ILUSTRASI Dalam tradisi pesantren, pengajaran tentang tauhid sering kali disampaikan melalui kitab-kitab kuning. | DOK ANTARA Muhammad Bagus Khoirunas

Kitab

22 Aug 2021, 15:15 WIB

Kajian Tauhid untuk Pemula

Kitab ini menerangkan berbagai topik yang mendasar tentang ilmu tauhid.

 

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Tauhid adalah fondasi ajaran Islam. Kaum Muslimin hendaknya senantiasa meyakini tauhid, yang tecermin dalam kalimat “tiada Tuhan selain Allah” (laa ilaaha illallah). Sebaik apa pun amalan seorang insan, bila tidak didasari dengan keyakinan tersebut, akan sia-sia belaka.

Dalam tradisi pesantren, pengajaran tentang tauhid sering kali disampaikan melalui kitab-kitab kuning. Istilah itu merujuk pada karya yang ditulis para ulama terdahulu tentang ilmu keislaman dan kehidupan Muslim sehari-hari. Pembahasannya begitu luas. Selain teologi, banyak yang mengulas juga tentang Alquran, hadis, fikih, tasawuf, dan gramatika bahasa Arab.

Disebut sebagai “kitab kuning” karena umumnya kertas yang dipakai buku-buku tersebut berwarna kuning, yakni seturut dengan kualitas bahannya. Nama lainnya adalah kitab gundul. Sebab, tulisan yang tertera di dalamnya sering kali berupa aksara Arab yang tanpa harakat. Maka dari itu, penguasaan bahasa Arab mutlak diperlukan untuk membacanya.

Salah satu kitab kuning yang membahas persoalan tauhid ialah ‘Aqidah al-Awwam. Buku tersebut ditulis Sayyid Ahmad al-Marzuki al-Maliki pada tahun 1258 Hijriyah. Seperti tampak pada judulnya, karya ini diperuntukkan khususnya bagi kalangan awam. Penjelasan yang dimuat di dalamnya cukup mudah dicerna para pelajar tingkat dasar.

Sayyid Ahmad al-Marzuki menyajikan ‘Aqidah al-Awwam dalam bentuk nazham. Itu adalah salah satu genre puisi dalam khazanah kesusastraan Arab. Kitab tersebut memuat sekira 57 bait syair. Dipilihnya format sajak itu membuat para pembaca dapat menghafalkannya.

 
Karya ini diperuntukkan khususnya bagi kalangan awam. Penjelasan yang dimuat di dalamnya cukup mudah dicerna para pelajar tingkat dasar.
 
 

Seluruh nazham di dalam ‘Aqidah al-Awwam mengandung penjelasan tentang sifat-sifat yang wajib dan mustahil bagi Allah Ta’ala. Di samping itu, elaborasi juga mengenai sifat wajib dan mustahil bagi rasul. Ada pula, nama-nama nabi dan rasul, lalu malaikat beserta tugasnya.

Kitab ini mungkin terdengar asing bagi umumnya masyarakat Indonesia, terutama yang tidak pernah memasuki dunia pesantren. Bagaimanapun, ajaran yang disampaikan Sayyid al-Marzuki sesungguhnya telah meluas.

 
Karya Sayyid al-Marzuki ini patut dipelajari dan dihafalkan seluruh umat Islam, khususnya generasi muda.
 
 

Di Tanah Air, materi tentang tauhid pastilah menyebutkan tentang Sifat 20. Inilah nama lain dari topik salah satu bagian ‘Aqidah al-Awwam. Dalam karyanya itu, sang syekh menjelaskan tentang adanya 20 sifat wajib bagi Allah dan 20 sifat mustahil bagi-Nya.

Banyak ulama yang terkemuka mengakui keunggulan kitab tersebut. Misalnya, Syekh Nawawi asy-Syafii. Mubaligh kenamaan dari Banten itu bahkan menulis sebuah buku keterangan dan penjelasan (syarah) atas ‘Aqidah al-Awwam. Judulnya ialah Nur azh-Zholam (Penerang dalam Kegelapan) pada sekitar tahun 1277 H.

