Seorang petugas menyemprotkan cairan disinfektan di halaman Asrama PUPR, Kompleks Kampus Unpad Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (22/6/2021). Sebagai menara air, ilmuwan dituntut berkontribusi pada pembangunan bangsa. | ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI

Opini

10 Sep 2021, 03:45 WIB

Menjadi Menara Air

Sebagai menara air, ilmuwan dituntut berkontribusi pada pembangunan bangsa.

BIYANTO, Guru Besar UIN Sunan Ampel dan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

Tridharma perguruan tinggi mengamanahkan civitas academica kampus melaksanakan tugas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tiga tugas ini harus dipahami sebagai satu kesatuan.

Tugas-tugas dalam Tridharma juga meniscayakan akademisi kampus tak boleh berpuas diri berada di menara gading. Sebaliknya, akademisi harus memfungsikan diri layaknya menara air yang selalu hadir di tengah-tengah masyarakat.

Dengan cara itu, dia merasakan denyut kehidupan masyarakat. Akademisi kampus tidak boleh hanya menjalankan rutinitas tugas pendidikan dan pengajaran, juga dituntut melahirkan penelitian yang bermanfaat bagi dunia keilmuan sekaligus kemasyarakatan.

Dengan penelitian dan pengembangan itulah, akademisi dapat meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada masyarakat. Melalui rangkaian tugas dalam Tridharma, akademisi dituntut berubah dari sekadar berada di menara gading menjadi menara air.

Secara simbolis, menara gading berarti tempat menyendiri yang sunyi, mulia, dan menyenangkan. Orang di menara gading acap kali merasa nyaman dengan kesendiriannya, tanpa mau peduli dengan kehidupan masyarakat.

 

 
Secara simbolis, menara gading berarti tempat menyendiri yang sunyi, mulia, dan menyenangkan. Orang di menara gading acap kali merasa nyaman dengan kesendiriannya, tanpa mau peduli dengan kehidupan masyarakat.
 
 

Sementara itu, terma “menara air” secara filosofis mengajarkan pentingnya memberi manfaat bagi kemanusiaan dan lingkungan. Layaknya sumber kehidupan, dari menara air mengalir air yang menghidupi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Filosofi menara air juga mengajarkan agar setiap ilmuwan memahami, dirinya memiliki tanggung jawab individual sekaligus tanggung jawab sosial.

Tanggung jawab individual ilmuwan, menunjukkan sikap profesional dengan selalu mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai bidang yang ditekuni.

Sementara itu, tanggung jawab sosial bermakna bahwa ilmuwan harus melahirkan karya inovatif yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Dengan demikian, aktivitas ilmuwan harus selalu berkorelasi dengan kondisi masyarakat.

Sebagai menara air, ilmuwan dituntut berkontribusi pada pembangunan bangsa. Ilmuwan harus selalu risau jika melihat kondisi negerinya belum sesuai tujuan yang dicita-citakan para pendiri bangsa sebagaimana termaktub dalam konstitusi.

Dalam konteks memfungsikan diri sebagai menara air inilah, semua pihak seharusnya melihat posisi sejumlah akademisi kampus yang akhir-akhir ini bersikap kritis.

 

 
Dalam konteks memfungsikan diri sebagai menara air inilah, semua pihak seharusnya melihat posisi sejumlah akademisi kampus yang akhir-akhir ini bersikap kritis.
 
 

Para akademisi kampus pasti tidak ingin tinggal diam dengan kondisi bangsa yang terus terpuruk akibat pandemi Covid-19. Jika kondisi ini dibiarkan, negeri tercinta benar-benar akan menjadi negara rapuh (fragile state).

Di tengah kegalauan melihat kondisi bangsa inilah, para ilmuwan ingin menunjukkan tanggung jawab sosialnya. Mereka tidak ingin disebut kelompok intelektual yang melakukan pengkhianatan terhadap bangsanya.

Istilah pengkhianatan kaum intelektual pernah dikemukakan Julien Benda dalam The Betrayal of the Intellectuals (1955). Melalui karya ini, Benda meminta ilmuwan memberikan solusi terhadap persoalan bangsa dan negara.

Kaum intelektual yang abai pada kondisi bangsa disebut Benda sebagai “pengkhianat”. Agar tak disebut “pengkhianat”, sejumlah akademisi kampus turun gunung. Mereka menyampaikan koreksi terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai menyeleweng dari amanah konstitusi.

Namun, sangat disayangkan, nalar kritis yang dikembangkan kaum intelektual kampus terkadang dilihat sebagai ancaman. Padahal seharusnya, semua kritik dijadikan energi positif untuk meningkatkan kinerja di tengah musim pandemi.

Pada konteks inilah, Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii) berpesan agar pemerintah tidak mereaksi kritik secara berlebihan. Apalagi, reaksi itu diwujudkan dengan memanfaatkan jasa buzzer (pendengung) dan influencer.

 
Harus diakui, kehadiran para pendengung suara justru dapat memperkeruh suasana. Menjawab kritik dengan memanfaatkan pendengung suara juga kontraproduktif.
 
 

Terasa lebih bermanfaat jika alokasi dana pendengung suara dialihkan untuk penanganan pandemi. Buya Syafii juga berpesan pada kelompok kritikus agar membangun budaya politik yang lebih arif, saling berbagi, sekalipun sikap kritis tetap dipelihara.

Harus diakui, kehadiran para pendengung suara justru dapat memperkeruh suasana. Menjawab kritik dengan memanfaatkan pendengung suara juga kontraproduktif.

Sebab, pada era keterbukaan informasi, masyarakat semakin melek media sehingga dapat memilah berita yang benar dan yang pesanan.

Maka itu, semua pihak penting menyadari bahwa suara-suara kritis, apalagi datang dari akademisi kampus yang nirkepentingan politik, merupakan bagian dari tanggung jawab sosial ilmuwan. Itu ekspresi hijrah ilmuwan dari menyendiri di menara gading ke tengah kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menjadi menara air.

Karena itu, pemerintah tidak boleh menggunakan pendekatan kekuasaan dalam merespons kritik yang disuarakan ilmuwan kampus. Yang penting, suara-suara kritis itu disampaikan secara jujur, terhormat, dan bertanggung jawab.

Nilai moral akademik kampus pasti tidak membenarkan model kritik menghasut, menghujat, melecehkan, dan jauh dari kebenaran. Sikap buruk ini jelas bertentangan dengan filosofi menara air, yang selalu menghadirkan keteduhan dan kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar. 


×