Relawan dari Siam Nonthaburi Foundation membawa peti jenazah berisi korban Covid-19 di kuil Wat Ratprakongtham, Nonthaburi, Thailand, Senin (12/7/2021). | AP/Sakchai Lalit
26 Jul 2021, 03:50 WIB

Indonesia tak Sendiri 

Pemerintah Thailand juga menuai kecaman karena gagal mengamankan pasokan vaksin yang signifikan.

OLEH FERGI NADIRA 

Indonesia bukan satu-satunya negara yang sedang menghadapi lonjakan kasus Covid-19 dan harus menjalankan pengetatan pembatasan aktivitas masyarakat. Beberapa negara di Asia Tenggara (ASEAN) juga tengah dihantam badai Covid-19.

Thailand, Malaysia, dan Singapura dalam beberapa hari terakhir mencatatkan rekor kasus baru Covid-19. Penyebaran Covid-19 di Thailand membuat sistem kesehatan di sana kolaps.

Ada banyak pasien yang tak bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit. Bahkan, ditemukan sedikitnya tiga kasus warga terinfeksi Covid-19 yang meninggal dan terlantar berjam-jam di jalan. 

Terkait

Menurut catatan Pemerintah Thailand, terdapat 15.335 kasus Covid-19 baru dalam sehari hingga Ahad (25/7) waktu setempat yang membuat jumlah total kasus Covid-19 mencapai 497.302 kasus. Adapun jumlah kematian akibat Covid-19 dalam 24 jam terakhir sebanyak 129 jiwa. 

Naiknya jumlah kasus dan kematian Covid-19 membuat Pemerintah Thailand memberlakukan pembatasan ketat di Ibu Kota. Bangkok dan provinsi sekitarnya telah dikunci hampir dua pekan.

Pembatasan lebih lanjut pada pergerakan dan jam malam diterapkan juga pada pekan ini, yakni menutup semua mal dan toko kecuali supermarket, toko serbaada dan apotek. Pada Jumat, semua taman umum, salon rambut, toko tukang cukur, dan sebagian besar ruang publik ditutup.

photo
Seorang pria berjalan di depan toko yang tutup di kawasan bisnis utama, Bangkok, Thailand, Senin (12/7/2021). Pemerintah Thailand memberlakukan penguncian ketat di Bangkok dan lima provinsi lain selama 14 hari dan memperketat protokol kesehatan mulai 12 Juli 2021. EPA-EFE/NARONG SANGNAK - (EPA)

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menilai, ada kesamaan antara Thailand dan Indonesia terkait penanganan Covid-19. Salah satunya adalah cakupan tes Covid-19.

Menurut dia, cakupan tes di Thailand yang masih sangat rendah. Bahkan, sejak memasuki 2021, cakupan tes Covid-19 di negara tersebut hanya memasuki batas minimal dari yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Oleh karena itu, tutur dia, hal ini bakal menjadi sangat berbahaya. Angka kematian Covid-19 yang melejit di Thailand menunjukkan ada kasus yang tidak terdeteksi di dalam komunitasnya.

Kendati demikian, Thailand telah merespons pertahanan kesehatannya dengan menerapkan lockdown atau karantina wilayah hingga pembatasan yang jauh lebih ketat daripada Indonesia. Namun, upaya itu, menurut Dicky, masih harus terus digalakkan, mengingat varian Delta yang menyebar luas di negara tersebut seperti halnya di Indonesia.

"Ini perang panjang, tidak bisa kalau tidak dijaga kontinuitasnya dengan 3 T, bisa ambrol, dan pertahanannya akan ambrol," ujarnya.

Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-o-cha sebelumnya telah menyatakan keprihatinan terhadap warganya yang meninggal akibat Covid-19 karena tidak menerima perawatan tepat waktu. Dia langsung menginstruksikan semua instansi terkait untuk mengatasi masalah tersebut.

"Kita harus memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi jumlah kasus terinfeksi yang menunggu ambulans di rumah atau di jalan-jalan. Semua harus menemukan cara untuk membawa orang-orang ini ke rumah sakit lapangan," kata dia, pertengahan pekan lalu, dikutip dari laman Bangkok Post.  

PM Thailand membuat pernyataan tersebut menyusul adanya protes rakyat atas keterlambatan pihak rumah sakit maupun pemerintah dalam mengurus jasad pasien Covid-19. Somboon Kwan-on, kepala Unit Penanggulangan Bencana Yayasan Poh Teck Tung, dalam sebuah wawancara telepon dengan Associated Press mengatakan, timnya telah mengumpulkan delapan hingga 10 jasad sehari.

Satu dari tiga orang yang terpapar Covid-19 ditemukan meninggal di sebuah jalan di Distrik Phra Nakhon pada Selasa (20/7) malam lalu. Pemandangan tubuh yang diselimuti kain putih dan tergeletak di jalan yang tidak terurus selama hampir 12 jam di Ban Phan Thom dari Distrik Phra Nakhon memicu kemarahan publik.

Pria itu diidentifikasi sebagai Somkiat Ruenkao (50 tahun). Ia adalah seorang petugas parkir mobil di Wat Bowon Niwet. Polisi menerima telepon bahwa ada seorang pria yang pingsan di jalan pada Selasa (20/7) pukul 11.00 waktu setempat.