Menurut tokoh yang pernah menjadi imam besar Masjidil Haram itu, karya Sayyid al-Marzuki ini patut dipelajari dan dihafalkan seluruh umat Islam, khususnya generasi muda.

Nazham dari ‘Aqidah al-Awwam diawali dengan kalimat, “Abda'u bismi Allah wa ar-Rahman wa bi ar-Rahimi da'im al-Ihsani.” Artinya, “Saya memulai dengan nama Allah yang Mahapengasih dan yang senantiasa memberikan kasih sayang tanpa pernah putus asa.”

Syair itu diakhiri dengan, “Wa shuhuf al-Khalil wa al-Kalimi fiha Kalam al-Hakam al-Alimi,” ‘dan shuhuf / Nabi al-Khalil (Ibrahim) dan al-Kalim (Musa).’

Kandungan kitab

Kitab karya Sayyid al-Marzuki ini terdiri atas beberapa bab (fashl). Pertama membahas tentang sifat-sifat yang wajib dimiliki Allah. Di samping itu, pembahasannya juga terkait sifat-sifat yang boleh (jaiz) dan yang mustahil bagi Allah. Jumlahnya ada 41 sifat. Itu terdiri atas 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, dan satu sifat jaiz bagi Allah.

Menurut pengarang kitab tersebut, setiap orang yang terbebani hukum syariat (mukallaf) wajib mengetahui sifat-sifat Allah itu. Adapun ke-20 sifat wajib bagi-Nya ialah sebagai berikut: wujud, kidam, baka, berbeda dengan makhluk-Nya (mukhalafatuhu lil hawaditsi), berdiri sendiri (qiyamuhu binafsihi), tunggal (wahdaniyah), maha berkuasa (qudrah), maha berkehendak (iradah), maha mengetahui, maha hidup, maha mendengar, maha melihat, maha berbicara, berkuasa (qadirun), berkehendak (muridun), berilmu (’aliman), hidup (hayyan), mendengar (sami’an), melihat (bashiran), dan berbicara (mutakalliman).

Semua sifat yang wajib bagi-Nya itu lalu dipilah menjadi beberapa bagian, yakni nafsiyah, salbiyah, ma'any, dan ma'nawiyah. Disebut ma'nawiyah karena sifat itu menetap pada sifat ma'ani. Misalnya, bahwa Allah Maha berkuasa, berkehendak, berilmu, hidup, mendengar, melihat, dan berbicara.

 
Setiap orang yang terbebani hukum syariat (mukallaf) wajib mengetahui sifat-sifat Allah itu.
 
 

Sementara itu, lawan dari sifat wajib adalah sifat mustahil. Jumlahnya juga sebanyak 20 sifat. Semuanya itu adalah bahwa Allah SWT mustahil bersifat-sifat:  'adam (tidak ada), baru, fana, mumatsilah lilhawaditsi (sama dengan makhluk-Nya), tidak berdiri sendiri, berbilang, lemah, terpaksa, bodoh, bisa-mati, tuli, buta, bisu, Zat yang lemah (kaunuhu a'jizan), Zat yang terpaksa (kaunuhu kaarihan), Zat yang bodoh (kaunuhu jaahilan), Zat yang mati (kaunuhu mayyitan), Zat yang tuli (kaunuhu ashamma), Zat yang buta (kaunuhu a'maa), dan Zat yang bisu (kaunuhu abkamu).

Adapun sifat yang boleh (jaiz) bagi Allah ialah sesuatu yang akan diciptakan bergantung pada Allah, apakah akan diciptakan atau tidak. Sayyid al-Marzuki berkata, “Dengan karunia dan keadilan-Nya, Allah memiliki sifat boleh (berwenang), yaitu boleh mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya. Keterangan ini berdasarkan firman Allah, ‘Dan Tuhanmu menetapkan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, tidak ada pilihan bagi mereka’ (QS al-Qashash: 68 dan QS al-Baqarah: 284)."

