ILUSTRASI Berzikir kepada Allah dengan hati yang tulus ikhlas. | DOK EPA Mohammed Badra

Kitab

08 Aug 2021, 08:57 WIB

Untaian Nasihat Menyentuh Kalbu

Buku ini merangkum petuah tiga ulama besar yang menelaah ihwal ketenteraman kalbu.

OLEH MUHYIDDIN

 

 

Rasulullah SAW bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi.” Yang diwariskan ialah ilmu-ilmu agama. Dengannya, kalangan alim dapat membimbing umat agar selalu dalam jalan kebenaran dan ketakwaan.

Nabi Muhammad SAW juga berpesan, “Sesungguhnya, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” Maka dari itu, kaum ulama berperan sangat penting dalam membenahi akhlak masyarakat. Nasihat-nasihat mereka menjadi pencerahan yang bisa menginspirasi orang-orang agar berbuat kebajikan.

Petuah para ulama dapat diperoleh tidak hanya melalui dakwah lisan, tetapi juga tulisan. Berbagai kitab klasik menyuguhkan pesan mereka, yang mengajak umat agar selalu berpegang teguh pada Alquran dan Sunnah.

Terlebih dalam masa sekarang, ketika pandemi merajalela, kaum Muslimin dapat mereguk kembali oasis spiritual ini. Dalam arti, menyimak lagi arahan moral alim ulama. Sebab, yang perlu dijaga tidak hanya kesehatan jasmani, melainkan juga rohani.

Ketenangan hati merupakan sumber banyak kebaikan. Semakin bersih hati seorang Mukmin, hidupnya pun akan semakin tenteram. Karena itu, para ulama memberikan pelbagai nasihat agar umat Islam selalu berpikir, berkata, dan bertindak dengan hati yang bersih (qalbun salim).

 
Ketenangan hati merupakan sumber banyak kebaikan. Semakin bersih hati seorang Mukmin, hidupnya pun akan semakin tenteram.
 
 

Buku yang kami resensi kali ini memuat dengan bernas nasihat-nasihat ulama tentang keutamaan hati. Karya berjudul Tenangkan Pikiran dan Hatimu ini disusun oleh Shalih Ahmad Syami. Isinya menyuguhkan tidak hanya satu, melainkan tiga ulama besar sekaligus. Ketiganya dikenang dalam sejarah Islam sebagai mubaligh-mubaligh berpengaruh luas. Reputasi mereka tetap harum bahkan hingga saat ini.

Tiga ulama besar tersebut adalah Imam Hasan Bashri (21 Hijriyah), Imam Ghazali (450 H), dan Syekh Abdul Qadir Jailani (471 H). Ketiganya telah banyak menulis kitab yang berisikan nasihat-nasihat kontemplatif, termasuk dalam perkara hati. Karya-karya mereka sangat banyak dan memberikan manfaat bagi kehidupan umat Islam.

Di antara banyak nasihatnya, ketenteraman batin pun menjadi bahasan. Mereka umumnya menekankan, kebersihan hati turut menentukan eratnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Pada akhirnya, relasi vertikal itu juga tecermin pada relasi horizontal, yakni pergaulan sosial di tengah masyarakat.

Pada bagian pertama, buku ini menyuguhkan ratusan nasihat yang pernah disampaikan Imam Hasan Bashri. Dia merupakan sosok ulama yang terkenal dengan kezuhudan dan ketaatannya kepada Allah SWT. Lelaki dari abad pertama Hijriyah itu termasuk golongan tabiin, yakni generasi di bawah para sahabat Nabi SAW.

Kelompok ini dikenang antara lain sebagai yang memahami (faqih) kandungan Alquran. Dari mereka, banyak bermunculan para pakar ilmu-ilmu agama, termasuk tafsir dan hadis.

 
Orang yang memiliki tubuh tanpa hati hanya akan mendengar suara tanpa kedamaian.
 
 

Salah satu nasihat Hasan Bashri yang menarik di dalam buku ini adalah tentang mati dan kerasnya hati seseorang. Menurut dia, orang yang memiliki tubuh tanpa hati hanya akan mendengar suara tanpa kedamaian. Diibaratkan, lidah orang tersebut bagaikan sebidang tanah yang subur, tetapi hatinya sangat gersang. Ketika merasa berhati keras, Hasan Bashri menasihati, umat Islam sebaiknya banyak-banyak berzikir kepada Allah Ta’ala.

Ada kisah yang cukup menarik tentang ini. Suatu hari, Hasan Bashri didatangi seorang lelaki. “Wahai Abu Sa’id,” katanya kepada ulama besar itu, “aku mengadukan kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka dijawabnya, “Dekatkanlah kepada peringatan, yaitu kepada orang yang berzikir.”

Tidak hanya banyak-banyak mengingat Allah. Sang imam pun mengingatkannya tentang enam penyebab rusaknya hati. Pertama, sengaja berbuat dosa dengan bayangan, nanti bisa bertobat. Kedua, mengetahui suatu amalan, tetapi tidak mengerjakannya.

photo
Melalui buku ini, pembaca dapat menyimak petuah-petuah bijak dari Imam Hasan Bashri, Imam Ghazali dan Syekh Abdul Qadir Jailani - (DOK PRI)

Ketiga, riya atau beribadah dengan hasrat ingin dilihat dan dipuji manusia. Keempat, jarang mensyukuri nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya. Kelima, tidak rela terhadap ketentuan Allah Ta’ala. Terakhir, menyaksikan kematian, tetapi tidak pernah memetik hikmah darinya.

