Ahmad Syafii Maarif | Daan Yahya | Republika

Resonansi

24 Aug 2021, 03:45 WIB

Vaksinasi Merata, Bangsa Kembali Tersenyum

Kita berharap, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini bisa kembali tersenyum.

OLEH SYAFII MAARIF

Memang tidak ada jaminan vaksinasi akan membebaskan seseorang dari terpapar Covid-19 dengan segala variannya. Namun, dengan vaksinasi, setidaknya kita punya kepercayaan diri melebihi mereka yang belum divaksin.

Adapun mereka yang tidak mau divaksin atau tidak percaya pandemi, sulit dipahami nalar sehat. Sikap semacam ini tentu semakin membuat pemerintah kesulitan menolong rakyatnya secara merata.

Padahal, korbannya untuk Indonesia saja yang wafat sampai 22 Agustus 2021 sudah 125.342 dari 3.967.048 yang positif dan pasien yang sembuh, alhamdulillah, cukup tinggi, yaitu 3.522.048.

Namun, dalam dua hari terakhir pada tanggal itu, angka kematian di Indonesia tertinggi di dunia, yaitu 1.361, sementara di Amerika 500, India 401, dan Jerman hanya delapan.

Dengan jumlah penduduk sekitar 272 juta, persentase yang terpapar itu memang relatif kecil, tetapi bahaya selalu di depan mata. Tak seorang pun yang kebal dari serangan virus ini, apalagi dalam varian Delta yang daya tularnya begitu cepat dan lebih ganas.

 

 
Yang lebih memprihatinkan, kenyataan para penolong pasien: dokter dan tenaga kesehatan, yang sudah dikawal APD sudah lebih 1.000 yang meninggal dunia.
 
 

Saya sejak Maret 2020 tidak berani pergi ke bank atau swalayan, sekalipun sudah disuntik sekali dan mantan OTG lagi. Untung, ada saja jalan untuk mengatasi keperluan yang mendesak. Kelakuan virus ini tidak selalu mudah dipahami orang awam seperti saya.

Ada misalnya, seorang Jenderal Solihin GP (96) dan istrinya (94) sama-sama terpapar, alhamdulillah bisa sembuh. Puji Tuhan. Di sisi lain, ada anak muda sehat yang terpapar, hanya selang beberapa waktu sudah wafat.

Yang lebih memprihatinkan, kenyataan para penolong pasien: dokter dan tenaga kesehatan, yang sudah dikawal APD (alat pelindung diri) sudah lebih 1.000 yang meninggal dunia.

Dengan jumlah penduduk seperti dalam angka di atas, biaya untuk vaksinasi per dosis Rp 321.660 plus pelayanan Rp 117.910. Total Rp 439.570 X 272.000.000 = Rp 119.563.040.000.000.

Hitung saja untuk tiga kali vaksinasi bagi setiap penduduk, kita akan menemukan angka rupiah raksasa yang harus dipikul negara, demi menolong rakyatnya. Sebegitu jauh, belum ada opsi lain, kecuali vaksinasi.

Obat-obat herbal yang ditawarkan baik saja, tetapi vaksin yang telah diuji di laboratorium tentu lebih bisa diproduksi dalam jumlah besar. Kita berharap, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini bisa kembali tersenyum, sekalipun harus tetap dengan prokes ketat.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi negara menargetkan vaksinasi bagi seluruh rakyat di sebuah negara kepulauan, yang tidak selalu mudah dijangkau.

 
Saya tidak tahu, berapa lama lagi negara menargetkan vaksinasi bagi seluruh rakyat di sebuah negara kepulauan, yang tidak selalu mudah dijangkau.
 
 

Dalam suasana masih berkabung ini, sebaiknya kita bahu-membahu, bersatu dengan tingkat solidaritas tinggi untuk menolong sesama. Ambisi politik kekuasaan yang tak terkendali sepatutnya dihentikan dulu.

Namun, pemerintah mesti mau mendengarkan saran dari mana pun untuk terus membenahi cara kerja dalam penanganan musibah yang sedang mengancam ini.

Pada pandangan saya, pemerintah sudah nyaris kewalahan dalam upayanya membebaskan bangsa dari musuh yang tidak kasatmata ini.

Semboyan: “Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh” adalah cara pemerintah agar kita semua tidak larut dalam kesedihan. Optimisme wajib dibangun. Kita, insya Allah bisa melepaskan diri dari serangan Covid-19 ini.

Sekalipun kita selalu dinasihati agar tidak panik, tidak gelisah, dan tetap bersemangat menjalani hidup sehari-hari, dengan melihat korban berguguran setiap saat, siang dan malam, perasaan setiap kita pasti akan guncang juga.

 
Pada pandangan saya, pemerintah sudah nyaris kewalahan dalam upayanya membebaskan bangsa dari musuh yang tidak kasatmata ini.
 
 

Alhamdulillah, saat artikel ini ditulis, keadaan mulai membaik, tetapi kepatuhan terhadap prokes harus tetap ketat. Sekuat-kuatnya orang, pasti akan terpengaruh juga oleh drama-drama yang tidak dikehendaki ini.

Yang perlu dijaga, jangan biarkan setiap kita hanyut dalam perasaan. Bersedih boleh, menangis boleh, tetapi sekadarnya. Tokh kematian yang datang hanya sekali itu, pasti akan mengunjungi setiap kita.

Maka itu, saat masih sehat, masih bisa bernapas bebas, menjalani vaksinasi bagi saya adalah sesuatu yang wajib. Agama menyuruh kita berobat agar tetap sehat, bahaya sejauh mungkin dielakkan. Tidak boleh menunggu takdir tanpa berusaha.

Sepanjang sejarah umat manusia, serangan virus mematikan ini sudah sekian kali terjadi. Di ujungnya, ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta farmasi berhasil menemukan obatnya. Umat manusia terselamatkan.

Ya, inilah tantangan hidup di muka bumi yang menimpa semua bangsa. Tidak peduli yang mengaku beragama atau tidak beragama. Karena itu, yang perlu diingatkan terus agar umat manusia sadar sesadarnya bahwa mereka satu kesatuan.

Egoisme bangsa, negara, dan tingkat kesejahteraan tidak boleh menghancurkan solidaritas semesta. Planet bumi yang satu ini untuk tempat tinggal bersama, tak seorang pun punya hak monopoli atasnya.

Kepada negara yang punya hulu ledak nuklir, Covid-19 berpesan: “Hulu nuklir kalian tidak berdaya menghadapi aku, tetapi aku bisa dilumpuhkan oleh masker, sabun, air mengalir, dan jarak yang dijaga!”

Akhirnya, kita ulang, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini kembali tersenyum! 


×