Petugas menyiapkan tabung oksigen untuk diisi di Cibinong Gas Oxygen Filling Station, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (14/7/2021). Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan produsen oksigen telah mengalokasikan 100 persen produknya unt | ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA
03 Aug 2021, 14:41 WIB

PPKM Hantam Manufaktur

Inflasi inti pada Juli 2021 hanya 0,07 persen.

JAKARTA – Sektor manufaktur Indonesia mengalami penurunan pada Juli di tengah kenaikan kasus Covid-19 yang menyebabkan penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4. IHS Markit mencatat, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia anjlok ke posisi 40,1 pada bulan lalu. Angka itu menurun dari PMI Manufaktur pada Juni yang mencapai 53,5.

"Gelombang kedua Covid-19 dengan keras dan cepat menghantam sektor manufaktur Indonesia pada Juli. Menurut survei PMI, IHS Markit menyebabkan indeks output dan permintaan baru turun jauh ke wilayah kontraksi," ujar Direktur Asosiasi Ekonomi di IHS Markit Jingyi Pan melalui keterangan resmi, Senin (2/8).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, turunnya kinerja industri manufaktur nasional merupakan dampak penerapan PPKM Level 4. Pembatasan tersebut membuat kegiatan di semua sektor menurun.

Ia menjelaskan, pandemi masih akan terus menjadi gangguan karena kasus positif Covid-19 masih tinggi dan jumlah pasien yang wafat pun semakin banyak. Maka, kata dia, belum ada kepastian kapan industri manufaktur bisa bergerak normal.

Terkait

Dengan kondisi tersebut, menurut Hariyadi, pemerintah perlu perlu memberikan fokus terhadap sektor yang tidak terganggu dampak pandemi domestik, seperti ekspor. Kemudian, sektor industri manufaktur nonesensial yang masih berpotensi tumbuh tetap perlu mendapatkan dukungan.

Hariyadi mengatakan, upaya mengatasi pandemi juga tidak boleh kendur. Dia mengingatkan pemerintah, kasus Covid-19 terus meningkat di luar Jawa. "Penanganan pandeminya harus masif. Hanya saja, target vaksin satu juta sehari saja tidak bisa kejar dan testing masih mahal di atas Rp 700 ribu untuk PCR," kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Perindustrian RI (kemenperin_ri)

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan, dampak PPKM memang dirasakan ke permintaan industri manufaktur. Dia mengatakan, konsumsi rumah tangga rendah sehingga industri menyesuaikan kapasitas produksinya dan bahan baku menumpuk di gudang.

"Kemudian, penyekatan selama PPKM darurat pada Juli juga berpengaruh terhadap distribusi barang. Artinya ada gangguan supply chain atau keterlambatan rantai pasok," ujar Bhima.

 

Dari sisi ekspor, lanjutnya, selama Juli permintaan barang industri terpengaruh oleh varian delta yang membuat negara mitra dagang melakukan karantina wilayah. Menurutnya, jika penerapan PPKM diperpanjang, harus ada tambahan stimulus.

"Misalnya, perbesar diskon tarif listrik untuk industri. Kemudian menambah subsidi upah bagi pekerja di industri informal yang tidak memiliki BPJS Ketenagakerjaan," kata dia.

Kondisi manufaktur yang melemah dibarengi penurunan inflasi inti pada Juli 2021. Inflasi inti merupakan salah satu indikator untuk melihat kondisi permintaan dan penawaran.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Perindustrian RI (kemenperin_ri)

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menyampaikan, inflasi inti pada Juli hanya 0,07 persen. Angka itu menurun setengahnya dari bulan sebelumnya yang 0,14 persen. Adapun angka inflasi inti pada Juni sudah anjlok dari inflasi inti Mei lalu yang sebesar 0,24 persen.

"Di situ terlihat ada penurunan dari Mei ke Juni dan ke Juli, tapi nilainya masih positif," kata Margo.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, salah satu penghambat kenaikan inflasi inti, yakni komoditas emas perhiasan yang memberikan andil 0,01 persen. Sementara itu, pendorong inflasi inti di antaranya obat dan resep 0,003 persen, sabun detergen 0,002 persen, serta sabun mandi cair, deodoran, dan obat gosok 0,001 persen.

Meski inflasi inti mengalami penurunan, BPS mencatat, terjadi kenaikan inflasi pada Juli. Pada bulan lalu inflasi tercatat 0,08 persen naik dari bulan sebelumnya yang anjlok hingga deflasi 0,16 persen.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kondisi inflasi pada Juli 2021 belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan daya beli. Terlebih lagi, pada bulan lalu pemerintah mulai menerapkan PPKM.

"Memang inflasi inti bukan indikator tunggal. Perlu dicek dengan data-data lain, seperti indeks penjualan riil, kalau itu nanti juga turun bisa diambil kesimpulan daya beli belum kembali," katanya.


×