Dalam buku ini, secara total ada 278 nasihat yang dinukil dari Imam Hasan Bashri. Selanjutnya, Shalih Ahmad Syami selaku editor menyertakan nasihat-nasihat penting dari Imam Ghazali. Tokoh ini adalah seorang ulama yang ahli dalam bidang tasawuf. Gelarnya ialah Hujjatul Islam.

Terutama setelah melalui krisis jati diri, Imam Ghazali banyak berkarya sufistik. Bahkan, ia pun mempraktikkan jalan salik dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, petuah-petuahnya sangat layak jika dimasukkan ke dalam buku bertema ketenteraman hati dan pikiran.

 
Sesungguhnya semua hati itu sakit, kecuali yang dikehendaki sehat oleh Allah SWT.
 
 

Setidaknya ada 73 nasihat Imam Ghazali yang dimuat di dalam buku ini. Salah satu nasihat pentingnya adalah tentang menjaga kesehatan hati. Menurut dia, sesungguhnya semua hati itu sakit, kecuali yang dikehendaki sehat oleh Allah SWT.

Imam Ghazali menjelaskan bahwa penyakit hati termasuk penyakit yang tidak bisa dirasakan oleh penderitanya. Oleh karena itu, manusia kerap tidak mengetahui bahwa mereka sedang terjangkit penyakit hati.

Jika pun mereka mengetahuinya, menurut Imam Ghazali, hanya sedikit di antara mereka yang mampu bersabar menelan obatnya yang pahit. Karena, obatnya adalah menentang syahwat, dan itu berarti mencabut nyawa mereka.

Jika pun mereka mau menahan pahitnya obat itu, sedikit di antara mereka yang berhasil menemui dokter yang mampu mengobati penyakit hati. Karena, menurut Imam Ghazali, dokternya itu adalah para ulama. Sedangkan ulama sendiri, menurutnya, pada masanya mulai marak dijangkiti penyakit itu.

photo
Buku Tenangkan Pikiran dan Hatimu Setiap Saat - (Erdy Nasrul)

Dalam kitabnya yang berjudul Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menjelaskan, dokter yang sakit tentu tidak mungkin bisa mengobati. Karena itu, penyakit hati menjadi wabah akut di tengah-tengah masyarakat.

Akibatnya, ilmu ditinggalkan, kesehatan hati diabaikan, dan penyakit hati dibiarkan. Nasihat-nasihat Imam Ghazali dalam buku ini akan memberikan pencerahan kepada para pembaca untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, buku ini kemudian mengajak para pembaca untuk menyelami 182 nasihat dari Syekh Abdul Qadir Jailani. Nama lengkapnya adalah Sayyid Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Musa Zangi Dausat al-Jailani. Dia adalah seorang ulama yang disegani sekaligus menjadi rujukan pertanyaan-pertanyaan agama. Sangat banyak tokoh-tokoh yang menimba ilmu kepadanya.

 
Jika merasa keberatan terhadap takdir Allah, itu berarti matinya agama, matinya tauhid, matinya tawakkal dan keikhlasan.
 
 

Syekh Abdul Qadir Jailani dilahirkan di Desa Nif atau Naif, termasuk pada distrik Jailan, Kurdistan Selatan, terletak 150 kilometer sebelah timur laut Kota Baghdad, di selatan Laut Kaspia, Iran. Ia dilahirkan pada Senin, 1 Ramadhan 470 H, bertepatan dengan tahun 1077 M dan wafat di Baghdad pada Sabtu, 11 Rabiuts-Tsani 561 H/1166 M.

Nasihat-nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani dalam buku ini banyak yang mengandung hikmah dan sangat bermanfaat bagi umat Islam. Sama halnya dengan Hasan Bashri dan Imam Ghazali, dalam buku ini dia juga memberikan nasihat tentang masalah hati.

Syekh Abdul Qadir menjelaskan, jika merasa keberatan terhadap takdir Allah, itu berarti matinya agama, matinya tauhid, matinya tawakkal dan keikhlasan. Menurut dia, hati orang mukmin tidak mengenal pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” yang pengetahuannya sendiri tidak dapat menjangkaunya.

Dia pun memberikan nasihat agar umat Islam memperbaiki hatinya. Sebab, jika hati baik, maka akan baik pula seluruh perilakunya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik, seluruh tubuh itu akan menjadi baik dan apabila buruk, seluruh tubuh itu akan menjadi buruk. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim).

 
Jika tujuan hatinya benar, maka semua yang ditinggalkan di di dunia akan mendapat penggantinya yang lebih baik di akhirat.
 
 

Selain itu, Syekh Abdul Qadir Jailani juga menjelaskan tentang tujuan hati. Menurut dia, tujuan hakiki hati adalah pencarian akan Allah SWT. Jika tujuan hatinya benar, maka semua yang ditinggalkan di di dunia akan mendapat penggantinya yang lebih baik di akhirat. Karena itu, dia pun memberikan nasihat kepada umat Islam untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk kehidupan akhirat dan datangnya malaikat maut.

Buku kumpulan nasihat ini merupakan gabungan dari buku yang sebelumnya sudah diterbitkan oleh Wali Pustaka. Buku ini disuguhkan lebih modern dan dinamis sehingga mudah dibaca dan dipahami para pembaca.

Nasihat-nasihat yang mendalam dari ketiga ulama ini bagaikan air telaga yang airnya takkan habis dikuras, sehingga para pembaca akan mendapatkan pencerahandan ketenangan batin yang hakiki dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Di akhir buku ini juga dijelaskan biografi singkat dari tiga ulama tersebut, sehingga para pembaca bisa mengenal lebih jauh tentang kehidupan sang pemberi nasihat. Buku ini menjadi bacaan wajib untuk setiap kelurga muslim dan terdiri dari nasihat yang jarang diketahui orang.

 


×