Seorang guru mengukur suhu tubuh pelajar saat pelaksanaan pembelajaran tatap muka di SMK Negeri 29 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (30/8/2021). | Republika/Putra M. Akbar

Kabar Utama

31 Aug 2021, 03:55 WIB

Pembelajaran Tatap Muka Dinilai Berjalan Lancar

Berdasarkan pengawasan KPAI, kesiapan sekolah menggelar PTM telah meningkat signifikan.

JAKARTA -- Para pelajar di sejumlah daerah mulai kembali belajar di sekolah pada Senin (30/8) seiring adanya penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas hari pertama dinilai berjalan lancar. Kesiapan sekolah dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes) pun dianggap lebih baik.

PTM terbatas, antara lain, digelar di DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dinas pendidikan daerah menerapkan beragam cara untuk meninimalkan risiko penularan Covid-19, mulai dari mengerahkan Satpol PP untuk mencegah kerumunan siswa hingga memantau para siswa sampai tiba di rumah masing-masing.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan, kesiapan sekolah menggelar PTM telah meningkat signifikan. Hal tersebut berdasarkan hasil pengawasan penyiapan PTM yang telah dilakukan KPAI sejak 2020.

Retno menyampaikan, hasil pengawasan PTM pada 2020 menunjukkan hanya ada 16,7 persen sekolah yang diawasi, siap menggelar PTM di masa pandemi. "Tapi, kali ini (hasil pengawasan pada 2021) sudah menyentuh angka 79,54 persen ketika dirata-rata," ungkap Retno pada rapat koordinasi nasional secara virtual, Senin (30/8). Rapat tersebut membahas hasil pengawasan persiapan PTM terbatas dan program vaksinasi anak usia 12 sampai 17 tahun.

photo
Pelajar mengikuti pembelajaran tatap muka di SDN Pondok Labu 14 Pagi, Jakarta Selatan, Senin (30/8). Sebanyak 610 sekolah di DKI Jakarta menggelar pembelajaran tatap muka secara terbatas dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Republika/Thoudy Badai - (Republika/Thoudy Badai)

Dalam penilaian tersebut, ada sejumlah indikator pengawasan yang diberlakukan pada sekolah-sekolah yang diawasi oleh KPAI. Indikator-indikator itu, di antaranya, terkait dengan ada tidaknya infrastruktur adaptasi kebiasaan baru, protokol adaptasi kebiasaan baru, serta sejumlah faktor pendukung, seperti penerapan physical distancing.

Retno menjelaskan, pemantauan pada 2020 dilaksanakan di 49 sekolah yang tersebar di 21 kabupaten/kota di sembilan provinsi. Kesembilan provinsi itu adalah DKI Jakarta, Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), Jawa Timur (Jatim), Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Bengkulu, dan Nusa Tenggara barat (NTB).

Tahun ini, KPAI kembali melakukan pengawasan penyiapan PTM di sejumlah daerah pada periode Januari-Juni. Secara total, ada 46 sekolah yang penyiapan PTM-nya diawasi oleh KPAI dalam periode ini. Menurut Retno, jumlah tersebut termasuk penyiapan PTM yang dilakukan sekolah di masa PPKM pada Juli-Agustus ini.

Sekolah-sekolah tersebut tersebar di tujuh provinsi. Di DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, dan Banten, KPAI melakukan pengawasan secara langsung. Sementara di Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD). "Secara kesiapan infrastruktur, protokol kesehatan yang dibuat, itu memang terjadi penyiapan mencapai 79,54 persen," jelas Retno.

Di DKI Jakarta, PTM terbatas pada Senin digelar di 610 sekolah. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui akun Instragram-nya menyebut PTM hari pertama berjalan lancar. PTM di DKI diberlakukan seiring dengan penerapan PPKM level 3 sejak 24 Agustus setelah kondisi Covid-19 yang lebih terkontrol.

