Foto ilustrasi tombol bitcoin saat konferensi bitcoin di Berlin, Jerman, 2014 lalu. | AP

Inovasi

10 Aug 2021, 07:17 WIB

Gelombang Pasang Aset Digital

Dalam lima tahun ke depan, ekosistem ini akan tumbuh dengan segala volatilitasnya.

Ada berbagai dinamika yang mengiringi makin populernya aset digital saat ini. Banyak orang yang tertarik menjajal memiliki, atau justru khawatir dengan tren yang saat ini terjadi.

Ada pula yang menyamakan kondisi pasar kripto saat ini, dengan Tulip Mania yang terjadi di Belanda pada 1637. Pasar yang volatil, kemudian selalu bergerak dengan cycle-nya tersendiri, memang membuat hadirnya regulasi di ekosistem kripto menjadi isu yang krusial.

CEO Binance, Changpeng Zhao, pada pembukaan Total Kripto Overview (TKO) Summit, beberapa waktu lalu, menjelaskan, saat ini perkembangan aset digital masih berada di fase sangat awal. Menurut pria yang dikenal dengan sebutan CZ ini, membangun nilai fundamental menjadi hal yang sangat penting dilakukan saat ini.

Di tengah hype tren non fungible token (NFT), misalnya. Para kreator konten, seniman, atau para pelaku yang ingin terjun di pasar NFT, sudah seharusnya berfokus pada nilai. “Jangan sekadar mencari keuntungan dalam waktu singkat. Karena dalam lima tahun ke depan, ekosistem ini akan terus tumbuh dengan berbagai pasang surutnya,” ungkap CZ.

Lansekap Regulasi

Beberapa negara di Asia pun, saat ini telah mulai serius menggodok regulasi untuk ekosistem kripto. Termasuk juga, mengakrabkan diri dengan teknologi blockchain yang ada dibelakangnya.

Di Indonesia, Chief Operating Officer (COO) Tokocrypto TK Harmanda menjelaskan, transaksi aset digital di Indonesia mengalami pertumbuhan eksponensia. Apabila pada 2020, total transaksi aset digital secara nasional mencapai Rp 60 triliun, jumlah ini langsung meningkat pesat pada 2021 dengan mencatatkan angka Rp 373 triliun.

Meski begitu, peningkatan ini tetap menempatkan pertumbuhan ekosistem blockchain dan aset digital di Indonesia di tingkat masih infant. “Pemerintah sangat support perkembangan ekosistem aset digital, salah satunya dengan menggodok hadirnya bursa kripto, lembaga kliring, dan kustodian,” ujar Manda.

Dukungan pemerintah yang terbuka pada hadirnya perkembangan teknologi blockchain dan aset digital, juga terjadi di Vietnam. Long Vuong selaku CEO Tomo Chain yang merupakan salah satu platform blockchain di Vietnam.

Menurut Vuong, sejak 2017, Pemerintah Vietnam sudah mulai membuka jalur dialog dengan para pelaku di ekosistem blockchain. “Pada 2018, pemerintah sudah mulai memiliki gambaran yang jelas tentang teknologi blockchain dan awal tahun ini, pemerintah juga telah menjajaki pemanfaatan public blockchain,” ujarnya.

Meski begitu, secara regulasi, pemerintah belum memiliki panduan yang pasti. “Mungkin dalam satu atau dua tahun mendatang,” Vuong melanjutkan.

Sementara di Filipina, CEO sekaligus founder PDAX yang merupakan platform trading aset digital, Nichel Gaba menjelaskan, saat ini di Filipina, semakin banyak lembaga tradisional yang tertarik untuk masuk ke dunia crypto currency. “Hal ini justru memberi angin segar pada perkembangan aset digital di Filipina,” ujar Nichel.

Pemerintah Filipina pun, ia melanjutkan, sangat pro aktif dalam menyikapi perkembangan ekosistem kripto yang bergulir. Salah satunya, dengan gerak cepat mengatur pasar aset digital melalui regulasi. 

Semarak NFT Gaming

photo
NFT Gaming (Ilustrasi) - (Unsplash/Jippe Joosten)

Di berbagai negara di Asia, dinamika aset kripto memiliki warnanya sendiri-sendiri. Namun, secara garis besar ada dua perkembangan yang saat ini terus menjadi perhatian.

Perkembangan kedua adalah maraknya pasar NFT. Pada Juni llau, Binance resmi meluncurkan marketplace untuk mewadahi para seniman yang ingin memasarkan karya seni digitalnya.

Sebelumnya, salah satu rekor penjualan NFT terbesar datang dari Singapura. Dikutip dari The Strait Times, Vignesh Sundaresan menjadi pemilik dari NFT termahal di dunia melalui proses lelang yang diadakan Balai Lelang Christie’s.

Sundaresan membeli NFT milik seniman Beeple yang berjudul “Everydays – The First 5000 Days”. Sambutan hangat pasar Asia terhadap NFT juga terjadi di Cina.

