Plt Ketua Umum PITI Denny Sanusi (tengah) bersama dengan keluarga. Sebelum mantap berislam, Denny sempat menjalani puasa Ramadhan dan juga berdoa. | DOK IST

Oase

11 Aug 2021, 09:23 WIB

Denny Zhang, Hidayah di Malam Lailatul Qadar

Sebelum mantap berislam, Denny sempat menjalani puasa Ramadhan dan juga berdoa.

 

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

 

Setiap habis Ramadhan, hamba rindu lagi Ramadhan; saat-saat padat beribadat, tak terhingga nilai mahalnya.” Demikian petikan syair salah satu lagu kasidah Bimbo yang diciptakan sastrawan senior, Taufiq Ismail.

Bagi kaum Muslimin, bulan kesembilan menurut penanggalan Hijriyah itu memang sarat keutamaan. Hal itu pun dirasakan Denny Sanusi, Pelaksana Tugas Ketua Umum Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).

Bahkan, baginya, kesan Ramadhan lebih personal lagi. Sebab, lelaki yang kerap disapa Denny Zhang itu pertama kali mengucapkan dua kalimat syahadat tatkala malam Ramadhan. Persisnya, ketika momen bulan suci—dirasakannya—bertepatan dengan Lailatul Qadar.

Kepada Republika, tokoh berusia 60 tahun itu menuturkan kisah hidupnya sejak pertama kali mengenal Islam hingga akhirnya memeluk agama tauhid ini.  Ia lahir dan tumbuh besar di keluarga yang menjalankan tradisi kebudayaan leluhur. Pria berdarah Tionghoa ini mengaku tidak begitu tertarik pada Islam tatkala dirinya masih anak-anak hingga remaja.

Bagaimanapun, ada sebuah kebiasaan yang dilakukannya pada saat itu belakangan diketahuinya cukup “islami". Dalam arti, hobinya itu ternyata selaras dengan ajaran Islam. Sejak kecil, Denny tidak suka mengonsumsi daging babi. Padahal, di tengah tradisi budayanya sajian tersebut cukup mudah dijumpai.

"Pernah satu ketika saya dibohongi, kalau makanan yang sedang disajikan itu adalah sup sapi. Eh, ternyata sup babi! Setelah tahu itu, saya memuntahkannya. Sejak itu, keluarga saya tidak pernah lagi memberikan saya makanan yang mengandung daging babi,” tuturnya beberapa waktu lalu.

 
Sejak kecil, Denny tidak suka mengonsumsi daging babi. Padahal, di tengah tradisi budayanya sajian tersebut cukup mudah dijumpai.
 
 

Sayangnya, Denny kecil tumbuh bersama orang-orang terdekat yang menyimpan sedikit kecurigaan terhadap Islam. Kaum Muslimin kerap diidentikkan mereka sebagai “orang terbelakang".

Dalam penilaian simplistiknya, mayoritas orang Islam di Indonesia berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah dan bahkan papa. Imej penganut agama ini terkesan sangat buruk.

Hingga menapaki usia 20 tahun, Denny masih acuh tak acuh terhadap Islam. Malahan, sebenarnya ia tidak begitu mempedulikan kehidupan religius. Sehari-hari, rutinitas dilaluinya tanpa merasa perlu melakukan ritual atau ibadah.

Ia bercerita, hingga usianya belasan tahun yang diikutinya adalah budaya religi leluhur. Barulah setelah bersekolah di sebuah SMA keagamaan, dia pindah ke agama tertentu. Sebelum lulus dari sana, ia sudah dibaptis.

Saat menjadi mahasiswa, Denny mulai merasa perlu untuk menemukan kedamaian batin. Sebab, hidupnya mulai diwarnai kegelisahan. Biasanya, orang akan beralih pada agama untuk menemukan kedamaian. Namun, Denny saat itu entah mengapa merasa sangat malas. Baginya, ritual apa pun tidak membawa ketenteraman hati.

 
Saat menjadi mahasiswa, Denny mulai merasa perlu untuk menemukan kedamaian batin. Sebab, hidupnya mulai diwarnai kegelisahan.
 