Kasubag Humas Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taga Radja mengeklaim, belum ada laporan negatif yang diterima pihaknya berdasarkan hasil pengawasan di 610 sekolah.  "Prokes berjalan sesuai SOP yang sudah ditetapkan melalui asesmen dan pelatihan," kata dia saat dikonfirmasi setelah memantau PTM di SD Cakung Barat 15.

Menurut dia, protokol kesehatan 5M juga diterapkan dengan baik. Disdik DKI secara bertahap akan menambah jumlah sekolah yang menggelar PTM terbatas menjadi sebanyak 1.500 sekolah pada pertengahan September.

Provinsi lainnya yang juga telah menggelar PTM terbatas adalah JawaTengah. Kemarin, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meninjau langsung pelaksanaan PTM terbatas di Kota Semarang.  Menurutnya, masih ada beberapa catatan yang perlu dievaluasi pihak sekolah.

Saat melakukan pemantauan di SMPN 13 Semarang, Ganjar menyoroti masih adanya kerumunan siswa saat mereka menunggu giliran untuk mencuci tangan. "Yang seperti ini harus dievaluasi. Tempat cuci tangannya ditambah, jaraknya juga diatur lebih renggang," kata Ganjar. Kendati demikian, Ganjar menilai kesiapan sekolah secara umum sudah bagus.

Di Jawa Timur, PTM terbatas digelar untuk jenjang SMA, SMK dan SLB di 20 kabupaten/kota. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengecek langsung pelaksanaan PTM di SMKN 7 Surabaya. Pengecekan yang dilakukan meliputi kapasitas kelas 50 persen, guru yang telah divaksin, empat jam pelajaran, hingga kesiapan Satgas Covid-19 di tingkat sekolah.

"Meski PTM terbatas bisa dimulai, pola pembelajaran tetap hybrid. PTM dilakukan bertahap sambil mengukur kapasitas kita sendiri," kata Khofifah.

Ia menilai PTM penting bagi para pelajar, utamanya sekolah kejuruan. Selama pandemi, mereka terpaksa belajar secara daring tanpa praktik langsung. Padahal, dunia usaha dan dunia kerja standarnya semakin tinggi.  Atas alasan itulah, Pemprov Jatim memprioritaskan siswa SMK-SMA kelas 12 untuk PTM. 

Satpol PP Ikut Pantau Siswa

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dibarengi dengan pengawasan yang ketat terhadap para siswa. Di sejumlah sekolah di DKI Jakarta, Satpol PP dikerahkan untuk mengawasi para siswa agar tak berkerumun. Pihak sekolah juga memantau murid agar langsung kembali ke rumah selepas sekolah.

PTM terbatas mulai digelar di Ibu Kota seiring adanya penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari level 4 ke level 3. Pada Senin (30/8), ada sebanyak 610 sekolah yang melaksanakan PTM terbatas.

photo
Seorang ibu menemani anaknya belajar di sela berjualan makanan di Tamansari, Kota Bandung, Senin (30/8/2021). Pemerintah Kota Bandung belum menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) dan masih melakukan kajian dengan mempertimbangkan sejumlah faktor untuk pelaksanaannya meski status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Bandung telah turun di level 3. - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan menyatakan memantau para siswa sejak di sekolah hingga pulang ke rumah melalui grup Whatsapp orang tua murid. Ini dilakukan untuk memastikan siswa dalam keadaan sehat dan selamat sampai tiba di rumah.

"Kita gandeng para wali kelas memantau lewat grup Whatsapp. Jadi, kalau sudah sampai rumah, orang tua update di grup," kata Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan Abd Rachem, di SMKN 32 Jakarta, kemarin,

Ia mengatakan langkah ini juga dilakukan untuk mengecek perkembangan belajar siswa, terutama mereka yang belum bisa bergabung secara langsung di kelas. "Karena ini kan sistemnya campuran (blended learning), sehingga apa yang diajarkan di rumah juga diajarkan di sekolah," kata dia.

