ILUSTRASI Nabi Muhammad SAW berjumpa pertama kali dengan Ibnu Masud sewaktu anak muda itu sedang menggembalakan kambing. | DOK PXHERE

Kisah

08 Aug 2021, 07:20 WIB

Kejujuran Sang Muslim Keenam

Dengan masuk Islamnya Ibnu Mas’ud, sang penggembala yang jujur itu menjadi Muslim keenam.

 

OLEH HASANUL RIZQA

Dalam perjuangannya, Nabi Muhammad SAW mendapatkan dukungan dari para sahabat. Mereka dengan setia mengiringi setiap dakwah beliau. Bahkan, nyawa pun dengan ikhlas diberikannya untuk tegaknya kalimat tauhid.

Salah seorang sahabat Rasulullah SAW ialah Abdullah. Ia adalah putra Mas’ud sehingga orang-orang akrab menyapanya Ibnu Mas’ud. Hidayah Allah menyinari hatinya sejak ia masih kanak-kanak.

Perjumpaannya pertama kali dengan sang al-Musthafa pun terjadi tanpa disengajanya. Waktu itu, dia masih bekerja sebagai anak gembala di peternakan milik seorang musyrik.

Ada ratusan ekor kambing yang digembalakannya. Dalam menjalankan tugasnya, Ibnu Mas’ud sangat cermat dan bertanggung jawab. Tidak seekor kambing pun dibiarkannya berkeliaran jauh terpencil dari kerumunan kambing-kambing yang lain.

Alhasil, tidak ada hewan ternak milik majikannya yang celaka. Selama ia menjadi penggembala, tidak pernah ada kasus rubah memangsa kambing-kambing peternakan ini.

Tanpa disadari Ibnu Mas’ud, ada dua orang lelaki yang sedang berjalan di dekat tempatnya berada. Keduanya baru saja keluar dari Kota Makkah secara sembunyi-sembunyi. Mereka adalah Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar ash-Shiddiq.

 
Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar ash-Shiddiq yang sedang berhijrah menuju Madinah itu lantas melalui peternakan milik majikan Ibnu Mas’ud.
 
 

Dua orang yang sedang berhijrah menuju Madinah—dahulu bernama Yastrib—itu lantas melalui peternakan milik majikan Ibnu Mas’ud. Baik Rasulullah SAW maupun Abu Bakar saat itu sudah kehabisan bekal. Sementara, rasa dahaga yang begitu berat menyergap keduanya.

Mereka berdua melihat seorang anak sedang menggembala ratusan kambing di sana. Tebersitlah pada pikiran para muhajirin ini untuk meminta susu kambing darinya. Untuk menghilangkan dahaga, air memang menjadi pilihan, tetapi saat itu sumber-sumber air sulit diperoleh. Lebih mudah mendapatkan minum perahan.

Nabi SAW dan Abu Bakar pun menghampiri Ibnu Mas‘ud. Bocah itu ditanya, apakah ada dari sekian banyak kambing-kambing ini yang dapat menghasilkan susu. Kalaupun ada, bolehkah air perahan itu diberikan kepada mereka berdua.

Sayang sekali, Ibnu Mas’ud tidak bisa menyanggupi permintaan tersebut. Bukannya tidak mau, tetapi hanya tidak mampu. “Ada kambing-kambing di sini yang bisa mengeluarkan air susu, tetapi semuanya bukanlah kepunyaanku. Kambing-kambing ini adalah amanah orang lain yang ada padaku!” jawab lelaki muda itu.

 
Ada kambing-kambing di sini yang bisa mengeluarkan air susu, tetapi semuanya bukanlah kepunyaanku.
 
 

Nabi SAW lalu diberi tahu pemilik peternakan tersebut. Namanya adalah Uqbah bin Abu Mu’ith. Saudagar ini adalah seorang musyrik yang ikut menentang perkembangan Islam di Makkah.