Tim medis dan petugas evakuasi kemudian tiba dengan membawa fasilitas oksigen. Namun upaya itu sia-sia karena Ruenkao tidak tertolong. 

photo
Pekerja mengisi ulang oksigen ke dalam tabung untuk kebutuhan medis di PT Spectro Gas Industri di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu (24/7/2021). Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menerima pengiriman 250 ton oksigen cair secara bertahap yang dibeli dari Sarawak, Malaysia dan diangkut dengan menggunakan ISO Tank milik PT Spectro Gas Industri untuk memenuhi kebutuhan oksigen di rumah sakit rujukan Covid-19 di Kalimantan Barat. - (ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANG)

Hal itu pun mendorong polisi untuk memanggil ahli forensik dari Rumah Sakit Vajira untuk memeriksa. Yayasan Por Teck Tung mengambil jasad pada pukul 22.00 dan membawanya ke Rumah Sakit Vajira untuk diautopsi. "Pria itu mengidap Covid-19," kata juru bicara Biro Kepolisian Metropolitan Piya Tawichai.

Juru bicara itu juga menginformasikan bahwa ada jasad kedua yang diidentifikasi bernama Seri Ruengrojanarit (59 tahun) dari Rayong, yang ditemukan di Ratchadamnoen Avenue. Petugas forensik Rumah Sakit Vajira tiba untuk memeriksanya pada pukul 19.15 dan tim penyelamat Por Teck Tung mengirimkannya ke rumah sakit tempat tes Covid-19 dilakukan.

Jasad ketiga yang diidentifikasi oleh polisi bernama Bangpot Jermjenkarn (81 tahun). Ia ditemukan di Wat Suthat Thepphawararam di daerah Sao Chingcha. 

Thailand merawat dan mengisolasi siapa pun yang ditemukan positif terkena virus di rumah sakit, sehingga membebani jumlah tempat tidur yang tersedia. Wakil Juru Bicara Pusat Administrasi Covid-19 Pemerintah Apisamai Srirangsan mengatakan, hampir 4.000 pasien Covid-19 berada di unit perawatan intensif pada Jumat (23/7). "Sebanyak 900 orang harus menggunakan ventilator," kata Apisamai Srirangsan.

Sementara itu, lebih dari 20 ribu orang di wilayah Bangkok masih menunggu di tempat perawatan Covid-19, tidak termasuk lebih dari 2.500 orang yang diisolasi di rumah atau di lingkungan komunitas. Di Bangkok saja, ada 70 orang yang masih menunggu di ruang perawatan dalam kondisi kritis.

Direktur Erawan Medical Center, Porntep Saeheng mengatakan, pihaknya menerima sekitar 2.000 panggilan per hari dari pasien Covid-19. Lebih dari 3.000 kasus yang ditangani di pusat medis tidak bisa mendapatkan tempat tidur di pusat pra-penerimaan.

Serupa dengan yang terjadi di Indonesia, Thailand berperang melawan keterkurangan oksigen. Seorang pekerja di Yayasan Cermin nirlaba, Thanapon Songput telah menyediakan tangki oksigen untuk pasien Covid-19 di sekitar ibu kota Thailand dalam sebulan terakhir. Kelompok ini mengalokasikan hingga 90 tangki untuk sekitar 15 pasien per hari, tetapi permintaan yang luar biasa telah membuat upayanya hampir sia-sia.

Thanapon mengatakan, satu pasien meninggal ketika dia menelepon untuk meminta bantuan dari yayasan. "Kami tidak pernah bisa bekerja cukup cepat. Kami memintanya untuk menunggu, tetapi sudah terlambat," katanya dikutip laman South China Morning Post, Ahad. 

Pemerintah Thailand juga mendapat kecaman karena kegagalannya mengamankan pasokan vaksin yang signifikan. Negara tersebut telah memberikan sekitar 15,38 juta dosis vaksin. Sekitar 11,8 juta orang, atau 17,1 persen dari 69 juta penduduk negara itu, telah menerima setidaknya satu dosis.

Pekan lalu, aksi unjuk rasa menuntut pengunduran diri Prayuth Chan-o-cha karena kegagalannya menangani pandemi. Para pengunjuk rasa meminta pemerintah meningkatkan anggaran untuk penanganan Covid-19 dan mengalihkan vaksin utama ke yang menggunakan teknologi mRNA, seperti Pfizer atau Moderna.

Di negara ASEAN lainnya, Malaysia juga sedang menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Meski sudah melakukan lockdown sejak awal Juni, kasus Covid-19 tetap melonjak. Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan ada 17.045 kasus baru pada Ahad (24/7). Jumlah itu merupakan yang tertinggi semanjak pandemi melanda Malaysia. 

"Infeksi varian Delta sudah ada di masyarakat dan ini sangat mengkhawatirkan," kata Ketua Komite Perumahan dan Kesehatan Malaysia Izani Husin, seperti dilansir Strait Times, kemarin.

Adapun Singapura yang sebelumnya memulai kampanye untuk hidup berdampingan dengan Covid-19, terpaksa kembali memberlakukan lockdown hingga pertengahan Agustus. Kebijakan itu diambil karena kasus Covid-19 melonjak lagi. Pada 18 Juli, misalnya, Singapura mencatatakan 88 kasus baru yang merupakan tertinggi sejak Agustus tahun lalu.


×