Hikmah Republika Hari ini | Republika

Hikmah

18 Aug 2021, 03:30 WIB

Meraih Keberkahan Rezeki

Meraih keberkahan rezeki harus dilandasi keyakinan bahwa pemilik rezeki itu adalah Allah.

 

OLEH MUHBIB ABDUL WAHAB

Mencari dan meraih rezeki itu bukan tujuan, melainkan sarana untuk mewujudkan penghambaan diri (ibadah) kepada Allah SWT, sehingga menjadi hamba yang pandai bersyukur, beramal saleh, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Rezeki yang diperoleh melalui aneka usaha itu juga bukan untuk berfoya-foya dan kesombongan diri, tetapi harus dijadikan media untuk optimalisasi ibadah kepada Allah SWT.

Allah SWT itu Maha Pemberi rezeki terbaik (ar-Razzaq, khair ar-raziqin). Rezeki Allah itu luas, tak terbatas. Karena itu, rezeki tidak boleh dipahami sebatas harta benda, materi, atau uang.

Iman, ilmu, amal saleh, umur, harta, kesehatan, keluarga, sahabat, relasi, dan sebagainya merupakan rezeki yang harus disyukuri dan dimaknai agar menjadi berkah melimpah, sehingga dapat mengantarkan hamba meraih husnul khatimah dan ridha-Nya.

Meraih keberkahan rezeki idealnya menjadi agenda dan ikhtiar yang diniati dengan ikhlas karena Allah semata. Yang dicari bukan banyaknya (kuantitas) rezeki, tetapi keberkahannya: kualitas, nilai tambah, nilai positif, dan kebaikannya yang dapat memberi manfaat, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun orang lain.

Keberkahan rezeki itu tidak diraih secara instan, tetapi harus diusahakan dengan memahami regulasi yang sudah ditetapkan Allah dan rasul-Nya. Keberkahan rezeki itu juga tidak diperoleh dengan menghalalkan segala cara, menabrak aturan yang berlaku, merugikan negara atau orang lain.

Karena itu, keserakahan, ketamakan, kedengkian, dan orientasi duniawi-materi harus dienyahkan. Sebab, itu menjadi perusak dan penghilang keberkahan rezeki.

Dengan menaati syariat Allah dan menjauhi larangan-Nya (bertakwa), rezeki akan datang dari jalan tak terduga. Artinya, iman dan takwa itu menjadi modal dan kunci utama keberkahan rezeki. “Sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa kepada Allah, niscaya Kami bukakan kepada mereka keberkahan (pintu rezeki) dari langit dan bumi…” (QS al-A’raf [7]: 96).

Selain itu, meraih keberkahan rezeki harus dilandasi keyakinan dan pemahaman yang benar bahwa pemilik rezeki itu adalah Allah; dan rezeki yang diterima itu hanyalah amanah atau titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat (QS at-Takatsur [102]: 8).

Rezeki yang diperoleh, khususnya harta, bukan menjadi hak milik mutlak, melainkan sebagiannya ada hak orang lain yang harus diberikan melalui zakat, infak, atau sedekah (QS al-Ma’arij [70]: 24-25).

Di antara kunci pembuka keberkahan rezeki adalah keyakinan sepenuh hati bahwa Allah itu Mahakaya dan sedekah itu tidak pernah menyebabkan kemiskinan. Sebab, “Apa saja yang engkau infakkan (sedekahkan), Allah pasti akan menggantinya. Dialah Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS Saba’ [34]:39). 

Setiap hari ada dua malaikat Subuh yang selalu berdoa kepada Allah. Malaikat pertama berdoa: “Ya Allah berilah ganti kepada orang yang berinfak (bersedekah); sedangkan malaikat kedua berdoa: Ya, Allah berilah kebinasaan atau ketidakberkahan orang yang enggan memberi sedekah.” (HR al-Bukhari).

Jadi, bersedekah, terutama sedekah Subuh, merupakan pengundang dan pembuka pintu keberkahan rezeki.


×