Tungku Olimpiade nampak menyala dalam upacara penutupan Olimpiade Tokyo 2020, Ahad (8/8/2021). Cabang angkat besi diisukan terancam ditiadakan pada Olimpiade Paris 2024. | EPA-EFE/HEDAYATULLAH AMID
09 Aug 2021, 03:55 WIB

Sampai Jumpa di Olimpiade Paris 2024

Cabang angkat besi diisukan terancam ditiadakan pada Olimpiade Paris 2024.

TOKYO -- Gelaran Olimpiade Tokyo 2020 telah berakhir. Dalam seremoni penutupan di Olympic Stadium, Ahad (8/8) malam, Tokyo secara resmi menyerahkan bendera Olimpiade kepada Paris yang dinobatkan sebagai tuan rumah Olimpiade 2024  

Upacara penutupan diawali pertunjukan kembang api dan dilanjutkan dengan parade atlet sambil membawa negara masing-masing, serta pertunjukan lainnya. Para atlet lalu berkumpul di tengah stadion. 

Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach yang hadir secara langsung pada acara pentuupan mengatakan, Tokyo telah menjalankan hajatan Olimpiade dengan luar biasa di tengah badai pandemi Covid-19. "Anda menginspirasi kami dengan kekuatan pemersatu olahraga ini. Ini bahkan lebih luar biasa, mengingat banyak tantangan yang harus Anda hadapi karena pandemi. Olimpiade Tokyo adalah semua harapan, solidaritas, dan perdamaian," kata Thomas Bach.

photo
Bendera negara peserta ditampilkan dalam penutupan Olimpiade Tokyo 2020, Ahad (8/8/2021). - (EPA-EFE/WU HONG)

Olimpiade Tokyo menjadi satu-satunya Olimpiade yang mengalami penundaan sejak pesta olahraga terbesar di dunia tersebut dihelat di Athena pada 1896. Tantangan untuk Olimpiade musim panas ke-32 ini adalah menyelenggarakan kejuaraan tanpa keramaian. 

Terkait

Tantangan lainnya, yaitu menghadapi tekanan dari masyarakat Jepang yang menolak adanya hajatan multicabang terbesar dunia karena khawatir dapat meningkatkan penularan Covid-19 di negaranya. "Sampai jumpa di Paris 2024, terima kasih banyak," kata Bach. 

Beberapa jam sebelum penutupan, Bach pun menyampaikan apresiasinya kepada para atlet dan negara-negara yang telah berpartisipasi dalam Olimpiade Tokyo 2020. Sebab, mereka dapat menjadikan Olimpiade sebagai sarana memberikan harapan serta kepercayaan di tengah kepelikan akibat Covid-19. 

"Tidak hanya kepada komunitas di Olimpiade berlangsung, tapi juga kepada seluruh dunia. Saya merasa bangga dengan para atlet," sambung dia.

Juara umum 

Amerika Serikat keluar sebagai juara umum Olimpiade Tokyo 2020 dengan raihan 113 medali, terdiri atas 39 emas, 41 perak, dan 33 perunggu. Jepang sebagai tuan rumah menempati tempat ketiga dengan koleksi 58 medali. Sementara Indonesia yang menargetkan peringkat 40 besar, finis di peringkat 55 dengan raihan satu emas, satu perak, dan tiga perunggu. 

Chef de Mission Jepang Tsuyoshi Fukui mengatakan, para atlet telah mengerahkan seluruh jiwa dan raganya dalam Olimpiade Tokyo 2020. Para atlet juga menunjukkan semangat untuk bangkit dari pandemi Covid-19.

"Dalam masa-masa sulit yang kita semua alami ini, Anda memberi dunia hadiah yang paling berharga, yaitu harapan. Kami percaya semangat yang sungguh-sungguh dari atlet kami dan penampilan luar biasa untuk menggeralkan masyrakat," kata Tsuyoshi Fukui.

Sementara itu, Presiden Komite Penyelenggara Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020, Hashimoto Seiko menambahkan, semangat yang diperlihatkan pada Olimpiade kali ini dapat berjalan dengan baik berkat bantuan dari seluruh elemen. "Olimpiade Tokyo 2020 ini adalah bukti kekuatan dan kecintaan Anda pada olahraga. Ini telah membuat Anda menjadi Olympians sejati," sambung Hashimoto Seiko.

