ILUSTRASI Ibnu Arabi, seorang pemikir besar yang menyumbangkan banyak gagasan untuk dunia tasawuf. | DOK WIKIPEDIA
01 Aug 2021, 04:47 WIB

Jalan Sufi Ibnu 'Arabi dari Andalusia

Ibnu ‘Arabi memilih jalan tasawuf walau dirinya berpeluang menjadi pejabat.

OLEH HASANUL RIZQA

Ibnu 'Arabi (560-638 H) merupakan seorang tokoh besar dalam sejarah Islam. Pemikirannya begitu memengaruhi dunia tasawuf bahkan hingga kini.

 

 

Terkait

 

Para pemerhati sejarah Islam biasanya mengenal dua sosok bernama “Ibnu ‘Arabi". Yang pertama memiliki nama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Muhammad al-‘Arabi al-Ma’arify.

Ulama kelahiran Isybily—Sevilla, Spanyol kini, pada tahun 468 Hijriyah itu menulis Tafsir Ahkam al-Qur’an. Kitab itu dipandang sebagai referensi utama dalam kajian Mazhab Maliki atas tafsir ayat-ayat hukum.

Sosok yang pernah berguru pada Imam al-Ghazali itu mempunyai banyak murid. Beberapa di antaranya ialah Qadi Iyadh penulis kitab Asy-Syifa’ dan filsuf Muslim Ibnu Rusyd. Ia wafat pada 543 H dan dimakamkan di Fez, Maroko.

Adapun “Ibnu ‘Arabi” yang kedua dan, barangkali, juga lebih populer sering disebut dengan Ibnu ‘Arabi saja —tanpa awalan “al-". Muhammad al-Fayyadl menjelaskan dalam Teologi Negatif Ibn ‘Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan (2012), tokoh ini lahir pada 17 Ramadhan 560 H atau 28 Juli 1165 M. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin ‘Arabi al-Tha’i al-Hatimi.

Ahli filsafat dan tasawuf itu berasal dari Mursia, Andalusia (Spanyol) bagian tenggara. Pemikirannya yang luas dan kontemplatif menjadi perbincangan di tengah para sarjana bukan hanya pada masanya, tetapi juga zaman modern. Islam Digest Republika kali ini membahas sufi berjulukan Syekh al-Akbar (sang mahaguru) tersebut.

Andalusia mulai menjadi wilayah kekuasaan Muslim sejak awal abad kedelapan Masehi. Hingga abad ke-11, peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya di kawasan Semenanjung Iberia tersebut. Barulah pada abad ke-12 Masehi, daulah Muslimin setempat mulai terancam kerajaan-kerajaan Kristen.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Dalam konteks zaman itulah, Ibnu ‘Arabi tumbuh dan mendewasa. Ia berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Ayahnya merupakan seorang pembesar di pemerintahan Dinasti al-Muwahhidun. Darah ningrat juga mengalir dalam dirinya.

Dari garis ibu, lelaki ini mempunyai seorang paman, Yahya bin Yughan al-Shanhaji, yang menjadi pangeran di Tlemcen—kini Aljazair barat. Dalam sebuah tulisannya, Ibnu ‘Arabi menceritakan, sang paman sempat bergelimang harta dan kekuasaan sebelum akhirnya memilih jalan sufi.

Al-Fayyadl menuturkan, faktor keluarga menjadi anugerah tersendiri bagi Ibnu ‘Arabi. Keturunan Bani Tayyi tersebut bisa terhindar dari suasana politik yang tidak menentu saat itu di Andalusia. Sejak masih anak-anak, ia pun memperoleh pendidikan yang sangat baik.

Sebenarnya, peluangnya besar untuk menjadi seorang pejabat di istana al-Muwahhidun, mengikuti jejak bapaknya. Akan tetapi, hati dan jiwanya lebih lebih tertarik pada dunia ilmu-ilmu agama.

 
Sebenarnya, peluang Ibnu 'Arabi besar untuk menjadi seorang pejabat di istana al-Muwahhidun, mengikuti jejak bapaknya.
 
 

Pada 568 H, keluarganya pindah dari Marsia ke Isybily. Inilah awal kehidupan intelektualnya. Ibnu ‘Arabi adalah pemuda yang sangat pintar. Saat berusia delapan tahun, ia telah mempelajari Alquran dan fikih. Kecerdasannya menarik perhatian orang-orang istana. Sewaktu masih remaja, dia didaulat menjadi sekretaris beberapa gubernur.

Di Isybily, Ibnu ‘Arabi untuk pertama kalinya bertemu dengan Ibnu Rusyd atau Averroes, yang juga teman dekat ayahnya. Kepadanya, ia pun belajar banyak hal. Di kemudian hari, ajaran-ajaran filsafat Averroes mempengaruhi pemikirannya walaupun tidak mengekor persis.

