Ahmad Syafii Maarif | Daan Yahya | Republika
07 Sep 2021, 03:45 WIB

Pertemuan dengan Presiden Bush dan Kilas Balik Kemudian (I)

Presiden Bush dalam pertemuan itu lebih banyak mendengar. Kami yang aktif berbicara.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Pertemuan itu terjadi dua tahun setelah Presiden George W Bush menginvasi Afghanistan dengan dalih mengejar teroris. Atas prakarsa Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia, Ralph L Boyce, pada 22 Oktober 2003 di Hotel Patra (Denpasar), diadakan pertemuan tokoh lintas agama dengan Presiden Bush.

Saya salah seorang yang turut pertemuan yang semula direncanakan sekitar 22 menit, tetapi molor sampai 55 menit. Dubes Boyce, sebelumnya beberapa kali bertemu dengan saya di kantor PP Muhammadiyah Jakarta, antara lain, merundingkan pertemuan dengan Bush.

Sebagai kilas balik, saya juga akan membicarakan politik luar negeri AS pasca-Bush yang ternyata tak banyak berubah. Tak peduli dari partai mana pun presidennya berasal.

Terkait

Nama-nama dalam dalam pertemuan itu adalah almarhum KH Hasyim Muzadi (ketua umum PBNU), Prof Azyumardi Azra (rektor UIN Jakarta), DR Nathan Setiabudi (ketua PGI), Ida Pedanda Made Gunung (tokoh Hindu Bali), dan saya mewakili PP Muhammadiyah.

 
Sebagai kilas balik, saya juga akan membicarakan politik luar negeri AS pasca-Bush yang ternyata tak banyak berubah. Tak peduli dari partai mana pun presidennya berasal.
 
 

Presiden Bush dalam pertemuan itu lebih banyak mendengar. Kami yang aktif berbicara. Agak di luar dugaan, Presiden Bush sambil nanar menatap wajah kami tak marah, sekalipun dicecar pertanyaan tajam dan kritis, khususnya soal Palestina, invasi atas Irak, Afghanistan.

Pertemuan Denpasar ini, sempat dicurigai sebagian elite politik Indonesia dengan tuduhan macam-macam kepada kami. Jawaban saya ketika itu: “Mana yang lebih kesatria berhadapan langsung dengan ‘musuh’ atau mengepalkan tinju dari balik gunung?”

Para tokoh lintas agama memilih berhadapan langsung. Ini kesempatan baik menjelaskan pandangan kita terhadap Bush, yang namanya telah jadi sasaran kritik global karena politik neo-imperialismenya.

Bush dan Trump sama-sama berasal dari Partai Republik yang dikenal konservatif. Dunia sedikit lega setelah Joseph R Biden Jr (Demokrat) mengalahkan Trump tahun lalu untuk menjadi presiden ke-46 AS.

Untuk pertemuan Denpasar itu, saya menyiapkan konsep tertulis di samping disampaikan secara lisan kepada Presiden Bush. Untuk menyegarkan ingatan tentang suasana politik global pada 2003, versi bahasa Indonesia dari sikap saya terhadap Bush dikutip berikut ini:

“Tuan Presiden George W Bush yang Terhormat, 

Terlebih dulu saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus karena telah diundang menemui presiden dari sebuah bangsa besar dan perkasa, pemenang Perang Dingin, setelah komunisme dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan sejarah.

Anda kini berada pada posisi strategis untuk menawarkan sebuah tatanan dunia yang lebih adil dan berimbang, untuk menghapus ketidakadilan dan kemiskinan global yang diderita lebih dua miliar umat manusia di seluruh dunia.

 
Saya harus mengatakan, setiap kita harus berlalu adil terhadap sejarah.
 
 

Di tangan Anda juga tergenggam segala dana dan kekuatan untuk memelopori sebuah kultur kearifan global, demi menyelamatkan peradaban manusia yang terancam arogansi kultural, penyalahgunaan demokrasi, dan isu hak-hak asasi manusia sebagaimana diperagakan oleh oleh beberapa negara maju, termasuk Amerika Serikat.

Tetapi, mengapa Anda gagal menumbuhkembangkan suatu kultur kearifan global itu? Setidak-tidaknya ada dua kemungkinan yang ingin saya sampaikan kepada Anda dalam pertemuan bersejarah ini.

Pertama, politik luar negeri Amerika yang terlalu pro-Israel telah menutup mata dan hati Anda untuk mengembangkan dan menunjukkan kepada dunia suatu sikap imbang dan adil terhadap bangsa-bangsa lain, khususnya terhadap rakyat Paestina yang telah menderita demikian lama.

Selama konflik Israel-Palestina tetap saja berlangsung, akan menjadi sangat sulitlah bagi kita untuk melihat sebuah dunia yang damai dalam tempo yang dekat ini.

Kedua, karena ketakutan Anda terhadap ancaman yang mematikan dari terorisme internasional. Tentang isu ini, kita sebagai manusia normal memang punya hak moral memerangi segala bentuk terorisme dan melumpuhkan basis politik-ekonominya, karena perbuatan mereka sepenuhnya anti manusia dan mereka adalah musuh yang sebenarnya dari dunia beradab. Terhadap isu hangat ini, percayalah, saya adalah teman Anda dan berada satu perahu dengan Anda, Tuan Presiden.

Tetapi pada waktu Anda mengirim pasukan untuk menginvasi Irak, Anda tidak diragukan lagi telah melakukan suatu bunuh diri sejarah, dan dunia akan mengenang ini dengan baik sebagai kejahatan perang yang dilakukan oleh mereka, yang mengaku sebagai pembela demokrasi dan prinsip-prinsip hak-hak asasi manusia.

Sebagai catatan pungkasan, saya harus mengatakan, setiap kita harus berlalu adil terhadap sejarah. Karena itu, bila kita berbicara tentang gejala Usamah bin Ladin dan Taliban pada era Perang Dingin, pertanyaan ini otomatis akan mengemuka: siapa sesungguhnya yang memberikan dukungan kepada mereka dalam upaya mengalahkan pasukan Uni Soviet, musuh Anda yang sebenarnya pada waktu itu?

Saya kira CIA turut bertanggung jawab bagi permainan politik, yang berbahaya dan penuh risiko ini. Tentang masalah ini, saya harap Tuan Presiden berpikir lebih dalam lagi." 


×