Rachem mengatakan, bila salah satu siswa di satu sekolah terindikasi Covid-19, maka pihaknya akan menghentikan sementara pembelajaran selama tiga hari. Untuk mencegah hal tersebut, pihaknya bersama pihak sekolah menerapkan protokol kesehatan secara ketat. "Di atas jam 11 sudah tidak ada kegiatan dan kegiatan di luar sekolah juga belum diizinkan," katanya.

photo
Siswa kelas 1 mengikuti uji coba pertemuan tatap muka di SD Terpadu Maarif Gunungpring, Magelang, Jawa Tengah, Senin (30/8). Pemerintah Kabupaten mulai menyelenggarakan uji coba sekolah pertemuan tatap muka saat PPKM Level 4 dengan menggunakan protokol kesehatan Covid-19 ketat. Di SD Terpadu Maarif Gunungpring, dari 668 murid yang bisa mengikuti TPM baru 128 siswa. Waktu ntuk pertemuan tatap muka selama dua jam. Ada enam SD yang diperbolehkan mengikuti uji coba pertemuan tatap muka ini. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Barat mengerahkan sedikitnya 60 personel Satpol PP untuk memantau jalannya PTM hari pertama.  "Di Jakarta Barat ada sekitar 30 sekolah. Berarti 60 personel dikerahkan karena satu sekolah bisa dua orang," Kepala Seksi PPNS dan Penindakan Satpol PP Jakarta Barat Ivan Sigiro.

Petugas Satpol PP bukan untuk melakukan penindakan, melainkan hanya memantau jalannya PTM hari pertama. Jika ditemukan ada kegiatan yang berkerumun dan pelanggaran protokol kesehatan lain di sekolah, maka pihaknya langsung memberikan imbauan.

Tulus (42), salah satu orang tua siswa SMKN 32 Jakarta, menyambut baik atas digelarnya PTM terbatas. Ia menilai, PTM akan berdampak positif bagi anak-anak yang selama ini belum pernah berinteraksi secara langsung.

Tulus pun meyakini pelaksanaan PTM bisa berlangsung dengan prokes yang ketat.  "Kebetulan rata-rata orang tua siswa setuju PTM. Saya yakin seratus persen pasti menerapkan protokol kesehatan, makanya saya setuju," kata dia.

Orang tua siswa lainnya, Yanto (52), menyetujui pelaksanaan PTM agar meningkatkan efektivitas belajar anak dan menghilangkan kejenuhan saat belajar daring. "Kita berdoa sama Allah saja mudah-mudahan terlindung dari virus korona," ujarnya.

photo
Siswa kelas 1 mengikuti uji coba pertemuan tatap muka di SD Terpadu Maarif Gunungpring, Magelang, Jawa Tengah, Senin (30/8). Pemerintah Kabupaten mulai menyelenggarakan uji coba sekolah pertemuan tatap muka saat PPKM Level 4 dengan menggunakan protokol kesehatan Covid-19 ketat. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi mengingatkan, PTM di masa pandemi menuntut kerja sama yang baik antara guru dan pengelola sekolah dengan orang tua murid. "Orang tua harus siap. Anak harus dilatih terlebih dulu, makanya ortu harus memprakondisikan. Anak harus dilatih," ujar Sonny kepada Republika, Senin (30/8).

Saat ini, lanjut Sonny, Satgas sedang menyelesaikan panduan untuk orang tua saat sang anak menjalani PTM. Karena, bukan hanya guru saja yang berperan dalam PTM. Salah satu yang harus disiapkan orang tua adalah membiasakan anak membawa masker cadangan serta mengajarkan anak cara cuci tangan yang benar.

Selain itu, sekolah harus membentuk satgas sekolah. Tugas Satgas adalah memitigasi, melakukan pengawasan, dan memastikan bahwa protokol kesehatan sudah diterapkan.

Ia menegaskan, PTM bukanlah kewajiban setiap siswa. Belajar secara langsung di sekolah merupakan pilihan yang bisa diambil para siswa dengan dukungan dari orang tua.

Sumber : Antara


×