Panorama indah aquascape | dok Dedy Setyawan
08 Aug 2021, 08:30 WIB

Bebas Stres dengan Aquascape

Hobi ini pun kini bisa menjadi alternatif mata pencaharian baru saat pandemi.

Bermain dengan ikan-ikan kecil telah menjadi kebiasaan dan kegemaran dari seorang Aldino Rafiq Rendiansyah. Laki-laki yang berusia 28 tahun itu gemar memelihara ikan sejak dia duduk di bangku SD hingga SMA. "Semakin saya besar, semakin saya suka lagi, semakin giat sering main ke pasar ikan hias," ungkap Aldino kepada Republika.

Laki-laki yang saat ini tinggal di Tangerang itu mengatakan, pada saat dia duduk di bangku SMP, dia sudah sering bermain-main menyusun tanaman air, batu, kayu ke dalam akuariumnya. Namun saat itu, dia tak mengetahui bahwa apa yang dilakukannya saat ini populer dengan nama aquascape.

Secara harfiah, aquascape terdiri atas dua kata yaitu aqua yang berarti air dan scape yang berarti pemandangan. Menurut Aldino, aquascape merupakan sebuah seni tata letak pemandangan yang terdiri atas bebatuan, kayu, tanaman air, dan lain-lain yang ada dalam wadah yang tertutup termasuk akuarium. “Jadi kita membuat sebuah pemandangan yang biasa kita lihat baik pegunungan, pepohonan. Makanya ada temanya masing-masing seperti jungle,  natural, dan lain-lain,” jleas Aldino.

Selain seni, menggeluti aquascape juga memerlukan pengetahuan memeliharanya. Sebab, di dalam akuarium, kita membuat sebuah ekosistem.  “Karena kita membuat ekosistem, jadi mereka yang menggeluti aquascape itu merawat unsur-unsur yang ada di dalamnya. Misalnya ada daun panjang dipotong, ada hama dicari bagaimana menghilangkannya,” kata Aldino.

Terkait

Ternyata kegemaran pada dunia ikan hingga akhirnya tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Perikanan Universitas Padjadjaran di Kota Bandung itu membawanya kian dekat dengan dunia aquascape dan ikan hias. Terlebih dia sempat bergabung ke Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mewadahi mahasiswa yang memiliki hobi aquascape dan ikan hias. “Saya join ke UKM tersebut, dan akhirnya jadi tahu bahwa hal-hal yang saya lakukan semasa SMP itu ternyata disebut aquascape,” jelas Aldino.

Aldino tak hanya belajar bersama teman-temannya di UKM, dia pun belajar bersama dengan teman-teman lain yang telah bergabung di komunitas aquascape di luar kampus. Tak ketinggalan, dia juga belajar lewat komunitas Indoaquascape.com yang merupakan forum yang berbincang mengenai aquascape.

“Dari situ saya mulai terbuka, dan ilmunya bertambah karena di forum itu saling bertukar pikiran, masukan, saran, semuanya diterima dari orang-orang yang telah lebih dulu terjun ke aquascape,” kata dia.

Aldino mengatakan, karena semakin menjamurnya pelaku hobi ini terutama di masa pandemi, maka saat ini banyak pula orang-orang yang menjual peralatan dan aneka isian akuarium. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan saat semasa dia kecil dulu. Ketika itu masih jarang orang-orang menjual bahan-bahan pengisi akuarium. "Dulu pada saat mau mulai awalnya itu beratnya di pengadaan bahan. Karena dulu belum seramai sekarang, jadi agak susah mencarinya dan harganya mahal sekali," kata Aldino.

Dia mengatakan, ada sebuah pasar ikan hias yang sangat terkenal yang merupakan tempat yang amat populer dikunjungi para penyuka aquascape, yaitu pasar ikan hias Parung, Bogor.

Dulu, setidaknya hanya ada sekitar empat lapak yang menjual tanaman air untuk aquascape di pasar ikan hias tersebut. Namun, saat ini, puluhan lapak telah menjual tanaman air tersebut. Hal ini, kata dia, menandakan permintaan akan tanaman air dan juga bahan-bahan untuk aquascape telah meningkat pesat.

Hingga Aldino pun memutuskan untuk lebih serius membuat aquascape pada 2010 silam. Jika sebelumnya dia menggeluti aquascape sebatas hobi, saat ini dia menjadikannya sebagai mata pencaharian. Untuk itu Aldino pun menguasai berbagai turunan dari aquascape seperti vivarium, paludarium, dan terrarium.