Selain Ibnu Rusyd, sejumlah ulama juga pernah menjadi gurunya. Sebut saja, Abu Bakr bin Muhammad bin Khalaf al-Lakhmy, Abu al-Qasim al-Syarrath, dan Ahmad Abi Hamzah. Di samping itu, ada Ali bin Muhammad bin al-Haq al-Isybily, Ibnu Zarqun al-Anshari, dan Abdul Mun'im al-Khazraji.

Dalam menuntut ilmu, Ibnu ‘Arabi cenderung bersikap kritis dan menghindari taklid. Setiap ajaran dari para gurunya itu ia cermati dan cerna dengan sungguh-sungguh. Pemikirannya pun terasa sangat orisinal. Hal itu tampak, umpamanya, dari salah satu kitab karyanya, Al-Futuhat al-Makkiyyah, yang berisi hasil telaahnya atas sejumlah gagasan guru-guru sufinya.

 
Dalam menuntut ilmu, Ibnu ‘Arabi cenderung bersikap kritis dan menghindari taklid.
 
 

Saat berumur 20 tahun, Ibnu ‘Arabi mulai menekuni tasawuf. Itu berawal dari kesadaran yang dialaminya pada suatu hari jelang shalat subuh. Ia menyadari, selama ini dirinya terlalu terlena oleh kehidupan duniawi.

Dalam salah satu karyanya, Fushush al-Hikam, Ibnu ‘Arabi mengisahkan pertobatannya pada usia tersebut. Dini hari itu, sesudah suntuk bersenang-senang, ia dan kawan-kawannya merasa lelah.

Namun, azan Subuh telah berkumandang. Mereka pun berwudhu selekas mungkin—yang rasanya kurang layak disebut berwudhu. Teman-temannya mau agar shalat Subuh dilakukan di rumah saja dengan membaca surah yang sangat pendek, seperti al-Kautsar. Entah mengapa, Ibnu ‘Arabi ingin berbeda, shalat di masjid.

Dalam perjalanan ke masjid, Ibnu ‘Arabi menceritakan, dia membayangkan suasana yang akan dijumpainya. Yang membuatnya gelisah bukanlah bahwa shalat berjamaah sudah selesai begitu ia tiba di sana. Akan tetapi, hatinya risau saat memikirkan, shalat ternyata masih berlangsung sehingga ia menjadi jamaah masbuk di belakang imam.

Kalau begitu, satu dari dua hal mungkin akan terjadi. Pertama, shalatnya tidak akan khusyuk karena pikirannya teringat akan waktu yang baru saja dihabiskannya bersama kawan-kawan. Alunan musik tadi malam seolah-olah masih terngiang di kepalanya.

“Hingga nanti aku tak tahu lagi apa yang dilakukan imam atau yang dibaca orang-orang yang bershalat itu, selain cuma melihat mereka melakukan sesuatu dan mengikuti gerakan mereka,” tulisnya.

Kedua, ia akan terserang rasa kantuk berat lantaran kurang tidur semalam. Kalau demikian, shalatnya pun tetap tidak akan khusyuk karena dirinya pasti menginginkan imam cepat-cepat menyelesaikan shalat.

“Bacaan yang panjang akan terdengar melelahkan dan aku mulai mencercanya (imam) dalam hati, ‘Seharusnya dia tidak membaca surah al-Hasyr atau al-Waqi‘ah! Tidak bisakah dia membaca surah al-Infithar atau al-Fajr?’” lanjutnya.

 
Umurnya masih belia tatkala mengaku telah mendapatkan rahasia tentang jalan tasawuf yang akan dijalaninya.
 
 

Memikirkan semua kemungkinan itu justru membuatnya tersadar. Pikirannya menginsafi, betapa jauh dirinya dari ketaatan beribadah. Ada saja sesuatu yang menghalanginya dari kekhusyukan. Ibnu ‘Arabi pun menyesali apa-apa yang telah diperbuatnya. Dalam usia semuda itu, ia memulai fase panjang dalam hidupnya sebagai seorang penempuh jalan spiritual (salik).

Penyesalan (tawbah) yang dialami Ibnu ‘Arabi itu diikuti dengan pencerahan (fath) yang diperolehnya. Hal itu setelah dia beruzlah, menyingkir dari hiruk-pikuk dunia selama 40 bulan. Umurnya masih belia tatkala mengaku telah mendapatkan rahasia tentang jalan tasawuf yang akan dijalaninya.

