Petugas memberikan informasi tentang zakat kepada penumpang LRT di Gerai Zakat Baznas (Bazis) DKI Jakarta di Stasiun LRT Velodrome, Jakarta, Rabu (21/4/2021). Dulu, zakat itu identik dengan masjid dan kotak amal. | Prayogi/Republika.
29 Aug 2021, 04:51 WIB

Mengawal Literasi Zakat

Dulu, zakat itu identik dengan masjid dan kotak amal.

OLEH IMAS DAMAYANTI

 

Melihat dunia filantropi Islam dalam mengelola zakat saat ini, ada baiknya perlu melihat juga bagaimana dunia perzakatan pada beberapa dekade lalu. Dahulu, zakat masih dipandang sebelah mata dan nyaris tak dilirik masyarakat di Indonesia sebagai sebuah alat perubahan dan kemanfaatan sosial.

Murni Alit Baginda boleh dibilang menjadi salah satu saksi sejarah bagaimana pergerakan dunia zakat di Indonesia tumbuh dan berkembang. Saat memulai karirnya di bidang filantropi pada 2005 silam, Murni ‘nekat’ memulai kariernya di sebuah lembaga filantropi Islam bernama Rumah Zakat.

Terkait

Pada masa itu, Rumah Zakat sebagai sebuah lembaga masih dikelola secara konvensional. “Dulu, orang masih memandang bahwa zakat itu identik dengan masjid dan kotak amal. Dan memang masyarakat kita pada zaman itu ya belum begitu menyadari apa itu zakat, bagaimana pengelolaan serta manfaatnya,” kata Murni saat dihubungi Republika, Rabu (25/8).

Pada kurun waktu 2007-an, Rumah Zakat mulai bertransformasi dari manajemen tradisional menuju pengelolaan yang profesional. Pada saat itu Murni melihat dunia zakat tidak bisa dipandang sebagai hal yang sempit karena kebermanfaatannya sangatlah besar. Dengan catatan, penghimpunan dan pengelolaan zakat dapat dilakukan dengan profesional.

Proses perubahan yang dilakukan Rumah Zakat dapat dilihat dari visualisasi hingga cara kerja para amil zakat. Jika sebelumnya para amil merupakan sebuah profesi yang tergolong pekerjaan paruh waktu, maka begitu transformasi dicanangkan pekerjaan amil berubah menjadi full time.

“Tampilan mereka pakai dasi, sehingga image visualnya juga berubah,” kata Murni.

Sejak saat itu, gerakan sadar zakat semakin digalakkan. Murni mengenang bagaimana dia bersama para amil mulai mensosialisasikan zakat kepada khalayak luas.

Mereka menggaungkan literasi apa itu zakat maal, zakat pertanian, zakat penghasilan, hingga zakat-zakat lainnya. Zakat sebagai sebuah hal yang belum familiar didengar dan dipahami umat, lambat laun berubah citra. Seiring dengan kuatnya proses literasi dari sejumlah lembaga filantropi, masyarakat semakin mengenali apa itu zakat dan manfaatnya dengan baik.

Tradisi membayar zakat yang semakin fleksibel pun turut mencerminkan proses kemajuan tersebut. Murni yang menjadi salah satu saksi sejarah perjalanan zakat dari masa ke masa ini merasakan kepuasan dan rasa syukur tersendiri.

“Alhamdulillah, saya sangat bangga dan bersyukur bahwa apa-apa yang diupayakan oleh para penggerak zakat ini sudah cukup memberikan awareness bagi masyarakat kita,” kata dia.

Kini, ujar dia, para muzakki mulai semakin kritis dalam memberikan zakatnya. Pertanyaan seputar zakat terhadap Muzakki bukan lagi mengenai apa itu zakat dan pengertiannya, tapi ke arah mana zakat akan dikelola dan menyasar ke siapa saja.

Meski kemajuan dunia perzakatan semakin pesat, Murni berharap potensi zakat di Indonesia dapat terkejar. Sebab, realisasi zakat di Indonesia masih sangat kecil.

Berdasarkan data Outlook Zakat Indonesia 2021, potensi zakat Indonesia di tahun 2020 mencapai Rp 327,6 triliun. Sedangkan realisasinya baru menyentuh angka Rp 71,4 triliun atau sekitar 21,7 persen saja.

Dukungan keluarga

Bukan hal mudah memilih profesi sebagai amil di saat dunia perzakatan Indonesia belum terlalu dikenal masyarakat luas. Saat mengetahui bahwa menjadi amil adalah sebuah pengabdian, Murni tak sama sekali berpikir untuk mendulang kemakmuran dari profesinya tersebut.

“Dulu ayah saya akhirnya nyuruh jadi PNS. Tapi saya cerita ke ibu bahwa saya nyaman di sini (menjadi amil), kemudian ibu saya merestui dan meridhai jalan saya. Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih bertahan di dunia ini,” kata Murni.

Murni juga mengungkapkan rasa syukur atas dukungan pasangan dan anak-anaknya terhadap profesinya. Bagi dia, berkontribusi terhadap dunia perzakatan merupakan sebuah cara dalam melibatkan diri kepada kebaikan yang dampak kebaikan itu dirasakan oleh masyarakat luas secara berkepanjangan.

photo
Dulu, zakat itu identik dengan masjid dan kotak amal. - (DOK Pribadi)

Profil

Nama lengkap: Murni Alit Baginda

Tempat, tanggal, lahir: 31 Juli 1982

Riwayat pendidikan: S1 Teknik Industri di Universitas Islam Bandung, S2 Manajemen di Universitas Telkom

Riwayat aktivitas: Chief Program Officer Rumah Zakat (2018-sekarang), Bendahara di Humanitarian Forum Indonesia (2019-sekarang), Vice President Capacity Building for South East Asia Humanitarian Committee  (2019-sekarang), Direktur PT Integra Sistem Optima (2012-2017), Internal Auditor PT Citra Niaga Abadi (2009-2011), Internal Auditor Dept Head Rumah Zakat (2007-2009), Decision Support System Dept Head Rumah Zakat (2005-2007)


×