Mai Fujimoto yang lebih dikenal dengan nama Miss Bitcoin asal Jepang mengungkapkan, meski Cina memiliki hubungan yang panas dingin dengan ekosistem kripto, namun NFT lebih bisa diterima di sana. “Saat ini, Cina leih terbuka terhadap NFT ketimbang aset digital lainnya. Dan, menganggap NFT sebagai komoditas,” ujarnya.

Menurutnya, hal serupa juga terjadi di Jepang. Menurut Mai, popularitas NFT di negaranya sangat sejalan dengan tren gaming. “Demografi orang muda yang dominan di Jepang, membuat NFT gaming disambut dengan baik,” ungkapnya.

Kondisi ini pun dibaca pula oleh para perusahaan teknologi raksasa, seperti Sony dan Sega yang sudah berimvestasi untuk mengembangkan berbagai platform NFT gaming. Mai pun meyakini, di masa mendatang, akan semakin banyak proyek-proyek yang terkait nft gaming dan blockchain di Jepang.

Membaca Sentimen Pasar

photo
Bitcoin (Ilustrasi) - (Unsplash/Icon 8 Team)
  • Di Twitter, follower mingguan yang tertarik dengan akun-akun terkait aset digital, mengalami peningkatan dibanding tahun lalu.
  • Pada April 2021, sebelum listing Coinbase di Nasdaq, trafik di exchange aset digital mengalami peningkatan signifikan.
  • Tren ini diikuti dengan antusiasme retail untuk bisa melakukan perdagangan. Tren tersebut mencerminkan pertumbuhan hampir 200 persen dari follower mingguan tertinggi yang diraih exchange pada periode Desember 2017 hingga Januari 2018.

Volume Perdagangan

  • Secara global, volume perdagangan aset digital mengalami kenaikan pesat dibanding periode bull-run pada akhir 2017. Saat itu, tercatat volume perdagangan sebesar 10 miliar dolar Amerika Serikat (AS) menjadi 28 miliar dolar AS pada bull-run di periode April hingga Mei 2021.
  • Volume transaksi bitcoin relatif stabil sejak awal tahun, namun saat ini menunjukkan tren penurunan. Sebaliknya, transaksi ethereum menunjukkan kenaikan yang signifikan hanya pada periode April hingga Mei 2021, tepatnya ketika Berlin Hardfork akan diluncurkan.
  • Di saat yang sama, ethereum juga memperkenalkan EIP 1559, yang membuat seluruh warga Twitter terus membicarakan ethereum dari hari ke hari. Hal ini sempat membuat koin ETH menyentuh 4.200 dolar AS.

Geliat Investor Retail

  • Coinbase merupakan salah satu indikator pengguna retail terbaik karena memiliki jumlah nasabah bulanan yang bertransaksi terbanyak, pada kuartal pertama 2021.apat sekitar 3 juta nasabah per bulan yang bertransaksi pada masa bull-run di kuartal 1 2018. Namun pada kuartal pertama 2021, jumlah tersebut naik 100 persen, menjadi 6 juta nasabah per bulan.
  • Aset nasabah pada Coinbase menunjukkan peningkatan signifikan dari 30 miliar dolar AS pada kuartal ketiga 2020, menjadi 90 miliar dolar AS pada kuartal keempat 2020.
  • Tren peningkatan ini terus berlanjut menjadi 225 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2021.

Perusahaan Publik Penyimpan Bitcoin

Saat ini, tercatat Microstrategy (MSTR) menjadi perusahaan publik yang memiliki bitcoin terbanyak di dunia, tepatnya hampir setara 3 miliar dolar AS. Kemudian Tesla (TSLA) berada di posisi kedua dengan nilai lebih kuran 1,5 miliar dolar AS.

Jumlah Transaksi pada Jaringan

  • Jumlah transaksi pada jaringan bitcoin dari waktu ke waktu cenderung stabil dari sisi jumlah transaksi dalam jaringan yang terjadi. Tercatat bitcoin belum pernah menyentuh angka 500 ribu secara harian.
  • Hal ini karena timeblock Bitcoin yang sengaja distruktur lebih lambat yakni 10 menit, untuk meningkatkan faktor keamanannya.
  • Sebaliknya, ethereum dari waktu ke waktu cenderung mengalami peningkatan dari sisi jumlah transaksi dalam jaringan.
  • Dari sekitar 250 ribu transaksi pada kisaran Juli 2017 menjadi paling tinggi sekitar 1.6 juta transaksi pada kisaran Mei 2021. Peningkatan ini, sejalan dengan makin meningkatnya transaksi aplikasi terdesentralisasi (DApps) yang berjalan di atas jaringan ethereum. 

Sumber: Triv Indonesia

 
Berfokuslah pada value, jangan sekadar mencari keuntungan dalam waktu singkat.
CHANGPENG ZAO, CEO Binance
 
 

 


×