Pekerja menjemur jagung di Desa Topore Kecamatan Papalang, Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (12/4/2021). Harga jagung di tingkat petani mengalami kenaikan dari harga Rp3.200 naik menjadi Rp3.800 per kilogram akibat kurangnya produksi panen dan tingginya perm | ANTARA FOTO/Akbar Tado

Ekonomi

26 Jul 2021, 10:25 WIB

Harga Jagung Turun Mulai Oktober

Harga jagung pipil kering kadar air 15 persen di tingkat petani saat ini berkisar Rp 5.000 per kg.

JAKARTA -- Situasi kenaikan harga jagung diperkirakan mulai mereda pada Oktober mendatang seiring masuknya musim panen raya di dalam negeri. Meski demikian, penurunan harga jagung ketika panen akan sangat bergantung pada faktor cuaca yang dihadapi menjelang akhir tahun.

Ketua Dewan Jagung Nasional Tony J Kristianto mengatakan, masalah jagung terutama soal harga yang mahal hingga akhir tahun ini akibat masalah produksi yang kurang optimal. Itu disebabkan oleh faktor musim hujan lebat yang panjang sehingga hasil penanaman kurang berhasil.

"Itu sebabnya terjadi kekurangan produksi dan tampaknya ini sudah diprediksi oleh pabrik-pabrik pakan ternak besar sehingga selama ini mereka terus memborong jagung," kata Tony kepada Republika, Ahad (25/7).

Harga jagung pipil kering kadar air 15 persen di tingkat petani saat ini berkisar Rp 5.000 per kg, jauh di atas harga acuan pemerintah Rp 3.150 per kg. Sementara itu, di tingkat konsumen atau pengguna jagung untuk pakan ternak, harga jagung sudah tembus di atas Rp 5.500 per kg. Hal itu berdampak pada tingginya harga pakan ternak unggas.

Aksi memborong jagung itu demi mengamankan kebutuhan jagung hingga musim panen raya kedua pada Oktober. Sementara itu, bagi perusahaan perunggasan terintegrasi kebanyakan sudah memiliki kontrak produksi jagung tersendiri demi menjaga keberlanjutan ketersediaan bahan baku pakan.

Situasi saat ini berdampak negatif pada peternak-peternak unggas mandiri yang membutuhkan jagung untuk kebutuhan pakan, tapi tidak memiliki daya tawar untuk bisa mengamankan pasokan jagung.

"Peternak mandiri yang kalang kabut. Selain dipukul harga jagung dan pakan yang tinggi, harga ayam hasil produksinya juga tidak naik-naik karena konsumsi sedang melemah," ujar dia.

Selain karena produksi yang belum optimal, Tony menilai, kebijakan PPKM turut berdampak pada kenaikan biaya logistik jagung antardaerah. Mobilitas yang diperketat meningkatkan biaya angkut dan berdampak pada harga jual jagung.

Opsi impor jagung ataupun produk substitusi seperti gandum, menurut Tony, belum menjadi opsi ideal. Pasalnya, kata Tony, situasi harga dunia masih cukup tinggi. Di satu sisi, industri pakan ternak ataupun peternak juga harus mengubah formula pakan yang dapat berdampak pada kualitas pakan ternak.

Tony menilai, tidak ada pilihan untuk saat ini selain menunggu harapan penurunan harga jagung pada Oktober mendatang. Ia pun memprediksi, produksi jagung pipilan kering pada tahun ini kemungkinan sama seperti tahun lalu, yakni di kisaran 11-12 juta ton.

Stok beras

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memastikan stok beras hingga akhir tahun dalam kondisi aman. Mengacu pada data BPS yang diolah Kementerian Pertanian, produksi beras pada Juni mencapai 2,59 juta ton ditambah stok yang ada menjadi 10,6 juta ton. Kemudian, stok akhir Desember 2021 diproyeksikan mencapai 9,6 juta ton.

“Dari data yang ada alhamdulillah bagus, artinya kesiapan kita, stok beras kita secara nasional dalam kondisi yang baik dan mencukupi," kata Syahrul, akhir pekan lalu.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi mengungapkan, saat ini beberapa wilayah di Indonesia tengah memasuki waktu panen. Di Kabupaten Bekasi, misalnya, diprediksi sepanjang Juli ini akan panen hingga 4.458 hektare dengan estimasi produksi hingga 26.748 ton GKG.

“Di lokasi panen ini saja ada 50 hektare yang siap panen, dengan varietas inpari 32 produktivitas di sini bisa mencapai 6 ton GKP per hektare,” kata Suwandi. 


×