Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika
06 Aug 2021, 08:54 WIB

Tujuan Diciptakannya Manusia

Jelas bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengelola bumi.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

 

Imam Ibn Katsir dalam kitabnya Al bidayah wan nihayah menyebutkan bahwa 2.000 tahun sebelum diciptakannya manusia, Allah SWT telah menciptakan makhluk jin. Namun makhluk jin ini tidak berhasil dalam mengelola bumi.

Direkam dalam Alquran bahwa setelah beranak-pinak, makhluk jin tersebut hanya saling bertumpah darah satu sama lain. Inilah maksud yang disebutkan malaikat “ataj’alu fiiha man yufsidu fiiha wa yasfikud dimaa’.” (QS al-Baqarah: 30).

Terkait

Pertanyaan malaikat ini terjadi setelah Allah SWT mengumumkan bahwa akan menciptakan makhluk baru yang akan mengelola bumi, yaitu manusia. Allah berfirman di ayat yang sama: “Innii jaa’ilun fil ardhi khalifah”.

Pasalnya memang level intektual jin jauh di bawah level intektual manusia. Dalam riwayat disebutkan “a’qaluhum bi 'aqli shabiyyuin bi asyri siniin” (paling cerdasnya jin hanya selevel anak manusia umur sepuluh tahun).

Jadi jelas bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengelola bumi. Karena itu Allah SWT meng-upgrade kecerdasan manusia di atas kecerdasan jin.

Di saat yang sama Allah SWT mengawal jangan sampai manusia tersebut salah jalan. Sebab, kemampuan manusia untuk berinovasi jauh di atas kemampuan jin. Maka, jika manusia membuat kerusakan otomatis level kerusakan yang diperbuat di atas level kerusakan yang diperbuat jin.

 
Di saat yang sama Allah SWT mengawal jangan sampai manusia tersebut salah jalan.
 
 

Bahkan, Allah SWT menggambarkan bila manusia-manusia rusak maka kerusakan yang ia lakukan bisa jadi melebihi kerusakan yang diperbuat binatang “ulaaika kal an’aam bal hum adhallu” (mereka seperti binatang bahkan lebih sesat lagi) (QS al-A’raf 179).

Allah Maha Mengetahui tabiat manusia yang diciptakan-Nya “alaa ya’lamu man khalaqa wa huwall lathiiful khabiir” (QS al-Mulk: 14). Karena itu, Allah SWT menjaganya dan memberitahukan bahwa ada makhluk yang akan memusuhinya namanya setan “innahu lakum aduwwun mubin” (QS al-Baqarah: 168).

Memang, dari segi penciptaan manusia adalah “ahsanu taqwiim” (paling baiknya penciptaan), tapi tidak mustahil ia akan dihinakan karena kebejatannya “tsumma radadnaahu asfala saafiliin”(QS at-Tin: 4-5).

 
Jika manusia membuat kerusakan otomatis level kerusakan yang diperbuat di atas level kerusakan yang diperbuat jin.
 
 

Sungguh penjagaan-Nya sangat ketat. Itulah mengapa manusia pertama, yakni Nabi Adam AS langsung Allah pilih sebagai pemimpin, sekaligus nabi. Kepemimpinan ini dilanjutkan kemudian oleh keturunannya, Syits dan Nabi Idris.

Selama itu masih belum muncul fenomena kemusyrikan. Sekalipun tidak bisa dimungkiri adanya manusia yang berbuat dosa, seperti yang diperbuat Qabil dan pengikutnya. Sejalan dengan perkembangan jumlah manusia, Allah menambah jumlah para nabi.

Nabi terakhir adalah Rasulullah SAW. Artinya, bahwa manusia di manapun dan sampai kapan pun, dalam mengelola bumi tidak bisa tidak harus ikut panduan kenabian.


×