Sebagai penjaja jasa membuat aquascape, dia mengaku mendapatkan omzet sekitar Rp 300 juta per bulan. Terlebih pada saat pandemi, omzet yang didapatkannya pun semakin banyak lantaran banyak permintaan aquascape untuk dibuat. “Biasanya mereka (pembeli memakai) uangnya untuk liburan, karena tidak bisa berlibur jadi dialihkan untuk membuat aquascape,” kata dia.

 

 

photo
Panorama indah aquascape - (dok Aldino Rafiq Rendiansyah)

Kuasai Dulu Hal Dasar

Bagi orang-orang yang hendak memulai hobi ini, pewirausaha aquascape Aldino Rafiq Rendiansyah berpesan untuk belajar dahulu bagaimana cara memelihara makhluk hidup yang ada pada akuarium. Misalnya memelihara tanaman air, mengerti kebutuhan peralatan akuarium seperti berapa watt lampu dan filter harus sesuai.

Penting bagi para pemula untuk mengerti hal-hal dasar tersebut dan menguasainya. "Jadi jangan langsung membuat desain.  Harus belajar itu dulu. Kalau sekarang belajar bisa dari Youtube, banyak channel yang membahas aquascape,"kata pemilik saluran Youtube ”The Aquatic Freak” itu.

Namun, Aldino tak memungkiri ada orang-orang yang memang langsung ingin membuat dan mendesain aquascape. Mereka, disebut Aldino, adalah orang-orang yang memang ingin boros dalam menggeluti hobi ini. Kebanyakan dari mereka, akan mencoba lagi di kemudian hari jika aquascape sebelumnya mengalami kegagalan.

Bagi para pemula, kata Aldino, cukup memulai hobi ini dengan membeli akuarium berukuran 30 cm. Dengan ukuran akuarium ini, kita bisa menyiapkan bujet total senilai Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu.

Bujet tersebut terdiri atas akuarium 30 cm seharga Rp 60 ribu hingga Rp 80 ribu, filter seharga Rp 60 ribu, serta lampu seharga sekitar Rp 120 ribu. Dari belanja sistem tersebut yang hanya mencapai Rp 260 ribu, kita bisa membelinya untuk bahan-bahan lain seperti kayu, bebatuan, dan tanaman air senilai Rp 250 ribu. Bahan-bahan tersebut bisa didapatkan di berbagai toko aquascape yang kini juga telah menjamur. Selain itu, kita juga bisa mencarinya di pasar ikan hias yang ada di setiap kota.

Jika ingin membuat aquascape berkapasitas lebih besar lagi dari akuarium berukuran 30 cm, maka akuarium yang digunakan adalah yang berukuran 60 cm. Hanya, kita tidak bisa memindahkan isian akuarium sebelumnya ke akuarium baru karena perbedaan ukuran. Artinya, kita harus mengisinya dengan berbagai isian yang baru.

Sedangkan Dedy Setyawan, pegiat aquascape asal Jawa Tengah, menyarankan untuk membuat aquascape dengan ukuran akuarium 30x30x50cm. Beberapa peralatan lain yang penting untuk melengkapi akuarium adalah filter dan lampu. Sementara bahan-bahannya, misalnya untuk aquascape dengan tema pemandangan pegunungan, membutuhkan bebatuan, tanaman air, dan lain-lain. “Kira-kira Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Bergantung dengan bahan-bahannya juga. Batunya itu bervariasi harganya, mulai dari Rp 5 ribu sampai Rp 40 ribu per kilogram itu ada,” jelas dia.

 

 

 

Jangan langsung membuat desain.  Harus belajar itu dulu. Kalau sekarang belajar bisa dari Youtube, banyak channel yang membahas aquascape.

 

Aldino Rafiq Rendiansyah
 

 

 

Ramai-ramai Ikut Kontes

Antusiasme masyarakat terhadap aquascape boleh dibilang tampak ketika mulai banyak kota besar yang rutin mengadakan kontes aquascape. Oleh karena itu, semakin banyak pula orang-orang yang ingin memulai hobi ini dan menggelutinya hingga menjadi kontestan aquascape. 

Karena aquascape adalah sebuah seni, menurut Aldino, setiap aquascape memiliki ciri khas dan model tema sesuai dengan seleranya masing-masing. Seni pada dasarnya tak bisa ditetapkan benar atau salah. Namun, seni ini bisa dinilai oleh juri melalui kontes.

