Petugas keamanan membantu warga penerima bantuan beras saat penyaluran di Kantor Pos Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (30/7/2021). Masih ditemukan warga membutuhkan yang tak mendapat bantuan sosial. | ANTARA FOTO/Makna Zaezar/wsj.

Kabar Utama

04 Aug 2021, 03:50 WIB

Risma: Marak Temuan Pungli Bansos

Masih ditemukan warga membutuhkan yang tak mendapat bantuan sosial.

JAKARTA -- Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini mengakui banyak temuan penyalahgunaan penyaluran bantuan sosial (bansos) berupa bansos tunai (BST), Program Keluarga Harapan (PKH), dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau kartu sembako. Banyaknya temuan kasus penyelewengan ini, beberapa di antaranya sedang ditangani kepolisian dan kejaksaan.

"Banyak, sekarang lagi ditangani. Ada yang ditangani Bareskrim (Kepolisian) maupun di Kejaksaan Agung," kata Risma dalam konferensi pers soal bansos di Kemensos, Selasa (3/8).

Pengungkapan dan penyelesaian pungutan liar (pungli) dan penyelewengan bansos ini, kata Risma, tidak semudah diharapkan. Sebab, pengusutan melibatkan banyak orang sebagai saksi dan banyak tenaga penyidik. Terlebih, pemeriksaan dilakukan di masa pandemi Covid-19.

Untuk kasus pungli bansos di Kabupaten Tangerang yang baru ditemukan pekan lalu, ungkap Risma, saat ini sedang berproses di Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Tangerang. "Di Kejari Kabupaten Tangerang saja perlu memeriksa 4.000 orang, jadi artinya tidak mudah memang. Butuh waktu dan butuh SDM yang cukup besar menangani ini karena saksinya cukup banyak," papar Risma.

Kasus pungli bansos di Kabupaten Tangerang terungkap setelah Mensos Risma turun langsung menemui penerima bansos. Dalam pengakuan warga, ternyata di Kabupaten Tangerang ditemukan pendamping sosial yang memanfaatkan jasa penarikan bansos melalui ATM penerima. Namun besaran uang bansos yang diserahkan dikurangi dari jatah yang ditetapkan.

Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang, Bahrudin mengatakan, pungli yang dilakukan oknum pendamping sosial ini mengambil jatah penerima bansos PKH yang pengambilannya melalui bank Himbara. Kejari Kabupaten Tangerang di Tigaraksa telah menetapkan dua tersangka penyalahgunaan dana PKH ini.

Bahrudin menyebut ada temuan lanjutan yang saat ini sedang diselidiki. Masih ada delapan oknum pendamping sosial yang melakukan pungli yang sama dari empat desa di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.

Adapun jumlah kerugian uang yang tidak disalurkan itu, untuk empat desa ini sebesar Rp 800 juta. Uang itu diambil dari kedua tersangka. Estimasi kerugian uang yang tidak disalurkan dalam bansos PKH 2018-2019 ini untuk Kecamatan Tigaraksa sekitar Rp 3,5 miliar. "Itu estimasi uang yang tidak bisa disalurkan kepada penerima PKH," paparnya.

Adapun modusnya, ungkap Bahrudin, kedua tersangka pendamping sosial ini meminta kepada KPM (Keluarga Penerima Manfaat) akan mengambilkan bantuan itu melalui ATM si penerima. “Lalu ATM itu oleh para oknum pendamping sosial ini diambil sendiri, dia gesek ke ATM sendiri. Setelah dapat jumlah dana dari ATM yang digesek itu, oknum ini menyerahkan uang kepada KPM. Namun tidak sesuai dengan apa yang digesek, jadi ada selisih," kata Bahrudin.

photo
Petugas mengangkut paket bantuan sosial (bansos) sebelum dibagikan di Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (30/7/2021). - (ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/wsj.)

Jika dilihat sekilas, selisih itu ada yang hanya Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu. Tetapi saat dijumlahkan dengan keluarga penerima manfaat yang diselewengkan, totalnya fantastis. "Untuk empat desa saja, uang yang tidak bisa digunakan atau disalurkan kedua tersangka sekitar Rp 800 juta," terangnya.

Karena itu, Bahrudin berharap kepada pendamping sosial yang diberi kewenangan penyelenggaraan bantuan sosial ini supaya melaksanakan tugas sesuai fungsi. "Kami tidak akan segan-segan menindak tegas bagi para penyelenggara bantuan sosial yang menyalahgunakan," katanya.

Pemerintah Kota Tangerang sejauh ini mencatat puluhan aduan ihwal pungli pembagian bansos dari pemerintah. Puluhan aduan itu disampaikan masyarakat lewat layanan pengaduan yang dibuat Pemkot Tangerang sejak Kamis (29/7). “Sampai dengan saat ini sudah 51 laporan,” ujar Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) Pemkot Tangerang Buceu Gartina kepada Republika, Senin (2/8).

Aduan tersebut membahas praktik pungli dalam penyaluran bansos di berbagai wilayah di Kota Tangerang, Banten. Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Deonijiu de Fatima mengatakan, pihaknya tengah menyelidiki aduan pungli bansos. “Mereka yang namanya sudah terlampir kami lakukan penyelidikan lebih dalam,” kata Deonijiu.

Tak hanya di Tangerang, pungli bansos sejak masa PPKM Darurat juga ditemukan di wilayah lain. Pemerintah Kota Jakarta Pusat saat ini tengah menyelidiki dugaan pungutan liar Rp 10 ribu terhadap warga penerima BPNT Kemensos. Sejumlah petugas RT di RW 09, Kelurahan Mangga Dua, Sawah Besar, saat ini telah diperiksa. 

