Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika
25 Jul 2021, 07:40 WIB

Batu Ujian dan Gerakan Filantropi Muhammadiyah

Meski menerima bantuan, Muhammadiyah tetap kritis.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Di akun Instagram tertanggal 20 Juli 2021, Jokowi menyebut pandemi Covid-19 sebagai ujian yang berat dan nyata. Pernyataan ini mengulang pernyataan serupa yang dilontarkan Jokowi pada 23 Juni 2021 di akun Youtube Sekretariat Presiden.

Dulu, ada batu hitam yang disebut batu ujian. Batu ini banyak ditemukan di Silesia, Eropa Tengah. Menurut kimiawan Belanda (1802-1880) GJ Mulder, batu ujian ini digunakan untuk menggosok emas dan tembaga, sehingga seseorang bisa membedakan keduanya.

Bintang Timoer edisi 11 Desember 1926 menurunkan tulisan berjudul “Batoe Oedjian”. Tulisan ini membahas langkah yang harus diambil Gubernur Jenderal de Graef, yaitu mengampuni anggota PKI yang divonis hukuman mati oleh pengadilan dan membuang anggota PKI ke Bovel Digul.

Terkait

Pada 1941, di Soeara Moehammadijah No 7, ada tulisan berjudul “Menghadapi Batoe Oedjian”. Isinya tentang ide penerbitan perangko amal Muhammadiyah yang meniru penerbitan prangko amal oleh misi Katolik dan Kristen. Seluruh isi Soeara Moehammadijah No 7 ini memang membahas penerbitan prangko amal yang berlaku hingga Juli 1942 itu.

Batu ujian yang semula bermakna batu untuk menguji kemurnian emas, ternyata juga mempunyai makna kias: cobaan. Ketika Muhammadiyah --yang didirikan pada 8 Dzulhijjah 1330 H—menerbitkan prangko amal, saat itu bangsa Indonesia masih mempunyai batu ujian berupa kesehatan, pendidikan, dan kemiskinan.

 
Ketika Muhammadiyah menerbitkan prangko amal, saat itu bangsa Indonesia masih mempunyai batu ujian berupa kesehatan, pendidikan, dan kemiskinan.
 
 

Pada dekade 1930-an, sekolah-sekolah yang didirikan oleh orang-orang Indonesia dicap oleh pemerintah kolonial sebagai sekolah liar. Termasuk di dalamnya pesantren yang dikelola NU dan sekolah yang dikelola Muhammadiyah.

Anggaran keagamaan yang ditetapkan pemerintah kolonial pada 1935 mencapai 1,146 juta gulden. Namun, untuk Islam hanya mendapat 7.500 gulden (satu persen). Protestan menerima 804 ribu gulden (70 persen), Katolik mendapat 335 ribu gulden (29 persen).

Muhammadiyah mulai menggugat ketimpangan anggaran pada 1928. Tahun itu, anggaran keagamaan mencapai 1,6 juta gulden, tetapi anggaran untuk Islam hanya 3.950 gulden. Muhammadiyah memprotes karena pemerintah mendapatkan uang dari orang-orang Indonesia yang mayoritas Muslim.

Muhammadiyah kemudian mengubah strategi, yaitu menerima kurikulum dari pemerintah. Taman Siswa dan pesantren tetap menolak kurikulum dari pemerintah.

Muhammadiyah lantas menerima bantuan dari pemerintah. Pada 1936 mendapat 63 ribu gulden (57 persen dari total pendapatan Muhammadiyah). Pada 1940 menerima hampir 102 ribu gulden (48 persen dari total pendapatan Muhammadiyah).  

Bantuan itu digunakan Muhammadiyah untuk sekolah, klinik, rumah yatim, dan rumah miskin. Pilihan Muhammadiyah menerima bantuan ini menjadi batu ujian. Muhammadiyah mendapat kritik dari kiri kanan.

 
Pilihan Muhammadiyah menerima bantuan ini menjadi batu ujian.
 
 

Meski menerima bantuan, Muhammadiyah tetap kritis. Ketika pada 1935 pemerintah kolonial menetapkan pajak pemotongan hewan kurban, seperti yang telah disinggung di Nostalgia pekan lalu, 18 Juli 2021, Muhammadiyah memprotesnya.

Jauh sebelumnya, Muhammadiyah telah melakukan gerakan filantropi lewat Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Komite bantuan ini dibentuk pada 1918 setelah muncul Gunung Kelud meletus.

Kampanye pun dilakukan di berbagai kesempatan. Pada Februari 1924, misalnya, diadakan ceramah di Yogyakarta dengan pembicara dokter Soemawidigdo, membahas kewajiban menolong dan menjaga kesehatan.

Pada 1941, PKO mulai menangani pendirian rumah yatim Muhammadiyah yang dua tahun sebelumnya, kepanitiaannya ditangani oleh beberapa anggota Muhammadiyah di Tanah Abang. Kepanitiaan ini mendapat dana sebesar 1.000 gulden yang telah dibelikan tanah di Karet, dari rencana 30 ribu gulden yang diperlukan.

Pada 1941 ini, kehidupan politik di Hindia Belanda sedang terkena imbas dari perang yang terjadi di Eropa dan kemungkinan pecahnya Perang Pasifik. Saat perayaan Idul Adha di awal 1942, seperti dilaporkan Indische Courant Januari 1942, ada seseorang di suatu daerah yang menyerahkan zakat --atas nama dia dan istrinya-- ke kontrolir pemerintahan kolonial.

Zakat itu dimaksudkan untuk mendukung pemerintah kolonial setelah Jepang menyerang Hindia Belanda. Kontrolir dengan senang hati menerimanya dan akan mengirimkannya ke Batavia.

 
Zakat itu dimaksudkan untuk mendukung pemerintah kolonial setelah Jepang menyerang Hindia Belanda.
 
 

Berita zakat Idul Kurban ini lantas mengundang Anwar Tjokroaminoto bereaksi. Di koran Pemandangan, ia menyatakan tidak keberatan jika ada yang bersedia mengorbankan hartanya untuk membantu peperangan, karena di zaman Nabi zakat juga pernah dipakai untuk perang. Namun, ia keberatan jika pengorbanan harta itu dibayarkan sebagai zakat Hari Raya Kurban.

Anwar tak memahami isi pikiran kontrolir dan pembayar zakat kurban itu. Pada Hari Raya Kurban, kurban dilakukan, hewan disembelih, dan tidak ada zakat yang harus dikeluarkan. Itu yang menurut Anwar yang dilakukan oleh Muslim, setidaknya jika orang itu ingin menjaga karakter perayaan Kurban.

Maka, bolehlah mengutip pepatah lama Belanda. “Batu ujian menguji emas, apakah itu baik atau buruk. Emas menguji hati manusia, apakah itu palsu atau benar”. Lalu bagaimana dengan pikiran manusia?

Pada 1849, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi menyebutkan doanya ketika memulai belajar mengaji, yaitu agar diberi batu uji sehingga tidak mendapat emas/perak lancungan. “Maka kebanjakan ketjualinja orang yang tiada berbatu-udji itu, terkena perkara jang demikian itu, tiada saksi jang menundjukkan baik djahat atau salah benarnja,” kata Abdulah di Hikajat Abdullah (Djambatan, 1953).

Kata GJ Mulder seperti dikutip Provinciale Overijsselsche en Zwolsche Courant, Agustus 1883, “Bukankah pikiran manusia adalah batu ujian?”


×