Usai dengan penjelasan mengenai sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah, sang penulis beranjak pada soal nabi dan rasul. Di dalam bukunya itu, ia menjelaskan tentang sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz dimiliki para utusan Allah.

Untuk sifat wajib, itu terdiri atas karakteristik cerdas (fathanah), jujur (shiddiq), menyampaikan (tabligh), dan tepercaya (amanah). Secara berurutan, masing-masing itu bertolak belakang dengan sifat-sifat mustahil nabi dan rasul, yakni bodoh, berdusta, menyembunyikan risalah, dan berkhianat.

Sifat jaiz pada haknya para nabi dan rasul ialah adanya sifat-sifat (yang bisa terjadi) pada manusia, yang tidaklah menyebabkan berkurangnya martabat mereka. Dari keterangan ini, lengkaplah akidah yang perlu diketahui setiap orang Islam.

Elaborasi yang dibawakan Sayyid al-Marzuki sangat komprehensif mengenai sifat-sifat Allah dan para rasul. Kalau ditotal, semuanya mencapai 50 sifat, yaitu sifat wajib bagi Allah (20 sifat), mustahil bagi-Nya (20 sifat), wajib bagi rasul (4 sifat), mustahil bagi rasul (4 sifat), serta sifat jaiz bagi Allah dan Rasul (masing-masing 1 sifat).

 
Elaborasi yang dibawakan Sayyid al-Marzuki sangat komprehensif mengenai sifat-sifat Allah dan para rasul.
 
 

Sebagai pelengkap, Sayyid al-Marzuki juga memaparkan tentang sosok-sosok nabi dan rasul. Memang, Alquran dan sunnah hanya menyebutkan jumlah para utusan-Nya, yakni 25 orang. Kitabullah sendiri menerangkan sebanyak 18 rasul dalam surah al-An'am dan tujuh rasul lainnya pada berbagai ayat pada surah-surah lainnya.

Para ulama berselisih pendapat mengenai jumlah Nabi dan Rasul. Ada yang menyebutkan jumlah Nabi mencapai 124 ribu orang. Sedangkan jumlah Rasul sebanyak 313 orang, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawiyah dari Abu Dzar RA. Lihat Ibnu Katsir i/585 ).

Sementara itu, Syaikh al-Bajuri berpendapat jumlah Nabi dan rasul itu tidak terbatas. "Pendapat yang shahih (benar) mengenai para Nabi dan Rasul adalah tidak membatasi jumlah dengan hitungan tertentu. Karena hal itu bisa menetapkan kenabian pada seorang yang realitasnya bukan Nabi atau sebaliknya menabikan kenabian pada seorang padahal realitasnya dia benar-benar Nabi."

Keterangan Bajuri ini, kata pengarang kitab ini bersumber pada Alquran surah An-Nisa ayat 164. "Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu dan para rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu."

Sementara, malaikat berjumlah sangat banyak. Bagaimanapun, menurut al-Marzuki, mereka yang wajib diketahui berjumlah 10 malaikat, yakni Jibril (menyampaikan wahyu), Mikail (menurunkan hujan), Israfil (meniup terompet), Izrail (pencabut nyawa), Munkar dan Nakir (bertanya kepada manusia yang telah meninggal di alam kubur), Rakib dan Atid (pencatat amal baik dan buruk manusia), Ridwan (penjaga surga) serta Malik (penjaga neraka).

photo
Kitab ini bisa dikatakan sebagai yang mula-mula memperkenalkan konsep Sifat 20. - (DOK IST)

DATA BUKU

Judul: ‘Aqidah al-Awwam

Penulis: Sayyid Ahmad al-Marzuki al-Maliki

Tahun: 1258 H ';

×