Aldino mengatakan, kontes aquascape membuat hobi ini menjadi lebih hidup. Sebab, jika tidak ada kontes, maka para pelaku hobi ini akan tenang-tenang saja dan tak ada tantangan. Juri kontes, ujar Aldino, menilai keindahan dan juga keunikan dari aquascape yang dibuat oleh masing-masing peserta. Kesegaran ide pada desain menjadi faktor utama para juri memenangkan aquascape pemenangnya,

“Juri biasanya mencari desain yang fresh. Seperti tema ini sudah pernah atau belum digunakan sebelumnya? Jadi memang harus melihat tren desain di Indonesia. Semakin umum sebuah desain yang dilombakan, maka peluang untuk menang pun sangat sedikit,” jelas dia.

Kesan pertama saat melihat aquascape yang bagus juga menjadi faktor utama kemenangan. Paling tidak, ada beberapa akuarium dari ratusan akuarium yang memiliki kesan pertama yang menarik saat para juri melihatnya pertama kali.

Isian dari akuarium pun dipertimbangkan oleh para juri. Pada beberapa kontes internasional, para juri menilai menang atau kalahnya aquascape yang dilombakan berdasarkan ikan hias yang dipelihara pada aquascape.

Artinya, salah satu tantangan bagi penyuka hobi aquascape adalah mencari ide yang orisinal dan memiliki ciri khas, serta baru. “Karena menata akuarium itu seni. Di Jepang, bahkan yang dinilai itu layout, itu ada di kontes International Aquatic Plant Layout Contest,” jelas dia.

Karena peminat hobi ini telah mulai banyak, maka tak dimungkiri pesaing kontes pun akan semakin banyak. Terlebih jika mengikuti kontes internasional yang memiliki peserta yang juga bertaraf internasional. Sebab beberapa negara telah mulai memiliki penikmat aquascape yang mulai jago dalam kontes.

Untuk mengikuti kontes pun perlu usaha tersendiri. Menurut pemilik akun instagram @aldinorafiq itu, kontes tingkat nasional menggunakan akuarium dengan ukuran 30 cm sampai 60 cm. “Dan itu untuk beli bahan untuk akuarium seperti  itu, biasanya butuh bujet antara Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta. Tergantung kualitas batunya, karena ada puluhan jenis dan harganya bervariasi,” jelas dia.

photo
Panorama indah aquascape - (dok Aldino Rafiq Rendiansyah)

Sementara, jika kontes yang ingin kita ikuti bertaraf internasional, kita memerlukan akuarium dengan ukuran yang lebih besar mulai 120 cm. Lalu, kita perlu menyiapkan sekitar Rp 20 juta hingga Rp 25 juta untuk membeli keperluan peralatan yang cukup banyak.

Dengan modal yang tak sedikit untuk mengikuti kontes, maka aquascape yang dikonteskan harus memenangi hadiah-hadiah yang ditawarkan. Seperti kontes di Cina, kata Aldino, memiliki hadiah sebesar sekitar Rp 200 juta. Sementara di Jepang dan Taiwan, mereka menawarkan hadiah sebesar sekitar Rp 100 juta.

Namun, ada alasan lain para kontestan ingin menjadi pemenang di ajang kontes aquascape selain kontes itu berhadiah ratusan juta. Aldino mengatakan, kebanggaan menjadi pemenang lantas menjadi kebanggaan tersendiri layaknya atlet yang membawa nama besar negara Indonesia. “Seakan-akan membawa nama Indonesia. Jadi mereka lebih semangat,” kata Aldino.

photo
Panorama indah aquascape - (dok Dedy Setyawan)

Ekspresikan Imajinasi

Cerita tak kalah menarik datang dari Dedy Setyawan. Laki-laki berusia 30 tahun kelahiran Kabupaten Jepara, Jawa Tengah ini sangat menyukai aquascape karena dia merasa sangat senang dengan seni yang dihasilkan dari hobi aquascape“Yang paling utama karena suka sekali dengan seninya. Setiap orang imajinasinya berbeda-beda, karakter orang berbeda-beda, jadi pengaplikasiannya kepada pembuatan aquascape itu berbeda-beda, jadi terlihat sekali seninya,” tutur Dedy kepada Republika.