Jawaban Ibnu Mas’ud tidak membuat Rasulullah SAW murung, apatah lagi gusar. Sebab, perkataan anak gembala ini jelas menunjukkan betapa tinggi budi pekerti dan akhlaknya. Walaupun tidak diawasi langsung oleh majikannya, ia tidak mau mengkhianati amanah. Padahal, asalkan ada niat, bisa saja penggembala itu meminta bayaran dari kedua musafir tersebut untuk bisa menikmati susu kambing.

Rasulullah SAW memuji kejujuran anak ini, yang telah memperkenalkan namanya sebagai Abdullah bin Mas’ud. Beliau mengatakan, sikapnya yang amanah itu sejalan dengan ajaran Islam. “Apakah itu?” tanya anak lelaki tersebut.

Maka Nabi SAW membacakan beberapa ayat Alquran kepadanya. Ibnu Mas’ud menyimaknya dengan penuh perhatian dan kekaguman. Sebab, belum pernah ia sebelumnya mendengarkan kata-kata yang begitu indah dan dalam maknanya sebagaimana Alquran.

 
Belum pernah ia sebelumnya mendengarkan kata-kata yang begitu indah dan dalam maknanya sebagaimana Alquran.
 
 

Rasulullah SAW kemudian meminta izin kepada Ibnu Mas’ud agar didekatkan dengan seekor anak kambing yang belum dapat mengeluarkan air susu. Maksudnya ialah tidak mengganggu sifat amanah sang penggembala muda. Sebab, anak kambing itu memang belum waktunya untuk menghasilkan susu. Sangat tidak lazim dan tidak ada gunanya untuk memerahnya.

Ibnu Mas’ud pun memenuhi permintaan beliau tersebut. Setelah anak kambing itu diletakkan di depan Nabi Muhammad SAW, beliau mengikat dan mengusap kantung susu hewan itu. Dari mulutnya, terucap kata-kata doa yang tidak dipahami penggembala ini.

Ajaib! Kantung susu anak kambing ini menjadi penuh dengan air perahan. Abu Bakar kemudian meletakkan dua buah batu cekung di bawahnya, lalu memerah air susu anak kambing tersebut.

Ia lalu meminumnya hingga kenyang. Rasulullah SAW menyilakan Ibnu Mas’ud untuk ikut menikmati air susu tersebut. Sang penggembala kecil itu pun meminumnya sampai kembung. Barulah terakhir, beliau sendiri meminum bagiannya.

Sesudah itu, Nabi SAW berkata, “Mengempislah.” Seketika, kantung susu anak kambing itu mengempis seperti semula, dan hewan ini berlari kembali ke kambing-kambing yang lain.

Ibnu Mas’ud sangat takjub melihat pemandangan itu. Ia langsung meminta Rasulullah SAW untuk mengajarkan kata-kata yang baru saja diucapkannya sebelum memerah anak kambing tadi.

Rasulullah SAW pun mengajarkannya beberapa ayat Alquran, terutama tentang keesaan Allah SWT. Wajah Nabi SAW tampak cerah ketika melihat anak tersebut begitu antusias mendengarkan. Ibnu Mas’ud pun mengucapkan dua kalimat syahadat, penanda bahwa dirinya menjadi Muslim sejak saat itu. Sambil mengusap-usap kepala gembala cilik itu, beliau bersabda, “Sungguh, engkau akan menjadi seorang yang cendekiawan!”

Sering kali, saat mengenang kisahnya memeluk Islam, Ibnu Mas’ud bangga dengan sebutan “orang keenam dari yang enam". Memang, dirinya termasuk golongan yang pertama-tama menjadi Muslim pada masa Rasulullah SAW.  Kelompok ini dijuluki sebagai as-sabiqunal awwalin.

Dan, saat itu jumlah kaum Muslimin baru ada lima orang. Dengan masuk Islamnya Ibnu Mas’ud, sang penggembala yang jujur itu menjadi Muslim keenam.


×