Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika
30 Jul 2021, 10:57 WIB

Meraih Kelembutan Hati

Perjuangan kita adalah bagaimana melembutkan hati karena masalah kehidupan muncul dari hati yang keras.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

 

Dalam Alquran Allah SWT menyebutkan hati yang lembut dengan istilah qalbun salim (QS asy-Syu'ara:89). Sementara hati yang keras disebut dengan istilah qalbun qaasii (QS al-Baqarah: 74).

Perjuangan kita adalah bagaimana melembutkan hati. Sebab semua permasalahan kehidupan yang muncul, asal muasalnya dari hati yang keras. Semua amal yang kita perbuat akan tertolak, selama hati yang mengantarkannya masih keras. Ia melakukannya dengan kesombongan.

Terkait

Dalam dirinya masih ada hasud dan dengki. Setiap kebaikan yang dikerjakan penuh dengan riya' (ingin dipuji orang). Inilah perjuangan yang paling berat. Sebab, hidup bukan sekadar untuk beramal, tetapi bagaimana supaya dalam setiap amal diiringi oleh hati yang lembut.

Alquran selalu berbicara tentang hati. Para ulama tidak pernah bosan membahas masalah hati. Itu tidak lain supaya hati ini selalu lembut. Mudah tersentuh oleh ayat Alquran sehingga tergetar. Mudah mendapatkan nasihat sehingga tunduk kepada-Nya. Mudah merasa diri banyak kekurangan sehingga tidak sombong. Mudah terenyuh dengan penderitaan orang lain, sehingga berbagi.

Nabi SAW mengajarkan doa: "Ya muqallibal quluub tsabbit qalbi alaa diinika" (Wahai Dzat pembalik hati, kokohkan hatiku ini di atas agama-Mu). (HR Ahmad).

Hati dalam bahasa Arab disebut qalbun dari kata qallaba yuqallibu (berbolak-balik). Memang tabiat hati berbolak balik.

Boleh jadi di pagi hari seseorang masih beriman, tiba-tiba di sore hari hatinya berbalik menjadi kafir. Boleh jadi seseorang masih bergelimang dosa, lalu tiba-tiba tersadar dan mengambil air wudhu. Setelah itu ia menegakkan shalat dan pada saat sujud ternyata itulah sujudnya yang terakhir. Allah yang menguasai hatinya, membuatnya husnul khatimah dalam sujud.

Karena itu lembutkanlah hati kita. Jangan mudah menghakimi orang lain sebagi ahli neraka. Justru yang paling baik kita menyadari diri berdosa seperti yang dicontohkan Nabi Adam dan Ibunda Hawa yang mengatakan: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS al-A'raf: 23).

Perhatikan Nabi Hud AS, ketika dalam perut ikan, ia segera menyucikan Allah SWT dan mengakui diri berbuat zalim: "laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadz dzaalimiin." (QS al- Anbiya: 87).

Dikisahkan bahwa di Masjid Nabawi ada seseorang yang belum fasih membaca Alquran. Setiap hari ia datang ke masjid hanya untuk menyimak bacaan Alquran dari orang lain.

Hari itu ia datang membawa Alquran. Lalu ia minta tolong pada seseorang agar membacakan untuknya. Ternyata itulah hari terakhir ia menyimak bacaan Alquran. Di saat itu ia kembali kepada Allah. Hati yang lembut akan selalu mengakhiri dirinya dengan kehidupan terbaik.


×