Di hari penutupan, muncul rumor adanya kemungkinan bahwa cabang olahraga angkat besi dan tinju terancam hilang pada Olimpiade Paris 2024. Kuota yang ditetapkan untuk Paris 2024 bakal berkurang menjadi 10.500 atlet atau 592 lebih sedikit dibandingkan Tokyo 2020 dengan total 11.092 atlet. 

photo
Pertunjukan kembang api menandai penutupan Olimpiade Tokyo 2020, Ahad (8/8/2021).  - (EPA-EFE/RITCHIE B. TONGO)

Pengurangan kuota di 28 cabor itu dinilai sudah proporsional karena hanya difokuskan pada cabang yang sangat mungkin dipangkas, tapi tetap mempertahankan nilai universal Olimpiade. "Di masa lalu, IOC telah dihadapkan pada situasi yang menimbulkan kekhawatiran serius mengenai tata kelola federasi internasional tertentu," kata Wakil Presiden IOC John Coates seperti dilansir laman Asahi, kemarin. 

Pengurangan kuota tertinggi terjadi pada angkat besi. Parahnya lagi, cabor tersebut bahkan berisiko dikeluarkan dari Olimpiade Paris 2024 karena banyaknya kasus doping dan permasalahan pada tata kelola Federasi Angkat Besi Dunia (IWF), termasuk kasus korupsi. IWF dipimpin selama dua dekade hingga tahun lalu oleh mantan anggota lama IOC, Tamas Ajan. 

Tinju dan angkat besi di antara 28 olahraga inti yang kerap masuk dalam program Olimpiade. Sementara kota tuan rumah dapat mengajukan permohonan untuk menambahkan olahraga lain yang menarik bagi pasar domestik.

Pada Olimpiade Tokyo, tuan rumah menambahkan bisbol, softball, dan karate ke dalam cabor yang dipertandingkan dan memulai debut skateboard, panjat tebing, dan selancar yang sejalan dengan upaya IOC dalam memasarkan olahraga kepada para atlet muda. Nantinya, Paris selaku tuan rumah Olimpiade 2024 akan memasukkan cabor debutan breakdancing. Sedangkan skateboard, panjat tebing, dan selancar akan tetap dipertahankan. 

photo
Lifter Indonesia Eko Yuli Irawan melakukan angkatan snatch dalam kelas 61 kg Putra Grup A Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum, Tokyo, Jepang, Ahad (25/7/2021). Eko Yuli berhasil mempersembahkan medali perak dengan total angkatan 302 kg. - (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

Jika angkat besi benar-benar akan ditiadakan dalam Olimpiade 2024, tentu akan merugikan Indonesia. Hal ini lantaran angkat besi merupakan salah satu cabor andalan Indonesia. Pada Olimpiade Tokyo, angkat besi menyumbang satu medali perak dan dua perunggu. 

Sementara itu, IOC memiliki anggota baru, yaitu pebasket asal Spanyol, Pau Gasol. Ia terpilih dalam pemilihan yang digelar pada Rabu (3/8). Terpilihnya legenda bola basket Negeri Matador itu disambut baik Erick Thohir yang telah menjadi IOC member sejak Juni 2019.

"Sebagai sesama pencinta bola basket, saya menyambut gembira karena legenda basket dunia dan NBA, Pau Gasol terpilih menjadi IOC member yang baru," ujar Erick, Ahad (8/8).

Erick menilai Pau Gasol layak menempati posisi barunya di Komite Olimpiade Internasional berdasarkan prestasi yang sudah ditorehkan. Erick mengatakan, Gasol telah menjadi dua kali juara NBA dan tiga kali meraih medali Olimpiade. 

RI Kejar Partisipasi

Sementara, Indonesia yang sempat berada di 40 besar saat menuntaskan seluruh pertandingan pada Senin (2/8) terlempar ke peringkat 55 pada hari terakhir Olimpiade Tokyo 2020. Untuk terus meningkatkan capaian di Olimpiade, Indonesia mengejar tingkat partisipasi pada Olimpiade Paris 2024.

Chef de Mission Indonesia untuk Olimpiade Tokyo 2020 Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, seluruh atlet Indonesia sudah berjuang sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik. "Dari segi peringkat, (target) memang belum tercapai. Tapi Alhamdulillah kita masih bisa mencapai target medali," kata Rosan kepada Republika, Ahad (8/8).