Al-Fayyadl mengatakan, Ibnu ‘Arabi berkali-kali mengaku dihantui kegagalan dalam upayanya mengenal Allah SWT. Perkenalannya dengan Allah dialaminya begitu sendiri, tanpa kehadiran siapa-siapa. Sang sufi bahkan tidak memiliki seorang guru pun yang dapat membimbingnya.

Satu-satunya “guru” yang memperkenalkan Ibnu ‘Arabi kepada Tuhan adalah Nabi Isa AS, yang ditemuinya dalam mimpi. Pertemuan itu, lanjut al-Fayyadl, terjadi tidak secara fisik, seperti umumnya yang dialami kaum salik. Untuk mengenal Allah, sosok berpredikat al-Muhyiddin (sang penghidup agama) itu tidak memiliki perantara apa-apa selain kesungguhan dan usaha kerasnya dalam beribadah.

 
Menurut Ibnu ‘Arabi, dia mengambil sikap zuhud karena dimotivasi oleh Nabi Isa. Seluruh kekayaan materiil pun ditinggalkannya.
 
 

Menurut Ibnu ‘Arabi, dia mengambil sikap zuhud karena dimotivasi oleh Nabi Isa. Seluruh kekayaan materiil pun ditinggalkannya. Dengan menepikan ambisi duniawi, ia dapat berfokus seutuhnya pada penghambaan terhadap Allah Ta’ala. Dengan itu, ahli ilmu suluk tersebut menegasikan diri dari apa pun yang bukan Allah dan menyerahkan hidupnya semata-mata untuk Rabnya.

Al-Fayyadl memaparkan, Ibnu ‘Arabi dalam pelbagai tulisannya menegaskan pentingnya maqam pengabdian dalam pencarian Tuhan. Penggagas konsep al-Haq wa Khalq itu memandang, derajat pengabdian selalu mengungguli semua derajat lain yang mungkin dicapai seorang salik. Sebab, penghambaan membawa seseorang kepada “ketiadaan ontologis” yang merupakan kondisi asal keberadaannya.

Tidak ada derajat lain yang menandingi pengabdian seorang hamba Allah. Mengapa demikian? Karena pengabdian membawa hamba pada “ketiadaan ontologis” yang merupakan asal keberadaannya.”

Untuk mencapai derajat itu, seseorang mesti melepaskan sama sekali atribut apa pun yang dimilikinya selain “hamba Allah". Semakin seseorang menegasikan dirinya hingga mencapai titik tujuan, yakni menjadi seorang hamba Allah, semakin terbuka pula kemungkinan baginya untuk lebih mengenal Tuhan.

photo
Kawasan kompleks makam Ibnu Arabi di Damaskus, Suriah. Sufi tersebut mengalami pencerahan tatkala berusia 20 tahun. - (DOK WIKIPEDIA)

Seperti sering diungkapkan, tasawuf pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk mengenali diri. Kaum sufi kerap berujar, “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbah.” Siapa saja yang mengenal dirinya sendiri, maka ia telah mengenal Tuhannya. Mengenali diri hanya sebagai seorang hamba Allah, itulah derajat yang utama menurut Ibnu ‘Arabi.

Selain tawbah dan fath, pengamal tasawuf itu juga mengalami masa yang disebut sebagai fatrah. Istilah itu sesungguhnya terinspirasi dari kondisi “keterputusan wahyu” atau terputusnya pengiriman rasul-rasul.

Sebagai contoh, masa fatrah antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW ialah sekira 600 tahun. Karena itu, periode tersebut akan selalu merisaukan atau membuat hati para orang beriman gundah-gulana. Begitu datang utusan Allah yang dinanti-nanti, suka citalah mereka semua.

Terminologi demikian juga dipakai untuk menjelaskan pengalaman sufistik. Menurut al-Fayyadl, fatrah dalam hal ini dipahami sebagai masa-masa diskontinuitas seorang sufi dengan Allah, tatkala Sang Kekasih seolah tak lagi memedulikannya. Itulah yang pernah dialami Ibnu ‘Arabi. Ia merasa, Tuhan tidak lagi hadir kepadanya walaupun dirinya selalu berdoa dan zikir. Sungguh berat kesedihan yang dirasakannya saat itu.

Namun, di saat kritis demikian Allah menyelamatkannya. Rihlah Ibnu ‘Arabi dalam mencari Tuhan kian dimudahkan-Nya. Beberapa kali dirinya mendapatkan anugerah, yakni mimpi berjumpa dengan para nabi dan rasul. Bahkan, sang sufi juga mengaku pernah bermimpi melihat Hari Kiamat dan memasuki “Bumi Hakikat”, yakni tempat arwah para nabi dan rasul Allah. Di sanalah rahasia tentang hakikat ruh dan raga tersingkapkan untuknya.

 


×