ILUSTRASI Seorang sahabat Nabi SAW, Abu Darda, memilih jalan hidup zuhud hingga akhir hayatnya. | DOK AP Dar Yasin

Kisah

15 Aug 2021, 04:12 WIB

Zuhudnya Hidup Abu Darda

Kisah hidup Abu Darda menggambarkan konsistensinya untuk mengamalkan kesederhanaan.

OLEH MUHYIDDIN

Sahabat Nabi Muhammad SAW ini bernama lengkap Uwaimir bin Malik al-Khazraji. Sehari-hari, lelaki ini lebih dikenal dengan panggilan Abu Darda.

Sebelum memeluk Islam, dia adalah seorang pedagang yang bergelimang harta kekayaan. Sejak menjadi Muslim, kesuksesan duniawi tidak membuatnya terlena. Meniru Rasulullah SAW, dirinya pun menempuh jalan hidup zuhud. Kisah berikut ini, yang dinukil dari buku Abu Darda: Pedagang dan Ulama Besar, menggambarkan konsistensinya untuk mengamalkan kesederhanaan.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Abu Darda bertempat tinggal di Syam (Suriah). Suatu kali, sang amirul mukminin ingin bersilaturahim langsung dengan sahabat Nabi SAW itu. Al-Faruq pun mendatanginya dengan menempuh rute panjang dari Madinah.

Umar sangat penasaran dengan kondisi kehidupan Abu Darda. Sebab, berbagai kabar yang diterimanya mengatakan, lelaki dari Suku Khazraj itu sering mengalami kesulitan finansial. Pernah sekali waktu sang khalifah menawarkan jabatan yang tinggi kepadanya. Itu dengan pertimbangan, gaji yang ada insya Allah dapat mencukupi keperluan sehari-harinya. Akan tetapi, tawaran tersebut tanpa ragu ditolak Abu Darda.

Setelah menempuh perjalanan, Umar pun tiba di Syam. Setelah beristirahat, pemimpin kedua dalam jajaran khulafaur rasyidin itu berangkat ke kediaman Abu Darda, sebagaimana diinfokan beberapa bawahannya. Betapa terkejutnya sang pemimpin ketika mendapati rumah tersebut tidak dikunci. Dari luar, tampak seisi kediaman ini gelap gulita.

“Assalamu’alaikum, ya Abu Darda!” seru Umar.

Mendengar itu, sang tuan rumah segera menjawab salam. Begitu mengetahui ada tamu, Abu Darda mempersilakannya masuk. Ternyata, pengunjungnya adalah sang khalifah.

Umar merasa terharu dan prihatin menyaksikan keadaan sahabatnya itu. Namun, ia menyadari bahwa Abu Darda hidup dalam kezuhudannya. Ia telah hampir sepenuhnya meninggalkan dunia dan kemewahan hidup.

 
Umar merasa terharu dan prihatin menyaksikan keadaan sahabatnya itu. Namun, ia menyadari bahwa Abu Darda hidup dalam kezuhudannya.
 
 

Mereka pun terlibat dalam pembicaraan yang serius. Mereka berbincang tentang persoalan agama, tata negara, dan sebagainya. Banyak yang ditanyakan Umar kepada Abu Darda, yang ilmunya bagaikan air di dalam samudera yang luas.

Karena keadaan di dalam rumah gelap, keduanya tak bisa melihat permukaannya. Hanya suara mereka yang terdengar. Dalam keadaan itu, Umar pun penasaran dan kemudian meraba alas duduk Abu Darda.

Kiranya hanya pelana kuda yang keras. Diraba pula kasur tempat Abu Darda tidur, yang kiranya isi kasur tersebut hanya pasir belaka.

Selain itu, Umar juga meraba selimut sahabatnya itu, dan ternyata hanya terbuat dari bahan-bahan tipis yang tak mencukupi untuk dipakai di musim dingin. Umar pun menarik napas karena kagum terhadap kehidupan Abu Darda. Ia benar-benar Muslim saleh yang sudah tak membutuhkan dunia ini.

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda. Maukah Anda saya bantu? Maukah Anda saya kirimi sesuatu untuk melapangkan kehidupan Anda?” kata Umar.

Abu Darda kemudian tersenyum sambil menjawab, “Ingatkah Anda Umar sebuah hadits yang disampaikan Rasulullah kepada kita?"

“Hadits apa?” tanya Umar

Abu Darda menjawab, "Bukankah Rasulullah telah bersabda, 'Hendaklah puncak salah seorang kamu tentang dunia, seperti perbekalan seorang pengendara (yaitu secukupnya dan seadanya)'.”

“Ya, saya ingat,” kata Umar.

“Nah, apa kini yang telah kita perbuat sepeninggal beliau?” tanya Abu Darda kepada Umar yang tengah menundukkan kepalanya.

Ucapan Abu Darda benar-benar sangat menyentuh hati Umar. Terbayang kembali bagaimana kehidupan Rasulullah SAW pada saat beliau masih hidup di tengah kaum Muslimin. Kemiskinan hidupnya hampir tak ada yang menyamainya. Semua tindakan Nabi terbayang kembali dengan jelas di pelupuk matanya.

Akhirnya Umar tak kuasa lagi menahan gejolak jiwanya malam itu. Ia menangis tersedu-sedu diikuti Abu Darda.

 
Akhirnya Umar tak kuasa lagi menahan gejolak jiwanya malam itu. Ia menangis tersedu-sedu diikuti Abu Darda.
 
 

Maka, kedua sahabat tersebut menangis penuh kesedihan. Jiwanya hancur luluh tak terkirakan lagi. Semakin teringat kepada Rasulullah, makin pedih hatinya. Keduanya menangis sampai Subuh. Dunia yang mereka pijak bagaikan tak terasa lagi.

Sejarah mencatat bagaimana dahulu Abu Darda menyatakan keimanannya pertama kali. Memang, dia tidak termasuk kalangan yang paling awal memeluk Islam. Namun, begitu hidayah menyinari hatinya, iman dan Islam itulah yang sangat disyukurinya.

Sewaktu masih musyrik, Abu Darda memang memiliki beberapa kawan yang terlebih dahulu mualaf. Salah satunya, Abdullah bin Rawahah. Dan, temannya itu seperti tak bosan-bosan mengajaknya beriman kepada risalah yang dibawa Rasulullah SAW.

Namun, Abu Darda kala itu tetap dengan kemusyrikannya. Setiap hari, dia menyembah berhala yang diletakkan di salah satu kamar rumahnya. Tiap hari pula berhala itu dibersihkan dan diberi wewangian.

Kesadaran baru muncul tatkala pada suatu hari Abu Darda menemukan berhalanya itu hancur berkeping-keping karena dikapak oleh teman akrabnya sendiri, Abdullah bin Rawahah, secara diam-diam. Semula dia sangat marah, tetapi di ujung marahnya, kesadarannya muncul.

“Seandainya berhala itu benar Tuhan, tentu dia sanggup membela dirinya sendiri.” Ditemani Abdullah bin Rawahah, Abu Darda segera menemui Nabi SAW dan masuk Islam.


×