Jika dibandingkan dengan Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Indonesia mengalami sedikit peningkatan dalam perolehan medali. Indonesia meraih lima medali di Olimpiade 2020, terdiri atas satu medali emas, satu perak, dan tiga perunggu.

Sedangkan di Olimpiade 2016, Indonesia mendapatkan tiga medali, yaitu satu emas dan dua perak. Kendati demikian, Indonesia gagal mencapai target untuk finis di peringkat 40 besar Olimpiade Tokyo 2020.

Rosan berusaha melihat sisi positif dari perolehan medali oleh atlet-atlet yang relatif muda. Dua medali perunggu milik Indonesia disumbangkan Rahmat Erwin Abdullah dan Windy Cantika Aisah yang masih berusia 20 tahun ke bawah.

Indonesia, kata dia, juga mencetak sejarah dengan meraih emas bulu tangkis nomor ganda putri untuk pertama kalinya. "Jadi kalau dilihat hal-hal lainnya ini cukup positif ya, tidak serta merta dari peringkat saja," kata Rosan.

Rosan memastikan akan ada evaluasi atas perjalanan Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 untuk melakukan pembenahan dan tampil lebih baik di Olimpiade Paris 2024. Dia berharap penyumbang medali nantinya tidak hanya dari dua cabang olahraga tersebut. "Maka harus ada pembinaan di cabor-cabor lain yang mempunyai potensi besar, seperti menembak, panahan itu juga punya atlet yang berpotensi," katanya.

Untuk meningkatkan peluang meraih medali, kata dia, dengan meningkatkan tingkat partisipasi. Oleh karena itu, para pengurus cabor bertanggung jawab membawa atlet-atletnya lolos kualifikasi.

"Untuk bisa lolos kualifikasi, maka persiapan harus mulai dilakukan sejak tahun ini. Perencanaan dan anggaran pun harus maksimal," ujarnya.

photo
Pebulutangkis ganda Putri Indonesia Greysia Pollii/Apriyani Rahayu mengembalikan kok ke arah ganda putri China Chen Qing Chen/Jia Yi Fan dalam final Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Senin (2/8/2021). - (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Menurut Rosan, atlet harus dipersiapkan dengan matang mulai dari sekarang. Dia menjelaskan, atlet bulu tangkis dan angkat besi yang selalu menjadi harapan peraih medali telah melakukan hal itu. Mereka tidak pernah berhenti melakukan pemusatan latihan (pelatnas).

"Kita bisa lihat yang sukses di olimpiade selalu bulu tangkis dan angkat besi. Itu pelatnasnya tidak pernah putus. Untuk melahirkan atlet kan tidak bisa instan. Mereka harus dilatih secara fisik dan nonfisik," katanya.

Pengamat olahraga Djoko Pekik mengutarakan hal senada dengan Rosan. Menurut dia, Indonesia harus bisa mengirim lebih banyak atlet demi menambah peluang dalam perolehan medali dan meningkatkan peringkat dalam ajang Olimpiade. Target peringkat 40 besar dalam Olimpiade Tokyo 2020 terbilang berat karena Indonesia hanya mengirim 28 atlet.

"Evaluasi mendasar menurut saya harus lebih banyak yang dikirim. Karena target awal kita adalah tembus 40 besar. Kemudian prestasi yang diperoleh harus dievaluasi meski kita bangga dengan satu medali emas ganda putri," kata Djoko yang juga mantan Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora kepada Republika, kemarin.

Terkait tekad Kemenpora untuk menjadikan Olimpiade sebagai sasaran pembinaan atlet, Djoko menilai hal itu membuat pemerintah mesti memilih cabang-cabang olahraga yang memiliki potensi meraih medali di Olimpiade. "Tapi, tentu kita mengucapkan rasa bahwa Indonesia bisa meraih medali emas, perak, dan perunggu," kata Djoko.

Pengamat olahraga lainnya, Mohamad Kusnaeni, berpesan agar pemerintah tak berpuas diri dengan capaian satu medali emas pada cabor bulu tangkis. Sebab, kata dia, target awal tim bulu tangkis Indonesia adalah meraih sedikitnya dua atau tiga emas.

"Bagaimanapun, cabor bulu tangkis perlu terus melakukan pembenahan. Karena tunggal putri belum mampu berbicara banyak," kata dia.  


×