 

Memasuki semester keempat, ia memiliki semakin banyak teman. Banyak di antaranya yang Muslimin. Sebagai pemuda yang kritis dan suka berpikir logis, ia sering mengajak beberapa kawannya untuk memperdebatkan iman atau agama. Ada seorang dari mereka yang kemudian mengusulkan, bagaimana kalau Denny sendiri bertemu dengan seorang ustaz.

Sebab, kata kawannya itu, pengetahuan tentang dasar-dasar agama dapat didengarnya melalui dai. Sederhana saja: tanyakanlah sesuatu kepada orang yang memang ahli dalam bidang itu. Maka, Denny pun menuruti anjuran temannya tersebut.

Sang kawan memperkenalkannya dengan ustaz yang dimaksud—sebut saja namanya Rahmat. Denny menangkap kesan, pendakwah ini suka dengan nuansa diskusi yang kritis. Baginya, ini suatu nilai tambah yang menyenangkan.

Denny pun mulai terbuka. Kepada Ustaz Rahmat, ia mengungkapkan, sebenarnya dia tidak berposisi menggugat eksistensi Tuhan. Ia meyakini bahwa Tuhan ada. Bahkan, menurutnya, doa-doa yang dirapalkan pun sesungguhnya berguna untuk menguatkan hubungan vertikal, yakni antara makhluk dan Penciptanya.

 
Ustaz itu menyarankan saya untuk berdoa kepada Tuhan dengan tidak perlu menyebut nama Tuhan berdasarkan agama. Cukup Tuhan saja.
 
 

Akan tetapi, lanjutnya, hingga saat itu ia merasa ragu untuk meyakini siapa Tuhan itu. Agama ini menyatakan itu. Agama lainnya menyebutkan yang berbeda. Sebagai manusia, bagaimana mengetahui mana yang benar atau kebenaran sejati itu?

Ustaz Rahmat tampaknya senang dengan penjabaran itu. Denny lalu dimintanya untuk tidak putus berdoa. “Ustaz itu menyarankan saya untuk berdoa kepada Tuhan dengan tidak perlu menyebut nama Tuhan berdasarkan agama. Cukup Tuhan saja. Lalu mintalah kepada Tuhan untuk ditunjukkan, agama mana yang dapat menyelamatkan diri ini di dunia dan akhirat,” katanya mengenang.

Maka setiap hari, terutama menjelang tidur, Denny selalu memanjatkan doa kepada Tuhan. Ia berharap, Yang Maha Kuasa dapat memberikannya petunjuk. Dari hari ke hari, perilaku Denny pun mulai menunjukkan sisi religiusitas.

photo
Plt Ketua Umum PITI Denny Sanusi (tanda biru) bersama para aktivis Muslim. Denny memeluk Islam saat malam Ramadhan. - (DOK IST)

Malam mulia

Kedua orang tua Denny memiliki sebuah perusahaan yang cukup sukses. Banyak karyawan Muslim yang bekerja di sana. Sebagai owner, ayah dan ibunya tidak menunjukkan sikap berat sebelah, apalagi mengintimidasi para pekerja yang berlainan iman. Profesionalisme dan prestasi itulah yang tetap menjadi tolok ukur—bukan identitas suku, agama atau ras.

Denny sempat bekerja di perusahaan kedua orang tuanya tersebut. Waktu itu, ia sedang dalam proses mengenal Islam lebih dekat. Menurutnya, tidak cukup dengan hanya mengandalkan diskusi bersama Ustaz Rahmat. Perlu pula untuk mengetahui bagaimana orang-orang Islam mengamalkan agama ini.

Maka, Denny sering memperhatikan bagaimana para pegawainya yang Muslim menjalankan kepercayaannya. Misalnya, ketika suara dari mushala berkumandang—yang belakangan diketahuinya sebagai azan—apakah ada di antara mereka yang meninggalkan pekerjaan untuk menunaikan ritual.

Bahkan, ketika Ramadhan tiba, Denny bertindak lebih jauh lagi. Ia merasa percaya diri untuk “ikut-ikutan” berpuasa. Para pegawai mungkin mengira, bos mereka hanya ikut acara-acara khas Ramadhan, semisal buka puasa bareng atau berbagi kepada anak-anak yatim di panti asuhan. Padahal, lelaki berdarah Tionghoa itu pun merasakan apa yang mereka rasakan, yakni menahan lapar dan dahaga sejak pagi hingga petang.