Sebagai pehobi membuat aquascape, dia sangat senang mengekspresikan imajinasinya ke dalam aquascape. Terlebih jika dia telah selesai membuat sebuah aquascape, dia merasa sangat puas ketika melihat hasilnya.

Awal mula dia menggeluti hobi ini, justru bukan karena dia memiliki hobi sejak kecil . Pada 2014 lalu, dia memiliki ide untuk mengaplikasikan pemandangan yang dia imajinasikan ke dalam sebuah akuarium yang saat itu dimilikinya.

Saat itu, dia melihat di internet sebuah pemandangan aquascape yang diletakkan di sebuah gentong yang terbuat dari semen. Namun, menurutnya gentong yang dihias-hias bebatuan dan tanaman air itu tak terlihat natural dan tak seindah aquascape pada akuarium.

Dia pun mencari bebatuan alami dari sungai, karena pada saat itu belum banyak orang-orang menjual peralatan untuk aquascape. “Dulu masih susah, belinya di mana. Ya langsung pergi ke sungai mencari batu-batu lalu susun sendiri. Ada akar, kayu, tanaman-tanaman yang di pinggir-pinggir sungai itu,” jelas Dedy.

Saat itu pula Dedy masih tak mengetahui bahwa apa yang dilakukannya disebut aquascape. Seiring dengan berjalannya hobinya itu, dia pun belajar dan bermain dengan beberapa orang yang juga menggeluti aquascape di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Selain belajar dari teman-temannya, dia lalu mencari banyak inspirasi dari internet. Dia mencari tahu mengenai bahan-bahannya, kayu-kayu yang digunakan, serta media yang juga digunakan. “Dari situ sudah tahu ekosistemnya kan, lalu hobi itu saya geluti sampai sekarang,” ujar Dedy.

Dedy menyebut, hobi ini adalah seni menata pemandangan dalam akuarium. Ketika dia berusaha membuatnya, dia mencoba untuk seoptimal mungkin menatanya hingga benar-benar alami.

Beberapa bahan seperti kayu-kayuan dan bebatuan biasanya dia beli di kios-kios ikan yang kini telah menjamur. Sementara tanaman air, dia khusus membelinya dari wilayah Kalimantan. Harganya sendiri sekitar Rp 500 ribu.

Salah satu bahan yang tak kalah penting dibeli adalah bakteri aktif. Sebab, bakteri yang disebut bakteri baik yang baik untuk keberlangsungan ekosistem di dalam akuarium.

Sementara, kondisi air disarankan memiliki suhu rendah atau air dingin. Dedy mengatakan, lebih baik lagi, air yang digunakan menggunakan air yang langsung diambil dari sumber mata air langsung. Akuarium sendiri bisa dikuras minimal satu pekan satu kali. “Kalau bisa di rumah saja rutin begitu bisa saja setiap tiga hari sekali kita kuras akuariumnya,” kata dia.

Berkat kepiawaian itu, Dedy yang berprofesi sebagai sekuriti di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sekarang punya kerja sampingan dalam bidang aquascape. Dia menawarkan jasa untuk membuat aquascape yang menghasilkan keuntungan yang tak kalah besar dari pekerjaan utamanya.

Menurutnya, dalam satu bulan, dia berhasil mendapatkan sekitar Rp 5 juta melalui hobinya itu. Lantaran itulah ada keinginan untuk meninggalkan pekerjaan utamanya dan fokus menghasilkan uang dari sambilannya itu. Akan tetapi, hal itu masih sekadar rencana bagi dia. “Pelan-pelan, rencana memang begitu,” kata Dedy.

Karena hobi ini telah digelutinya sejak tujuh tahun terakhir, dia tak memungkiri ingin mengikuti kontes-kontes aquascape yang sering diadakan di berbagai kota di Indonesia. Sampai saat ini, dia belum pernah mengikuti kontes karena beberapa jadwal kontes yang diadakan, sering bertabrakan dengan jadwal pekerjaan utamanya.

Seringnya, dia membantu rekannya untuk mengatur akuarium di rumahnya sendiri yang dikerjakannya saat waktunya luang. Ketika sudah jadi, akuarium pun dibawa untuk ikut kontes.

Dia mengaku ingin mengikuti kontes bukan semata karena hadiahnya saja. “Saya ingin menambah banyak teman, sehingga saya bisa bertukar pikiran dan bertukar pengalaman lagi  mengenai aquascape,” jelas Dedy.


×