"Kami sedang telusuri. Kami sudah kerahkan inspektorat ke lapangan. Kita cek dan sedang diklarifikasi apakah benar," kata Wakil Wali Kota Jakpus, Irwandi, ketika ditemui di Jakarta, Selasa (3/8). 

Irwandi menyebut, pihak inspektorat kini sedang memeriksa petugas RT yang diindikasikan sebagai pelaku pungli itu. Pemeriksaan masih berlangsung.  "Sudah terindikasi RT-nya, tapi belum bisa bilang. Kita langsung cut dan pemeriksaan. Seperak pun tidak boleh menyunat," ujarnya. 

Sebelumnya, dilaporkan terjadi pungli terhadap warga sebuah RT di RW 09, Kelurahan Mangga Dua, Sawah Besar, pada pertengahan dan akhir Juli 2021. Oknum petugas disebut meminta Rp 10 ribu per orang ketika hendak mengambil paket sembako.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Sosial RI (kemensosri)

Aparat Kepolisian Polres Metro (Polrestro) Depok juga melakukan penyelidikan terkait kasus pemotongan dana BST sebesar Rp 50 ribu di wilayah RW 05, Kelurahan Beji, Kota Depok. "Informasi tersebut akan segera kami lidik. Kami akan meminta keterangan warg dan pengurus RW," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes di Mapolrestro Depok, akhir pekan lalu.

Sedangkan, Ketua RW 05, Beji, Kota Depok, Kuseri, mengatakan bahwa donasi Rp 50 ribu yang diambil dari BST sebesar RP 600 ribu ini digunakan untuk memperbaiki mobil ambulans dan program kain kafan gratis di lingkungannya. "Warga sepakat, ada bantuan donasi ambulans untuk turun mesin, seher, ganti aki, dan lain-lain yang membutuhkan dana Rp 6,5 juta," katanya. 

Sasaran Bansos Masih Meleset

Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy melakukan sidak penyaluran bantuan sosial (bansos) kepada warga di Kabupaten Sukabumi, Selasa (3/7). Dalam kunjungannya, masih ditemukan warga membutuhkan yang tak mendapat bantuan.

photo
Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy melakukan kunjungan ke Desa Sukamantri, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Selasa (3/7/2021). - (Riga Nurul Iman/Republika)
 

Muhadjir melakukan inspeksi di Desa Sukamantri, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Selasa (3/8). “Saya lihat masih ada beberapa keluarga yang layak (dibantu) dan saya minta untuk segera ditangani," ungkap Muhadjir.

Sesuai pesan Presiden Joko Widodo, katanya, tidak boleh ada warga yang membutuhkan tapi tidak mendapat bantuan. Dalam kunjungan itu, ia berpesan kepada perangkat desa betul-betul melihat jangan sampai ada warga yang terlewat memperoleh bantuan. "Tadi ada yang warga lumpuh, tapi belum mendapatkan. Saya minta segera dieksekusi diberi bantuan," kata Muhadjir.

Muhadjir mengatakan, data warga yang tidak bisa dimasukkan sistem bank Himbara dapat diberi bantuan melalui kantor Pos. “Siapa pun warga yang bisa dibantu harus mendapatkan dan diterapkan berlapis-lapis, mulai PKH, BPNT, BST, dan kalau belum dapat kepala desa wajib bantu BLT desa," kata Muhadjir. 

Intinya, kata Muhadjir, kalau warga yang belum terjangkau bantuan Kemensos, bisa diambilkan dari dana desa maupun APBD. Harapannya semua warga yang membutuhkan bantuan memperoleh bansos.

Data penerima manfaat bansos dari pemerintah pusat untuk wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dikeluhkan sejumlah lurah dan kepala desa di daerah setempat. Selain masih ditemukan warga yang menerima bantuan dobel, tak sedikit pula warga yang semestinya berhak menerima, tetapi luput menerima bantuan.

photo
Pegawai menyerahkan bantuan beras kepada warga saat penyaluran di Kantor Pos Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (30/7/2021). Pemkot Palangkaraya mulai menyalurkan bantuan sosial tunai (BST) dan Program Keluarga Harapan (PKH) kepada 8.062 keluarga penerima manfaat masing-masing 10 kilogram beras. - (ANTARA FOTO/Makna Zaezar/wsj.)

Salah satunya, dituturkan Kepala Desa Tijayan, Kecamatan Manisrenggo, Joko Laksono, dalam pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Senin (2/8). Kepada gubernur, ia mengaku di desanya, penerima manfaat justru warga yang secara sosial dan ekonomi lebih mampu. Ada juga satu keluarga yang mendapatkan lebih dari dua bantuan.

“Ada yang punya mobil lima, namanya muncul kembali dan masuk dalam KPM-BST (Keluarga Penerima Manfaat-Bantuan Sosial Tunai), meskipun datanya sudah kita coret setelah diverifikasi. Tetapi pada penyaluran BST namanya muncul kembali,” ujar dia.

Joko juga menceritakan kisah salah satu koleganya di Desa Nanggulan, Kecamatan Cawas. Di desa itu seharusnya ada 261 KPM-PKH yang berhak. Tetapi data 40 KPM di antaranya dibatalkan. Padahal dari nama yang dibatalkan tersebut banyak yang berstatus janda. 

Kesemerawutan data bansos dari pemerintah pusat juga diamini salah satu kepala dusun di Desa Borongan, Kecamatan Polanharjo, Suyuti. Pihak pemerintah desa tidak tidak pernah dilibatkan dalam penyusunan data. “Sehnigga banyak yang dobel. Ada yang sudah dapat PKH, tapi masih dapat BST, bahkan ada satu rumah yang mendapatkan hingga lima bantuan,” ujar dia. 


×