 
Ketika Ramadhan tiba, Denny bertindak lebih jauh lagi. Ia merasa percaya diri untuk “ikut-ikutan” berpuasa.
 
 

Memasuki hari kelima bulan Ramadhan, Denny merasakan pengalaman yang sukar dilupakannya—bahkan sampai hari ini. Malam itu, suara azan terdengar dari menara-menara masjid di dekat rumahnya. Kumandang itu terasa syahdu. Tiba-tiba, dari radio yang disetelnya berkumandang pula panggilan azan. Akan tetapi, bagi Denny sendiri, suara azan di radio memberikan sensasi yang berbeda. Ia pun gemetar dan pingsan.

Kejadian itu membuatnya banyak merenung. Akhirnya, pada hari-hari terakhir Ramadhan ia mengungkapkan pengalamannya kepada Ustaz Rahmat. Sang dai kemudian memintanya untuk tidak tidur pada malam itu. Tetaplah terjaga hingga subuh tiba. Selama waktu itu, fokuskan pikiran hanya untuk mengingat Tuhan.

Ia pun melakukan saran itu. Entah mengapa, di dalam kamar Denny merasakan keharuan yang besar dalam dadanya. Ada seperti kerinduan batin untuk menyapa-Nya. Malam itu juga, ia memutuskan untuk berwudhu dan bersujud. “Tidak ada Tuhan selain Engkau, ya Allah,” gumamnya dengan penuh yakin.

 
Sebelum Idul Fitri, tekad Denny pun sudah bulat untuk menjadi Muslim. Setelah Lebaran, ia segera pergi ke rumah sunat untuk berkhitan.
 
 

Keesokan harinya, Denny melaporkan apa yang sudah dialami dan dilakukannya tadi malam kepada Ustaz Rahmat. Sang ustaz lalu mengucapkan hamdalah. Barulah kemudian Denny mengetahui, malam itu diduga kuat sebagai Lailatul Qadar, malam yang penuh kemuliaan. Sebabnya dugaan itu, momen tersebut bertepatan dengan malam 27 Ramadhan.

Dia ceritakan kisahnya kembali, tanpa meminta atau mengajak untuk memeluk Islam. Ustaz itu hanya memintanya mencari tahu sendiri, bertanya kepada nuraninya yang terdalam.

Sebelum Idul Fitri, tekad Denny pun sudah bulat untuk menjadi Muslim. Setelah Lebaran, ia segera pergi ke rumah sunat untuk berkhitan. Beberapa hari kemudian, secara resmi ia mengikuti proses syahadat yang disaksikan jamaah dan dibimbing ustaz.

Bersyukur

Kedua orang tua tahu bahwa Denny memeluk Islam. Awalnya mereka membiarkan karena berasumsi sang anak hanya sekadar mencari tahu. Namun, lama kelamaan keislamannya semakin kuat.

Kekhawatiran mereka agaknya didasari ketidaktahuan tentang Islam itu sendiri. Puncaknya, Denny terusir dari rumah. Selama 10 tahun, ia berupaya keras untuk hidup mandiri.

Kariernya dibangun dari nol. Sebenarnya, profesi bukanlah pokok kekhawatirannya, melainkan hubungan dengan orang tua. Ia ingat, barulah ketika lima tahun menjelang ayah-ibunya wafat, silaturahim itu kembali hangat dan harmonis.

Selain hidup lebih tenang, banyak keberkahan yang didapatkannya. Meski harus hidup mandiri, nyatanya Denny berhasil meningkatkan kemampuan finansialnya.

Hingga saat ini, ia memiliki ruko yang sudah diwakafkan sebagai shelter sementara para mualaf. Ia paham, banyak yang mengalami hal-hal serupa seperti dirinya dahulu. Keaktifannya dalam menolong kalangan tersebut kian tinggi, terutama sejak bergabung dengan PITI.

Kini, Denny terus bersyukur akan nikmat iman dan Islam yang Allah karuniakan kepadanya. Ia memiliki anak-anak yang baik dan berprestasi. Seorang di antaranya, Firdaus Sanusi, bahkan meraih beasiswa studi S-1 ke Madinah, Arab Saudi.

 


×