ditempatkan pada posisi yang sangat terhormat. Tidak terkecuali saat dia menyandang status sebagai istri. Islam pun mengatur dia harus mendapatkan hak-haknya atas suami. 

Dari ayahnya, Hakim bin Muawiyah al Qusyairi memperoleh penjelasan mengenai perlakuan terhadap perempuan sebagai istri. Si ayah menanyakan kepada Rasulullah Muhammad SAW mengenai hak seorang istri terhadap suaminya. Dan, jawaban segera ia peroleh.

Terkait

Utusan Allah SWT itu menyampaikan, hak istri atas suaminya adalah memberinya makan jika lapar, membelikannya pakaian jika menginginkan atau membutuhkannya, jangan memukul wajah atau menjelekkannya. Ini sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Nasai.

Lewat dalil tersebut, Abd al-Qadir Manshur dalam bukunya, Buku Pintar Fikih Wanita, menyatakan, perempuan mempunyai hak untuk diperlakukan secara baik oleh suaminya. Semua itu terwujud baik dalam tingkah laku maupun tutur kata suami terhadap pasangannya.

Perlakuan baik terhadap perempuan mencakup tatanan moral sekaligus material. Soal larangan memukul wajah, misalnya. Ia mengutip pernyataan cendekiawan Muslim, al-Qami, yang menegaskan wajah yang diucapkan Rasul adalah representasi seluruh anggota tubuh dan tabiat perempuan. "Semua itu tak boleh dijelek-jelekkan oleh pasangan mereka," kata al-Qami. 

Jadi, larangan itu mencakup pula sikap mencela, mengumpat, dan menggauli perempuan dengan cara yang tidak baik. Jangan memukul mereka, bermakna tak memukul mereka tanpa alasan kuat yang dibenarkan agama.

 
Perempuan mempunyai hak untuk diperlakukan secara baik oleh suaminya. Semua itu terwujud dalam tingkah laku maupun tutur kata suami terhadap pasangannya.
 
 

Alasan kuat itu, contohnya seorang istri bertindak membangkang atau melawan suaminya atau nusyuz. Kalangan ulama yang menganut Mahzab Syafii menyatakan, meski telah berbuat nusyuz, perempuan itu tak boleh dipukul. Ulama lain menjelaskan, kalaupun memukul tidak dengan keras dan melukai tubuh.

Ketika istrinya menghentikan pembangkangannya, haram bagi suami memukul istrinya. Abd al-Qadir Manshur melanjutkan, dalam Surah an-Nisa ayat 19-21, Allah menganjurkan agar suami menggauli istrinya secara patut. Bila tak menyukai mereka, diminta bersabar.

Dalam Tafsir al Baidhawi, ujar Manshur, menggauli dengan patut yang dipahami memperlakukan perempuan dengan baik adalah adil dalam bertindak serta sopan dalam bertutur kata terhadap mereka. Mereka perlu memperoleh pelajaran pula tatkala melakukan pembangkangan dan melawan.

Sayyid Sabiq menjelaskan, pembangkangan yang dilakukan perempuan dalam ranah rumah tangga bentuknya bisa menentang suami, tidak menaatinya, atau keluar rumah tanpa izin dari suaminya. Dalam kasus ini, suami berhak menasihati istrinya itu mengakhiri pembangkangan.

Pembangkangan yang melahirkan perseteruan yang menyebabkan kedua belah pihak tak saling berbicara, imbuh Sabiq, tak boleh berlangsung melebihi tiga hari. Ia bersandar pada ketentuan bahwa seorang Muslim dengan Muslim lainnya mestinya tak saling diam melebihi tiga hari.

Ia menyarankan perseteruan sebaiknya di dalam rumah saja, bukan di luar rumah. Ada tahapan untuk menghentikan nusyuz istri, yaitu didahului dengan nasihat agar istri menyadari kekeliruannya. Pisah ranjang adalah jalan kedua setelah nasihat diabaikan sama sekali.

Terakhir adalah memukulnya, tetapi tidak keras dan melukai. Suami harus menghindari wajah dan organ-organ vital perempuan. "Karena maksud pemukulan ini hanya memberikan pelajaran bukan menimbulkan cedera," kata Sabiq melalui karyanya Fiqih Sunnah.

Wallahu a’lam.


×